Kapal Pesiar MV Boudicca Sandar di Pelabuhan Ambon

KabarMakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) kedatangan “tamu istimewa” yaitu kapal pesiar MV Boudicca berbendera Bahamas yang sandar di Pelabuhan Ambon pada Minggu (19/1).

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang menuturkan bahwa kedatangan kapal pesiar yang saat ini mulai gencar di beberapa pelabuhan kelolaan merupakan salah satu upaya pihaknya dalam mewujudkan pengembangan pelabuhan untuk pariwisata.

“Sesuai rencana Kementerian Pariwisata yang pada tahun ini akan mendatangkan sekitar 20 juta wisatawan dan penetapan lokasi pariwisata baru,” jelas Farid.

Adapun kapal pesiar MV Boudicca yang memuat sekitar 800 hingga 920 penumpang itu tiba dan sandar di Pelabuhan Ambon pada pukul 07.00 WIT. Kapal pesiar ini berada di Ambon selama 9 jam, selanjutnya akan berlayar ke Bali.

Sebelum tiba di Ambon, MV Boudicca berlayar dari New Zealand kemudian ke Papua New Guinea.

Sebelumnya menurut Farid, sudah ada beberapa pelabuhan di Sulsel dan Papua yang juga telah kedatangan kapal pesiar.

Pada Jumat siang (17 Januari 2020), Kapal Cruise MV The World dengan GT 43.188 melakukan pelayaran perdana ke tanah Papua dan sandar di Pelabuhan Biak.

Kapal pesiar mewah The World milik ROW Management Ltd, yang berkantor pusat di Amerika Serikat tersebut memiliki panjang 196 meter dan lebar 60 meter.

Kapal Cruise MV The World yang tiba pada Jumat siang dengan mengangkut 286 orang kru dari 37 negara dan 195 orang penumpang yang berasal dari 19 negara ini sandar di dermaga Pelabuhan Biak hingga pukul 19.00 WIT.

MV The World memiliki 165 apartemen dan kepemilikan hak apartemen ditawarkan secara paket dengan harga termahal mencapai Rp200 miliar dan ada pula apartemen yang disewakan dengan durasi waktu pendek, dua pekan dengan tarif Rp255 juta.

MV The World adalah salah satu kapal pesiar termewah di dunia dan disebut “resident at sea” atau apartemen apung yang dijadwalkan berlayar selama 18 hari di Papua dan berakhir di Maluku. Perjalanan dilakukan dengan menyinggahi Biak, Raja Ampat dan akan berakhir di Banda Naira, Maluku pada 2 Februari 2020.

Hampir semua warga Biak yang melihat langsung kedatangan kapal pesiar mewah tersebut merasa bangga, ada hotel terapung megah yang sandar di Pelabuhan Biak. Kebanyakan warga juga berharap, kedepan akan lebih banyak lagi turis asing yang datang mengunjungi Biak dan melihat keindahan alam Biak.

Saat berada di Biak, para turis mancanegara mengunjungi Gua Binsari atau Gua Jepang dan memborong hasil kerajinan khas Biak yang dijual Mama-mama Biak di sekitar areal Gua Jepang dan selanjutnya mengunjungi Pasar Darfuar Biak sebelum kembali ke atas kapal dan meninggalkan Biak pada Jumat malam.

MS Europa Sandar di Parepare Selama 2 Hari

Pada Kamis dan Jumat (16 – 17 Januari 2020), Pelabuhan Parepare di Sulawesi Selatan juga kedatangan Kapal Cruise MS Europa berisi 327 wisatawan dari berbagai negara dan 285 kru kapal.

Selama 2 hari, kapal pesiar asal Bahamas ini sandar di Pelabuhan Nusantara Parepare dan selanjutnya berlayar ke Pulau Komodo.

Sebelumnya di penghujung 2019 lalu, tepatnya pada Minggu (29 Desember), Kapal pesiar asal Negeri Kanguru, Australia “Sun Princess” sandar di dermaga Pelabuhan Makassar dengan membawa sebanyak 2.107 penumpang yang berasal dari berbagai negara.

