Jokowi Ingatkan Doni, Tugas Besar Belum Berakhir

KabarMakassar.com — Presiden Joko Widodo meninjau secara langsung kantor Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, pada Rabu, 10 Juni 2020. Saat memberikan arahan, Presiden mengapresiasi kerja keras seluruh jajaran Gugus Tugas dari pusat hingga tingkat terbawah.

“Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Gugus Tugas baik di tingkat pusat sampai ke daerah, sampai Gugus Tugas di desa, RT, maupun RW, dan juga seluruh tenaga medis, dokter, perawat, relawan, personel Polri dan seluruh prajurit TNI yang telah bekerja keras tak kenal waktu dengan penuh dedikasi dan pengabdian untuk pengendalian Covid,” kata Presiden.

Meski demikian, Kepala Negara mengingatkan bahwa tugas besar belum berakhir karena ancaman Covid-19 masih ada. Kondisi terkait Covid-19 juga dinilai masih dinamis di setiap daerah.

“Ada banyak daerah yang kasus barunya turun, tapi juga ada beberapa daerah yang kasus barunya justru meningkat, ada daerah yang juga sudah nihil. Perlu saya ingatkan jangan sampai terjadi gelombang kedua atau second wave. Jangan sampai terjadi lonjakan. Ini yang ingin saya ingatkan kepada kita semuanya,” jelasnya.

Menurut Presiden, situasi seperti saat ini akan terus dihadapi sampai vaksin ditemukan dan bisa digunakan secara efektif setelah melalui berbagai tahapan uji. Oleh sebab itu, Presiden menyebut bahwa masyarakat harus bisa beradaptasi dengan kondisi tersebut dengan menerapkan kebiasaan baru agar aman dari Covid-19.

“Adaptasi kebiasaan baru dan beradaptasi itu bukan berarti kita menyerah, apalagi kalah. Tapi kita harus mulai dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang sesuai dengan protokol kesehatan sehingga masyarakat produktif tapi tetap aman dari penularan Covid,” paparnya.

Adaptasi kebiasaan baru tersebut, lanjut Presiden, harus dilakukan dengan hati-hati serta merujuk pada data-data dan fakta-fakta lapangan. Presiden juga meminta agar data-data yang komplet yang telah dimiliki oleh Gugus Tugas agar disampaikan ke daerah.

“Saya minta nanti kalau data-datanya sudah sebagus itu, setiap hari diberikan peringatan kepada daerah-daerah yang kasusnya tertinggi atau kasusnya meningkat, atau kematiannya tertinggi sehingga semua daerah memiliki kewaspadaan yang sama dalam penanganan di lapangan,” ungkapnya.

“Kita juga telah menggunakan indikator-indikator yang lengkap berbasis scientific, sesuai dengan standar WHO, untuk menganalisa data-data dari daerah,” imbuhnya.

Turut mendampingi Presiden saat meninjau Graha BNPB antara lain Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo.

Teken MoU, MUI-BNPB akan Libatkan Ulama Edukasi New Normal

Kerjasama itu tertuang dalam penandatangan MoU bersama Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Senin (8/5).
 
Nota kesepamahan ini ditandangani langsung Kepala BNPB, Letnan Jenderal Doni Monardo bersama Wakil Ketua Umum MUI, KH Muhyiddin Junaidi.    
 
Menurut Doni Monardo, MoU ini sangat penting untuk menghadapi Covid-19, apalagi saat ini sudah memasuki era new normal.

“MoU ini sangat penting bagi kita sebagai bangsa Indonesia untuk menghadapi Covid-19 ini,” tutur dia di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Senin (8/6).  
 
Doni menjelaskan bentuk kerjasama yang sangat diharapkan dari para ulama adalah bagaimana  MUI lewat pada ustadz, dai di berbagai daerah bisa menyampaikan pesan tentang pentingnya protokol kesehatan.
 
“Supaya masyarakat kita tahu bahwa mengabaikan protokol kesehatan berisiko pada ancaman kesehatan,” kata dia.     
 
