Tire Komoditi Baru yang Dikembangkan Petani Palangka

KabarMakassar.com — Matahari menampakkan sinarnya dari ufuk timur pertanda pagi sudah menyapa. Semua bersiap-siap melakoni aktivitas sehari-hari sesuai dengan profesi yang digelutinya. Para ASN tentu bersiap ke kantor masing-masing.

Sementara petani sebelum berangkat ke lahannya tak lupa sebatang rokok dan segelas kopi.

Petani dengan segala potensi dan keterbatasan yang dimilikinya sebagian menanam apa saja tanaman yang lagi trending di kalangan mereka. Jika prospek cengkeh mulai bagus dan coklat mulai berpenyakitan, maka coklatnya dibabat habis dan kemudian ditanami cengkeh.

Sehingga petani menggunakan pola campur sari di kebunnya.

Dan kini sedang di kembangkan tanaman Morphopallus Onchopillus atau yang lebih di kenal dengan nama Tire oleh masyarakat Bugis Sinjai khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya.

Di daerah lain tanaman ini dikenal dengan ‘Maja’ oleh masyarakat Bima, NTB, Porang (Jawa), Iles-iles (Sunda). Tanaman yang berbau busuk dan getahnya gatal, tetapi setelah laku di pasaran, para petani berlomba-lomba menanamnya.

Tanaman Tire mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh seperti di bawah pohon jadi dan mahoni. Tanaman Tire membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40 persen.

Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 700 M dpl. Namun yang paling bagus pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 – 600 Mdpl.

Meski dulunya dianggap sebagai tanaman gulma, akan tetapi diketahui memiliki banyak kegunaan seperti untuk bahan lem, jelly, mie, canyaku atau tahu, felem, pembungkus kapsul, penguat kertas. Jika di telusuri di internet, komoditi Tire atau Porang ini ternyata di ekspor ke Tiongkok dan Jepang.

Harga tire dikalangan pengemul pada tahun 2019,Rp 5ribu per kilogram dan diawal 2020 naik Rp 2 Ribu menjadi Rp 7 Ribu.

Dipertengahan tahun 2019 salah seorang petani bahkan mendapatkan penghasilan sebesar Rp 500 Ribu dari penjualan bibit Tire.

Appe (21) mengatakan hasil penjualan bibit tire tahun lalu sekitar Rp 500 Ribu dan kini sedang mengembangkan tanaman tersebut di kebunnya.

“Saya juga menanam Tire supaya dapat mengangkat ekonomi keluarga, semoga tidak seperti ji vanili, awalnya berlomba-lomba orang tanam setelah lama-kelamaan mulai tenggelam,” ungkapnya Jumat (17/1).

Sementara itu, Umar (35) warga Palangka mengutarakan jika tahun lalu tidak menanam hanya mengamati dulu petani lain apakah tumbuhji yang ditanam atau tidak.

“Kuliat-liat jhi tahun lalu orang mattanam dan setelah melihat videonya di Youtube ternyata tire di ekspor ke Cina dan Jepang bukan hoaks. Jadi sekarang saya juga mau kembangkan di kebun yang ada di Palimping,” ungkapnya.

Berdasarkan pengamatan kabarmakassar di Desa Palangka sedang hit dibicarakan dan juga ditanam secara masif oleh petani setempat.

Bahkan sebelum tire jadi trending topik, petani membiarkan saja orang lain mengambil, namun setelah laku dengan harga Rp 7 Ribu mereka mengawasi kebunnya.