Saat itu, Dirut Pelindo IV, Farid Padang mengatakan bahwa kedatangan kapal pesiar yang keempat selama 2019 itu merupakan hadiah tahun baru bagi Perseroan.

Dia menuturkan, kali ini kapal pesiar yang sandar di Pelabuhan Makassar masih berkisar 8 jam. Kedepan pihaknya akan bekerjasama dengan instansi dan stakeholder terkait untuk membuat paket wisata agar kapal pesiar bisa bermalam atau paling tidak sandar selama 3 hari, sehingga para penumpang yang rata-rata adalah wisatawan asing dapat lebih lama lagi menikmati berbagai destinasi wisata yang ada di Sulawesi Selatan.

Pelindo IV Siap Dukung Rencana Semen Bosowa Bangun Packing Plant

KabarMakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) siap mendukung rencana PT Semen Bosowa yang akan membangun packing plant atau pabrik pengemasan di Pelabuhan Donggala, Sulawesi Tengah.

Hal itu dikatakan Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang saat menerima Perwakilan PT Semen Bosowa, Sumirlan untuk membicarakan lebih lanjut kerja sama pemanfaatan fasilitas silo semen di Pelabuhan Donggala, di Kantor Pusat Pelindo IV Makassar.

Farid Padang mengatakan salah satu bentuk dukungan dari pihaknya adalah dengan menyiapkan lahan untuk pembangunan packing plant tersebut. Pihaknya juga akan menyiapkan skema kerja sama yang tentunya akan menguntungkan kedua belah pihak.

Sistem kerja sama menurutnya akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. Disamping itu, selama ini Pelabuhan Donggala ditangani Pelindo IV sebagai kawasan bukan cabang. “Jika ada industri semen maka dapat membantu distribusi semen di Donggala pasca tsunami lalu.”

“Di Donggala ada dua pelabuhan, satu dikelola KSOP setempat dan satu dikelola oleh Pelindo IV. Secepatnya kami akan siapkan lahan di pelabuhan kelolaan untuk packing plant Semen Bosowa,” ujarnya.

Selain lahan lanjut Farid, pihaknya juga akan menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan.

Perwakilan PT Semen Bosowa,Sumirlan menuturkan bahwa saat ini telah ada kunjungan rutin kapal curah sebanyak 2 call per bulan dengan kapasitas 900 ton per call di Pelabuhan Donggala.

Beberapa waktu lalu katanya, tim PT Semen Bosowa bersama General Manager Pelindo IV Cabang Pantoloan telah mengunjungi lokasi di Pelabuhan Donggala.

Menurut Sumirlan, dalam waktu dekat pihaknya membutuhkan lokasi untuk penempatan jembatan timbang dan container office. “Kebutuhan itu sudah sangat mendesak,” ucapnya.

Dia mengatakan, pihaknya membutuhkan kedalaman draft yakni 7 sampai 8 –MSLWL dengan luas lahan 6.348 m2 (92 m x 69 m) dan kapasitas silo 5.000 m2 (2 x 2.500 m2).

Selain di Pelabuhan Donggala, pihak Semen Bosowa juga berencana membangun packing plant di Pelabuhan Kendari eksisting dan juga membutuhkan support lahan dan fasilitas dari Pelindo IV.

“Rencananya kapasitas silo di Pelabuhan Donggala sebesar 2.500 ton. Begitu pula dengan kapasitas silo di Pelabuhan Kendari nanti, yakni 2.500 ton juga. Tetapi untuk di Kendari, nanti akan kami bicarakan lebih lanjut lagi,” tukas Sumrilan.

Dukung Direct Call SeaLand, Pelindo IV Siapkan Konsolidasi Kargo

KabarMakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) siap mendukung logistik melalui konsolidasi kargo sehingga ada garansi untuk SeaLand (Maersk Line Group) yang akan melakukan direct call dan direct export dari pelabuhan yang dikelola Perseroan.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama Pelindo IV, Farid Padang saat menerima kunjungan Chief Operation Officer Headquarters SeaLand, Clive Van Onselen, Country Operations Lead Manager Operations Headquarters SeaLand, Amer Idris Khan dan Country Manager Indonesia SeaLand, Joshua Ng Jiang Hao di Kantor Pusat Pelindo IV Makassar.