Lebih lanut Doni mengatakan, untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 ini masyarakat perlu memperbaiki perilakunya, lebih taat kepada aturan dan lebih patuh kepada protokol kesehatan.
 
Namun, menurut dia, protokol kesehatan ini terkadang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. 
Karena itu, untuk menghadapi Covid-19 dia menekankan pentingnya selalu menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.
“Ketiga bagian penting inilah yang harus kita lakukan selama Covid ini masih ada, selama wabah ini masih menjadi ancaman,” ujar Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 ini. 
 
Dia menambahkan, melalui kerjasama dengan MUI ini diharapkan nantinya para ulama bisa menyampaikan pentingnya protokol kesehatan itu setiap saat, baik di lingkungan pendidikan formal maupun di pendidikan non formal seperti pesantren. 
 
“Sehingga masyarakat kita yang mayoritas Islam ini betul-betul bisa memahami karena yang menyampaikannya adalah ulama,” katanya. 
 
Doni yakin masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam sangat patuh dan taat terhadap para ulama. Semakin banyak tokoh-tokoh Islam yang menyampaikan pesan pentingnya protokol kesehatan, sehingga bangsa akan semakin cepat mengatasi Covid-19. “Inilah yang menjadi harapan kami semua,” ujar dia.   
 
Sementara itu, Kiai Muhyiddin Junaidi mengatakan, MUI merasa tersanjung telah diberikan kepercayaan oleh BNPB untuk membantu memutus mata rantai penularan Covid-19 di Indonesia.
 
Dengan ditandanganinya MoU ini, menurut dia, MUI memiliki beberapa kewajiban yang di antaranya menyiapkan materi khutbah atau ceramah untuk menghadapi Covid-19.   
 
Kiai Muhyiddin menjelaskan, kewajiban dari MUI antara lain adalah menyiapkan materi khutbah, ceramah dan juga tausiyah kepada masyarakat apabila dalam kondisi musibah harus memperbanyak bersabar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 
Dia mengatakan, kedepannya MUI juga akan meminta saran kepada BNPB untuk meningkatan kedisiplinan umat Islam dalam menghadapi Covid-19 ini.
 
Dia juga berharap para ulama nantinya lebih disiplin lagi seperti halnya tentara dalam menghadapi pandemi tersebut.  “Mudah-mudahan disiplin tentara ini dapat ditularkan kepada alim ulama. Dan kalau dua-duanya dilakukan insyaAllah upaya kita bisa memberantas Covid-19 dan terputus mata rantainya,” ujar dia.
 
Sementara itu,  Sekretaris Satgas Covid-19 MUI, KH Cholil Nafis, menjelaskan penandatanganan MoU antara MUI dan BNPB ini bertujuan mempererat hubungan untuk penanggulangan bencana. Kerjasama ini nantinya akan memprioritaskan penanggulangan pandemi Covid-19.   
 
Namun, menurut dia, MUI kedepannya juga akan membantu BNPB untuk menanggulangi bencana lainnya, seperti bencana konflik maupun bencana alam. Karena itu, Kiai Cholil berharap para dai kedepannya bisa menjadi pahlawan kemanusiaan. 
 
“Harapannya, para dai menjadi pahlawan kemanusiaan untuk menyelamatkan umat dari bencana memberi pelajaran dan kesadaran umat untuk mematuhi protokol kesehatan,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI ini. (Rilis/Divisi Media Satgas Covid-19 MUI).

Doni Manardo: Warga Sulsel yang Sembuh Bantu Donorkan Plasma Darahnya

KabarMakassar.com — Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat, Doni Monardo, mengajak para survivor atau penyintas Covid-19 untuk dapat ikut berperan serta dalam menyembuhkan pasien Covid-19 di Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka adaalah orang yang pernah terinfeksi Covid-19 dan sudah sembuh.

Partisipasi yang diberikan adalah dengan memberikan plasma darah (convalescent) kepada mereka yang masih sakit atau terpapar.

