Sepanjang 2019, Inflasi Sulsel Melampaui Target Hingga 2,35 Persen

KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi selama Desember 2019 sebesar 0,04 dengan angka Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 139,08.

Sementara itu untuk bulan Januari hingga Desember 2019 inflasi Sulawesi Selatan dinilai lebih rendah dengan presentase sekitar 2,35% dibandingkan dengan tingkat nasional yang sebesar 2,72%.

Seperti yang diungkapkan oleh Kepala BPS Sulawesi Selatan Yos Rusdiansyah bahwa salah satu faktor yang memengaruhi inflasi yakni dari Komuditas Bahan Pokok (Bapok).

“Perdesember 2019 inflasi berasal dari komuditas bahan pokok misalnya telur ayam ras disusul penggunaan moda transportasi udara dan angkutan kota hingga tarif pangkaa rambut untuk pria.” ucapnya saat ditemui di Kantor BPS Jl. Haji Bau Makassar, Sulsel, (3/1).

Menurutnya kondisi tersebut menunjukkan penyambutan tahun baru tidak disikapi berlebihan oleh masyarakat Sulsel.

“Sementara cabai rawit, bawang merah dan ikan bandeng yang umumnya menjadi langganan inflasi justru terjadi penurunan harga.” lanjutnya.

Lebih lanjut, Yos menuturkan Kabupaten Bulukumba tercatat menjadi Kabupaten dengan tingkat inflasi tertinggi di Sulawesi Selatan sebesar 0,18% dengan nilai IHK 144,75. Sedangkan kota Pare pare tercatat justru mengalami deflasi sebesar 0,10% dengan nilai IHK 131,91.

Dengan terjadinya penurunan inflasi dari target nasional sebesar 3,5 menunjukkan adanya konsistensi dan kerja nyata yang telah dilakukan oleh berbagai stackholder dan pemangku kebijakan di Sulawesi Selatan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat Sulsel.

Awal Tahun Harga Emas Naik

KabarMakassar.com — Awal tahun 2020 harga emas terus naik. Harga emas telah menyentuh level tertingginya dalam empat minggu terakhir.

Dikutip dari CNBC, harga emas internasional naik 0,1 persen menjadi US$1.530,35 per ons pada perdagangan hari ini. Harga emas terus merangkak naik dalam empat minggu terakhir hingga menyentuh harga tertinggi sejak 25 September 2019.

Dilansir dari situs Logam Mulia, Jumat 3 Januari 2020, harga emas Antam hari ini naik Rp4.000 menjadi Rp773 ribu per gram dari perdagangan hari sebelumnya yang ditetapkan Rp769 ribu per gram.

Sedangkan harga pembelian kembali atau buyback juga naik ditetapkan Rp683 ribu per gram, atau naik Rp5.000 dibandingkan perdagangan kemarin.

Dikutip dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga emas berdasarkan ukuran, emas lima gram Rp3,68 juta, 10 gram Rp7,28 juta, 25 gram Rp17,03 juta, dan 50 gram Rp35,95 juta.

Kemudian, emas 100 gram dibanderol Rp70,39 juta, 250 gram Rp177,08 juta, dan emas 500 gram Rp349,37 juta.

Selanjutnya, untuk ukuran emas terkecil dan terbesar yang dijual Antam pada hari ini, yaitu 0,5 gram dibanderol Rp415,5 ribu dan 1.000 gram sebesar Rp708,6 juta.

Untuk produk Batik all series, ukuran 10 gram dan 20 gram dipatok masing-masing Rp7,9 juta dan Rp15,25 juta.

Adapun bagi pembelian emas hari ini, Antam mencatat untuk ukuran 0,5 gram, dua gram, tiga gram, 250 gram, 500 gram, dan 1.000 gram hanya tersedia di butik logam mulia.

BPS Mencatat Inflasi Desember 2019 Capai 0,34 Persen

KabarMakassar.com — Catatan Inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) pada Desember 2019 sebesar 0,34 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender dari Januari hingga Desember 2019 atau secara tahun ke tahun menjadi sebesar 2,72 persen .

Kepala BPS, Suhariyanto, mengungkapkan pemantauan Indeks Harga Konsumen atau IHK yang dilakukan di 82 kota. Dia menyebutkan terjadi inflasi di 72 kota, sedangkan 10 kota mengalami deflasi. Akibatnya, pada bulan tersebut terjadi kenaikan rata-rata harga konsumen.

“Jadi kalau kita bandingkan dengan target yang ada, jauh di bawah tiga persen,” ujar Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Kamis, (2/1/2020). Dikutip dari Vivanews.com.

Dia menjabarkan, inflasi tertinggi terjadi di Batam sebesar 1,28 persen, sedangkan yang terendah di Watampone sebesar 0,01 persen. Sementara itu, kota yang mengalami deflasi tertinggi, yakni Manado sebesar 1,88 persen dan yang terendah terjadi di Bukittinggi dan Singkawang sebesar 0,01 persen.

“Yang membuat Batam inflasi tinggi adalah angkutan udara. Pada Desember menyumbang 0,37 persen jadi inflasi ini akan diwarnai permintaan karena Natal, persiapan Tahun Baru dan liburan,” kata Suhariyanto.

Berdasarkan komponennya, inflasi inti pada bulan itu tercatat sebesar 0,11 persen, dengan andil 0,06 persen. Selanjutnya, untuk harga-harga bergejolak mengalami deflasi 0,86 persen, dengan andil 0,16 persen.

Sementara itu, untuk harga-harga yang diatur oleh pemerintah atau administered price mengalami inflasi sebesar 0,63 persen dengan andilnya terhadap inflasi 0,12 persen.

“Inflasi tertinggi terjadi untuk volatile price. Dengan demikian inflsi pada tahun 2019 adalah sebesar 2,72 persen,” tutur Suhariyanto.