Farid mengatakan bahwa saat ini potensi ekspor khususnya dari Kalimantan Timur cukup besar. Tercatat ada delapan perusahaan yang setiap bulan berkontribusi lumayan besar terhadap aktivitas ekspor di wilayah tersebut, di antaranya PT Balikpapan Forest Industri, PT Herman Group, PT Sumalindo Lestari Jaya, PT Linda Hanta Wijaya, PT Cipta Krida Bahari, PT Korindo dan PT Tirta Mahakam serta eksportir lainnya di wilayah Kaltim.

“Total kontribusi dari delapan perusahaan yang aktif melakukan kegiatan ekspor impor di wilayah Kaltim tersebut mencapai 783 box kontainer per bulan dengan komoditas yang dikirim berupa plywood, rumput laut, bungkil, spare part dan oli bekas yang dikirim dan juga didatangkan dari beberapa negara yakni Jepang, Korea, Shanghai dan China,” paparnya.

Dirut Pelindo IV menuturkan, hampir semua kegiatan ekspor impor di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara melalui Terminal Petikemas (TPK) Kariangau sebagai hub port dengan empat perusahaan pelayaran yang dilayani yaitu PT SPIL, Meratus, TemasLine dan PT Tanto Intim Line.

Menurutnya ada beberapa keuntungan yang didapat pengusaha dengan melakukan direct call dan direct export ke negara tujuan, dibandingkan harus melalui Jakarta atau Surabaya. “Yakni ada efisiensi biaya sebesar kurang lebih 50%, terjadi efisiensi waktu antara 9 – 15 hari, barang tidak rusak karena tidak lagi ada double handling, serta dapat meningkatkan PAD karena Surat Keterangan Asal (SKA) barang diterbitkan oleh daerah asal,” sebutnya.

Farid menambahkan, selama ini Makassar selalu menjadi hub untuk direct call dan direct export dari Kawasan Timur Indonesia (KTI). Kedepan, dengan direct call yang dilakukan SeaLand dari Terminal Petikemas Kariangau, maka akan ada tiga pelabuhan kelolaan Pelindo IV yang melakukan kegiatan pelayaran langsung ke luar negeri.

“Yaitu Makassar New Port (MNP), Terminal Petikemas Makassar (TPM) dan Terminal Petikemas Kariangau, sehingga kompetisi kegiatan ekspor juga akan terbagi dan volumenya jadi bertambah.”

Sementara itu, Country Manager Indonesia SeaLand, Joshua Ng Jiang Hao mengutarakan bahwa maksud dan tujuan kunjungannya bersama tim dari Headquarters SeaLand adalah untuk bersilaturahmi sekaligus menyampaikan bahwa pihaknya akan melaksanakan direct call dan direct export dari Pelabuhan Balikpapan, Kaltim Kariangau Terminal (KKT) dan lainnya.

“Rencananya direct call dan direct export akan dilakukan pada akhir Februari atau awal Maret tahun ini,” kata Joshua.

Pihaknya juga berencana melakukan peningkatan kerja sama untuk meningkatkan kegiatan ekspor impor di wilayah Pelindo IV.

Investasi Perikanan di Merauke, Pelindo IV Tanam Modal Rp 89,75 M

Kabarmakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) pada tahun ini menanam modal usaha sebesar Rp89,75 miliar untuk investasi perikanan Phase II di Pelabuhan Merauke.

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengatakan jumlah modal yang disiapkan tersebut akan digunakan untuk pembangunan container yard (CY), pembangunan cold storage, pengadaan reefer plug, pengadaan alat bongkar muat, pengadaan conveyor dan pembangunan jalan akses.

“Investasi tersebut juga untuk optimalisasi ekspor dengan integrasi antar pelabuhan,” sebut Farid.

Sebelumnya kata dia, Perseroan sudah melakukan revitalisasi di pelabuhan yang terletak di Provinsi Papua ini dengan menggunakan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp104 miliar.

“Anggaran tersebut digunakan untuk membangun dermaga, juga membangun satu unit pondasi fix crane,” jelasnya.