“Saya mengajak masyarakat Sulsel yang sudah sembuh, 673 orang hendaknya bisa berpartisipasi menyumbangkan dan mendonorkan plasmanya kepada tim kesehatan supaya bisa mengobati pasien sakit berat atau yang kritis,” kata Doni di Balai Manunggal Makassar, Minggu, (7/6) kemarin.

Pada kesempatan ini, Doni juga menyerahkan 18 kantong darah kepada Ketua Gugus Tugas Covid-19 Sulsel, Prof HM Nurdin Abdullah.

Sementara itu, Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, mengatakan, menekan angka kematian di Sulsel sangat penting. Terapi plasma ini dapat digunakan di rumah sakit yang ada.

“Saya memperhatikan, case fatality rate, dimana angka ini sangat penting, karena itu saya membawa plasma convalescent untuk bisa dipakai di rumah sakit, dan itu bentuk terapi gotong royong. Artinya yang sehat, merelakan memberikan plasmanya untuk yang sakit berat sehingga bisa diselamatkan,” ujarnya.

Lanjutnya, plasma ini sudah masuk dalam riset by services dunia. Sudah didaftarkan 29 Mei lalu, sehingga resmi diterima. Seluruh dunia juga bersama-sama melakukan terapi convalescent ini.

Plasma ini diharapkan bisa membantu pasien yang kritis, sehingga terbebas dari kematian. Sekaligus diharapkan mendorong masyarakat Sulsel yang sudah diberikan karunia sembuh untuk merelekan memberikan plasmanya didonorkan.

“Ini bisa dibayangkan, kami membawakan plasma teman-teman yang sehat dari Jakarta, kita perbantukan untuk Sulsel, inikan sebuah keindahan,” imbuhnya.

Plasma yang juga dibawanya ke Surabaya, ternyata mampu memancing 20 penyintas lain untuk mendonorkan plasmanya. Dan langkah ini juga diikuti di Malang.

“Mudah-mudahan ini bisa diterapkan di Makassar, khususnya di Sulsel ini, sehingga angka fatalitynya bisa menurun. Menurunkan angka kematian. Selain obat-obatan sudah didrop, obat-obatan panduan nasional, maupun menurut WHO sudah kita berikan, tambahan terapi baru ini untuk mensupportnya,” harapnya.

“Ketupat Semangat” untuk Wisma Atlet dari Doni Monardo

Catatan Egy Massadiah (Tenaga Ahli BNPB dan anggota Gugus Tugas PP Covid-19)

USAI sholat Idul Fitri bersepuluh orang di Lantai 15 Graha BNPB, (24 Mei 2020) kami sedikit lebih rileks. Tidak digedor pekerjaan dan agenda menerima tamu seperti hari-hari sebelumnya. Tak heran jika Doni mengatakan, “Hari ini sepertinya tidak ada jadwal. Silakan kalau mau nengok rumah.” Atas dasar pula, sejumlah staf inti pulang, setidaknya satu malam merasakan tidur di rumah.

Apa daya, itu semua tak terjadi. Baru nemplok di rumah, telpon sudah berdering, langsung dari Letjen Doni.

Saya bergegas kembali ke kantor. Beberapa teman yang tadi sempat pulang bersama-sama, juga sudah nongol. Ekspresinya macam-macam. Ada yang datar-datar saja. Ada yang saling pandang, lalu tersenyum. Ada yang begitu ketemu, langsung tertawa. “Rumah aman. Laporan selesai,” sambut tawa mereka.

Drama pun kami akhiri dengan bekerja kembali. Sebagian menyiapkan materi rapat. Desk relawan menghubungi Resto Hoka-hoka Bento memesan paket makanan untuk besok kami bawa ke Wisma Atlet, sebagai buah tangan kepada para pasien dan petugas di sana. Jumlah Hokben yang dipesan 4.000 porsi.

Koordinator Tim Relawan Gugus Tugas Covid-19, Andre Rahadian juga langsung bergerak. Ia juga menyiapkan kambing guling, opor ayam, ketupat, dan soto untuk 1.500 orang di Wisma Atlet Kemayoran. Pendek kata, semua tenggelam dalam pekerjaan. Rasa kue barongko dan coto Makassar tadi pagi, pun sudah lupa.

Esok harinya, ya hari kedua Lebaran kami menyertai Doni Monardo ke RS Wisma Atlet, Kemayoran. Di sana, Doni keliling meninjau ruang uji klinis, ruang obat-obatan, juga ruang para pasien. Tak lupa, ia juga menengok ruang gizi dan farmasi.

(IST)

Soal pembuangan limbah juga jadi perhatian Doni Monardo. Doni juga mengecek APD, ada tipe premiun dan bukan premium. Tak lupa ia berpesan agar para dokter harus mengenakan APD seri premium. Satu hari, tak kurang dari 600 APD dibutuhkan di sini.

Bahkan Doni sempat juga menanyakan kiriman 100 kg aneka ikan segar dari Ambon beberapa waktu lalu. Suasana pun jadi cair, dengan silang-komentar tentang lezatnya ikan itu. Mereka bercerita betapa para pasien dan para medis senang dengan menu surprise kiriman Doni.

Saat berbicara di hadapan para pengurus RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet serta para dokter dan perawat, Doni mengulang pentingnya menu makanan sehat. Ikan adalah salah satu menu penting. Selain kaya protein, juga memenuhi kandungan gizi yang baik.

“Ingat, makanan yang baik adalah obat,” katanya.

Dengan makanan yang baik, Doni berharap, kondisi pasien, para dokter serta perawat dan semua staf yang bertugas di RS Darurat Wisma Atlet lebih tangguh. Terlebih, sejak dioperasikan 23 Maret 2020, mereka sudah bekerja keras. Tidak pulang, tidak berkumpul bersama keluarga, ada kalanya jauh lebih berat dari semua jenis pekerjaan lembur lainnya.

Sebagai salah satu rujukan, rumah sakit darurat ini memang dipersiapkan secara marathon. Sejak diputuskan 13 Maret hingga resmi beroperasi 23 Maret, hanya ada waktu sepuluh hari. Dan dalam waktu sepuluh hari itulah, terjadi suasana yang benar-benar menegangkan.

Saat itu, tutur Doni, semua rumah sakit rujukan penuh pasien Covid-19. Tidak sedikit pasien yang datang dari Jakarta dan daerah lain, tak sulit terlayani.

“Saya ingat, ada pasien yang harus menunggu sampai tujuh jam lamanya sampai bisa mendapat tempat tidur,” kata Doni.

Saat ini, keadaannya sudah jauh lebih baik. Seperti diketahui, RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran terdapat dua lantai yang dijadikan rumah sakit dadakan, yakni tower VII yang saat ini telah beroperasi dan mampu menampung 1.700 orang.

Kemudian juga Tower VI yang mampu menampung 1.300 pasien. Dengan begitu, RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran dapat menampung 3.000 dari dua lantai tersebut.

Dari kapasitas 1.700 orang yang sudah dioperasikan, berdasar data terakhir (24/5/2020) jumlah pasien 963 orang yang terdiri pasien laki-laki 623 dan perempuan 340. Dari jumlah pasien yang ada, pasien dikategorikan berdasarkan hasil swab positif 700 orang, tes cepat positif 237, pasien dalam pengawasan (PDP) 20 dan sisanya orang dalam pemantauan (ODP).

RS Darurat Wisma Atlet dioperasikan oleh tim gabungan dari Gugus Tugas, Kogabwilhan, TNI, Polri, Kementerian Kesehatan, BUMN, tenaga medis dan sukarelawan. Total kekuatan personel yang bertugas berjumlah 1.624 orang. Sejak dioperasikan, RS Darurat Kemayoran telah merawat lebih dari 3.900 orang.

Doni mengapresiasi tim dokter, perawat, dan staf lain yang bekerja gigih. Tidak saja menyehatkan fisik, tetapi juga mental. Sedikitnya 10 personel tim kesehatan mental bekerja siang-malam. Mereka terdiri atas unsur TNI (Kesdam Jaya) dan relawan.