Selain itu, anggaran PMN yang dikucurkan tepat diakhir Desember 2016 itu juga digunakan untuk pengadaan 2 unit fix crane dan melakukan peningkatan kapasitas sebesar 233% dari sebelumnya hanya 30.000 TEUs menjadi 100.000 TEUs per tahun yang pengerjaannya dikebut hanya dalam waktu 2 tahun.

“Di akhir 2018 lalu proyek revitalisasi Pelabuhan Merauke menggunakan dana PMN sudah rampung 100% dan kini sudah dioperasikan,” tuturnya.

Pada 2019 lalu lanjut Dirut Pelindo IV, pihaknya juga melakukan optimalisasi pengembangan pelabuhan di lokasi eksisting, yakni dengan melakukan pembuatan mooring dolphin dan catwalk. Serta pengerukan di area dengan volume sebesar 300.000 meter kubik (m3).

“Proyek ini sudah dimulai pada tahun lalu dan diharapkan rampung pada 2020,” ujarnya.

Seperti diketahui, Pelabuhan Merauke merupakan satu dari tujuh pelabuhan yang akan ditingkatkan statusnya menjadi pelabuhan petikemas selain integrasi dengan pelabuhan perikanan untuk konsolidasi ekspor hasil perikanan.

Region Sulawesi Sumbang Rp1,42 Triliun Terbesar Pendapatan Pelindo IV

Kabarmakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) berhasil meraih pendapatan sebesar Rp3,89 triliun pada 2019 dengan penyumbang pendapatan terbesar atau 36,69 persen berasal dari Region Sulawesi.

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang menegaskan bahwa Region Sulawesi menjadi penyumbang terbesar dari total pendapatan Pelindo IV tahun lalu, yakni sebesar Rp1,42 triliun.

“Menyusul Region Kalimantan dengan perolehan pendapatan sebesar Rp1,19 triliun, kemudian Anak Usaha sebesar Rp569 miliar, Region Papua sebesar Rp453 miliar dan Region Maluku dengan jumlah pendapatan sebesar Rp250 miliar,” rinci Farid.

Berdasarkan segmentasi kegiatan menurutnya, petikemas merupakan segmen pendapatan terbesar bagi Pelindo IV dengan pencapaian 39,24 persen atau sebesar Rp1,52 triliun. Lalu segmentasi kegiatan kapal sebesar Rp1,21 triliun, kegiatan lain-lain sejumlah Rp749 miliar dan pendapatan dari non petikemas senilai Rp403 miliar.

Farid menuturkan, hingga semester I tahun ini pihaknya masih akan mendatangkan sejumlah alat guna mendukung aktivitas bongkar muat di pelabuhan dan tentunya untuk menambah jumlah pendapatan Perseroan.

“Tahun lalu kami sudah membelanjakan sejumlah modal usaha untuk mengadakan alat yang ditempatkan di beberapa pelabuhan, di antaranya di Makassar New Port (MNP), Pelabuhan Bitung, Pantoloan dan Pelabuhan Sorong.”

Hingga Juni 2020 nanti lanjutnya, Perseroan masih akan mendatangkan sebanyak 23 unit alat yakni Container Crane (CC) Panamax, Head Truck 6×4 dan chassis, Tronton, Reach Stacker (RS), Speed Boat dan Rubber Tired Gantry (RTG) yang akan ditempatkan antara lain di MNP, Terminal Petikemas Bitung (TPB), Pelabuhan Kendari, Ternate, Sorong, Parepare, Tolitoli, Nunukan, Merauke, Manokwari, Jayapura dan Terminal Petikemas Makassar (TPM).

Dirut Pelindo IV berharap selain untuk menambah kas perusahaan, alat yang akan didatangkan nanti juga bisa mendukung rencana Perseroan yang menjadikan tahun ini sebagai tahun produksi.

Pelabuhan Sorong Kini Layani Direct Call dan Export

Kabarmakassar.com– Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero), Farid Padang mengapresiasi pencapaian kinerja dari seluruh karyawan dan staf BUMN yang bergerak dibidang jasa kepelabuhanan ini.

“Kita semua patut bersyukur bahwa beberapa proyek yang dikerjakan pada tahun 2019 semuanya rampung sesuai target. Salah satu proyek pelabuhan yang kelar di 2019 lalu dan juga mulai dioperasikan adalah Pelabuhan Sorong,” jelas Farid.

Dirut Pelindo IV mengemukakan bahwa pembangunan Pelabuhan Sorong menggunakan anggaran Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp270 miliar sebenarnya sudah rampung sejak 2018 lalu. Anggaran itu digunakan untuk melakukan reklamasi dan penahan tanah seluas 5 hektare, perkerasan lapangan penumpukan petikemas 5 ha dan pembangunan dermaga 250 x 30 meter persegi dengan kedalaman -16 M LWS.

“Dengan pekerjaan tersebut, kapasitas terminal petikemas di Pelabuhan Sorong telah ditingkatkan menjadi 350.000 TEUs dari sebelumnya hanya 50.000 TEUs per tahun,” terangnya.

Pada 2019 Pelindo IV kembali menanam modal usaha yang berasal dari kas Perseroan sebesar Rp480 miliar, yang juga digunakan untuk membangun fasilitas pelabuhan dan melakukan pengadaan sejumlah alat di pelabuhan yang merupakan pintu gerbang perdagangan laut di wilayah barat Pulau Papua ini.

Proyek pembangunan yang dilakukan pada tahun lalu kini juga telah rampung 100 persen dan mulai dioperasikan. Farid menuturkan, pihaknya sangat mengapresiasi dengan mulai beroperasinya Pelabuhan Sorong usai direvitalisasi karena dengan begitu, dwelling time di pelabuhan tersebut kini menjadi hanya 3 hari dari sebelumnya 10 hari, dengan dukungan peralatan yang sudah elektronik dan elektrifikasi.

“Saat ini Pelabuhan Sorong juga sudah melayani empat pelayaran domestik dan satu pelayaran internasional. Sebelumnya hanya 3 pelayaran domestik dan belum melayani pelayaran internasional,” bebernya.

Dia menambahkan dengan melayani pelayaran internasional, Pelabuhan Sorong sudah bisa melakukan direct call dan direct export dari pelabuhan yang memiliki terminal penumpang dan petikemas yang menghubungkan perdagangan di wilayah Kepala Burung dengan wilayah lain di Indonesia ini.

Satu yang juga menjadi nilai plus dari Pelabuhan Sorong adalah, terhubung dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang juga sudah resmi beroperasi sejak Oktober 2019. “Jarak antara pelabuhan dengan KEK Sorong hanya 32 km,” tukas Farid.

Pelindo IV Bakal Bantu UKM Tembus Ekspor

Pelindo IV (Int)

KabarMakassar.com — Kamis (2/1/2020) PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) telah menyalurkan total bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk Program Kemitraan dan Dana Bina Lingkungan (PKBL) sebesar Rp15,78 miliar selama 2019. Tahun ini bantuan akan diberikan kepada pelaku ekspor.

Terutama Bagi UKM. Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengatakan, tahun ini pihaknya akan mengadakan penyaluran bantuan untuk UKM yang bergelut di bidang ekspor komoditas dan UKM di bidang pariwisata.

“Guna meningkatkan kapasitas dan kinerja usaha mikro kecil dan menengah,” ujarnya, kemarin.

Tak hanya menyalurkan bantuan, Pelindo IV juga selalu mengadakan pelatihan untuk para petani, peternak, dan UKM lainnya yang telah mendapatkan bantuan program kemitraan.

Seperti pelatihan yang digelar bekerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Makassar kepada Kelompok Peternak Unggas di Hotel Citadines, Makassar, Sulsel, belum lama ini.

Menurut Farid, dari total Rp15,78 miliar bantuan tahun 2019 itu, terbagi untuk Program Kemitraan sebesar Rp10,75 miliar. Kemudian Bina Lingkungan Per November ber jumlah Rp5,03 miliar.

Lanjutnya, untuk Bina Lingkungan, Pelindo IV rata-rata menyalurkan bantuanuntuk sarana ibadah, serta sarana dan prasarana umum lainnya.

Pelindo IV Salurkan CSR PKBL Rp15,78 Miliar di Tahun 2019

Kabarmakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) telah menyalurkan total bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) sebesar Rp15,78 miliar selama 2019.