Selain memberikan konseling, tim kesehatan mental memberikan ice breaking kepada personel atau petugas yang bekerja di RS Darurat Wisma Atlet. “Ice breaking diberikan untuk menghadapi pasien dengan latar belakang berbeda,” ucap Doni.

Ia mencontohkan ketika perawat berhadapan dengan pasien yang berprofesi anak buah kapal (ABK). Mereka masih muda tetapi positif COVID-19. Menghadapi anak-anak muda seperti ini membutuhkan kesabaran. Selain itu, pengertian dan pemahaman pasien mengenai COVID-19 masih kurang. Misalnya, mental pasien drop ketika diinformasikan terpapar virus.

Beberapa petugas medis dan non medis dan relawan juga diminta menyampaikan testimoni. Nuryati Manulang, tenaga kesehatan, misalnya, mengaku sudah lebih dua bulan tidak pulang.

“Sudah dua bulan lebih tidak pulang, karena saya mau melayani pasien Covid-19 di Wisma Atlet. Saya hanya memohon kepada masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah,” kata Nurhayati dalam logat Bataknya.

Besar harapan Nuryahati dan para petugas lain di RS Darurat, pasien Covid-19 makin berkurang dan terus berkurang hingga akhirnya tidak ada lagi yang perlu dirawat. Itu semua dimungkinkan, jika masyarakat bekerja sama dan dengan kesadaran tinggi, mematuhi protokol kesehatan. Rajin mencuci tangan, mengenakan masker jika bepergian, selalu jaga jarak, hindari kerumunan.

“Makin cepat wabah teratasi, makin cepat pula kami bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga,” ujarnya.

Demikian pula relawan dari Aceh, Jakarta, dan berbagai daerah lain, yang sudah lebih dua bulan tidak pulang. Senada, semua mengimbau agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Rajin cuci tangan, memakai masker, jaga jarak, dan sebisa mungkin menghindari bepergian untuk keperluan yang tidak penting.

Testimoni juga diberikan oleh para pasien corona yang sudah sembuh. Mereka sudah mengantongi keterangan sehat dan diizinkan pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga.

Risma misalnya, menjalani karantina sejak tanggal 22 Mei, sekembali dari India. Ia menilai, proses karantina dari mulai penjemputan di bandara hingga diizinkan pulang, semua sangat bagus.

“Kamarnya AC lengkap dengan wifi. Makan pun teratur, tiga kali sehari dengan menu yang enak. Dan yang lebih penting, kita merasa secure, karena sangat diperhatikan faktor kesehatannya. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah menyelenggarakan karantina ini,” ujarnya.

Seorang ABK kapal asing yang sejak 23 Mei menjalani karantina selama empat hari, juga memberikan testimoninya sebelum meninggalkan Wisma Atlet. Menjawab pertanyaan petugas seputar pelayanan selama karantina, seketika ia mengacungkan jempol. “Bagus. Akomodasinya sangat bagus dan makanan berlimpah,” ujarnya.

Tiga pekerja migran asal Jawa Timur (Malang dan Tulungagung), memberi testimoni bersama-sama, sebelum meninggalkan Wisma Atlet setelah empat hari dikarantina. Ditanya kesan-kesan, kompak mereka menjawab, “Baguuusss….” Ditanya tingkat kepuasan, kompak pula menjawab, “Puaaasss….”

Makin Semangat, Makin Tangguh

Perasaan senang terpancar dari para dokter, petugas kesehatan, staf dan relawan di RS Darurat Wisma Atlet. Beberapa tenaga medis yang berasal dari unsur TNI juga tampak termotivasi dengan kehadiran Letjen TNI Doni Monardo.

Penuh perhatian dan sikap kebapakan, Doni berdialog dengan Kakesdam Jaya Kolonel (Ckm) dr Stefanus Dony, Mayor (Ckm) dr Martin, Kapten (Ckm) dan dr Didon. Di antara mereka terdapat ahli jantung Kapten (Ckm) dr Tiya yang didatangkan dari Padang, Sumatera Barat. Ia pun, seperti halnya petugas medis lain, sudah lebih dua bulan lebih tidak berkumpul bersama keluarga.