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengatakan bahwa jumlah itu terbagi untuk Program Kemitraan sebesar Rp10,75 miliar dan Bina Lingkungan per November 2019 sejumlah Rp5,03 miliar.

“Untuk Bina Lingkungan, [Pelindo IV] rata-rata menyalurkan bantuan untuk sarana pendidikan, sarana ibadah serta sarana dan prasarana umum lainnya. Sedangkan untuk Program Kemitraan, kami menyalurkan bantuan kepada UKM secara cluster dengan jenis usaha di bidang perikanan, peternakan, pertanian dan rumput laut,” jelasnya

Dia menyebutkan, untuk Program Kemitraan, pihaknya menyalurkan bantuan kepada para petani, peternak dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang ada di beberapa wilayah di Sulsel yakni Takalar, Sidrap dan Palopo, serta di Baubau, Sultra dan di Samarinda, Kaltim.

Sedangkan untuk bantuan Bina Lingkungan, penyalurannya di seluruh wilayah Pelindo IV yaitu Sulsel, Sulteng, Sulut, Sultra, Gorontalo, Kaltim, Kaltara, Maluku, Maluku Tengah, Papua dan Papua Barat.

Farid menambahkan, di 2020 nanti pihaknya juga akan mengadakan penyaluran bantuan untuk UKM yang bergelut dibidang ekspor komoditas dan UKM dibidang pariwisata, untuk meningkatakan kapasitas dan kinerja Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Tak hanya menyalurkan bantuan, namun menurut Farid pihaknya juga selalu mengadakan pelatihan untuk para petani, peternak dan UKM lainnya yang telah mendapatkan bantuan Program Kemitraan.

Seperti pelatihan yang digelar PT Pelindo IV bekerjasama dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Makassar kepada Kelompok Peternak Unggas di Hotel Citadines, Makassar, Selasa 17/12/2019.

Dilansir dari salah satu media daring, pelatihan itu diikuti oleh 17 peternak ayam dari Kelompok Peternak Unggas Perkasa. Para peternak tersebut sebelumnya telah mendapatkan pembiayaan dari PT Pelindo IV, yang disalurkan melalui PNM Makassar dengan total mencapai Rp2,5 miliar pada 2017 lalu.

Sebagai mitra binaan, para peternak ini mendapatkan pembiayaan dan pembinaan melalui pelatihan dan pendampingan.

Corporate Secretary PT Pelindo IV, I M. Herdianta menuturkan bahwa pelatihan ini digelar agar pembiayaan yang diterima peternak bisa dimanfaatkan secara optimal untuk membantu pengembangan usahanya, serta bisa dikembalikan tepat waktu.

“Kualitas pembiayaan merupakan hal yang penting agar dana tersebut bisa bergulir untuk UKM yang lainnya,” ucapnya (31/12).

Materi yang disampaikan dalam pelatihan ini berupa cara pemeliharaan ayam pedaging dan cara meningkatkan penjualan melalui pemasaran online.

Dari pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta dalam mendukung kemajuan usaha peternakannya. Manajemen Pelindo IV juga berharap melalui kerja sama dengan PT PNM, dana kemitraan dan bina lingkungan akan memberikan hasil yang maksimal karena adanya keterpaduan antara pembiayaan dan pembinaan, sekaligus sebagai wujud sinergi antara kedua BUMN tersebut.

Pada kerja sama ini, PNM Cabang Makassar berperan membantu menyiapkan calon mitra binaan dalam hal ini para peternak ayam pedaging yang ada di Kota Makassar.

PNM juga menyiapkan pola pembiayaan serta melakukan capacity building melalui pelatihan dan pendampingan.

Menurut Herdianta, PNM menyiapkan calon mitra binaan melalui pendekatan kelompok, dengan harapan proses pembiayaan dan pembinaan akan lebih efisien karena dilakukan secara bersama-sama.

“Karena pendekatannya kelompok maka pola pembiayaannya menerapkan sistem tanggung renteng, dimana para pelaku UKM yang tergabung dalam satu kelompok akan menanggung risiko secara kolektif,” tukasnya.