Doni Monardo tak henti-henti memompakan semangat kepada para prajurit sekaligus prajurit kemanusiaan itu. Apa yang dilakukan Doni Monardo, sejatinya sebuah upaya penguatan moral, terlebih di saat Lebaran. Bagi umat muslim, Lebaran adalah momentum silaturahmi, momentum berkumpul bersama keluarga. Bisa dibayangkan, saat-saat berbahagia harus diikhlaskan demi menjalani tugas kemanusiaan.

Semakin mengerti saya, mengapa Doni Monardo memilih tidak pulang, dan tidur di kantor. Kehadiran Doni di RS Darurat Wisma Atlet, juga makin menanamkan kesadaran terdalam, memompakan semangat dan dukungan moral, menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi para petugas medis dan para relawan itu.

Dalam jiwa yang semangat, terdapat mental yang kuat. Dalam mental yang kuat, bermuara pada imunitas tubuh. Sungguh, sebuah kondisi yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Hanya dengan begitu, mereka bisa bertahan di tengah himpitan rasa jenuh dan letih yang bertumpuk.

Tuntas meninjau dan berdialog dengan para “pahlawan kemanusiaan” di RS Darurat Wisma Atlet, Doni Monardo dan rombongan Gugus Tugas Covid-19 pun berpamitan kembali ke markas Gugus Tugas di Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur.

Dalam perjalanan kaki menuju lokasi mobil, mendadak Doni berhenti di sebuah pohon. Sambil melihat ke arah staf yang mendampinginya, ia menunjuk pohon itu dan berkata, “Ini pohon mindi.”

Doni melanjutkan jalan kaki. Mendadak berhenti lagi, dan menunjuk sebuah pohon setinggi kurang lebih lima meter sambil berkata, “Nah, kalau yang ini pohon pule. Aromanya wangi saat bunganya kuncup,” ucapnya bahagia.

Kami mengiyakan, sambil melihat ke arah pohon yang ditunjuk Doni. Lalu, Doni kembali melangkah menuju kendaraannya. Kami di belakang saling tatap.

Tidak ada kalimat yang kami ucapkan. Hening. Tapi kalau harus dibahasakan di sini, kurang lebih mata kami berbicara, “Pohon. Itulah kebahagiaan Doni. Pohon. Itulah semangat Doni”. (*)

Doni Monardo “Diserang”, Ini Duduk Perkaranya

Catatan Roso Daras (wartawan senior)

KEPALA Gugus Tugas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo termasuk pejabat negara yang “cool”. Statemen-statemennya cenderung kalem tapi tegas. Untuk ukuran seorang pejabat publik, ia termasuk pejabat yang relatif sepi dari pemberitaan miring. Pernyataan dan kebijakannya, juga tidak pernah menimbulkan kontroversi dan berdampak “serangan balik”.

Apa boleh buat, pernyataan Doni Monardo yang terkenal baru-baru ini, “kelompok usia di bawah 45 tahun atau anak muda akan dibebaskan beraktivitas di tengah pandemi Covid-19”, mendapat reaksi beragam.

Banyak netizen spontan memberi komentar miring, cenderung menghujat, dengan berbagai argumen emosionalnya di berbagai media online. Ada juga yang bertanya langsung, atau bertanya lewat orang-orang dekatnya. Mengklarifikasi statemen tersebut.

Saya termasuk yang kenal Doni Monardo, dan lebih memilih mengklarifikasi lewat Tenaga Ahli BNPB Bidang Media, yang juga anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Egy Massadiah.

Lewat tengah malam, Egy baru bisa saya hubungi. “Wah… kok kebetulan sekali. Saya baru saja ngomongin itu sama pak Doni,” kata Egy di ujung telepon sana.

Sekadar informasi, Egy termasuk salah satu anggota Gugus Tugas Covid-19 yang ikut tidur di kantor bersama Doni Monardo dan yang lain. Sejak Doni ditugaskan menjadi Kepala Gugus Tugas, ia tidak lagi pulang. Sehari-hari tidur di kantor.

Hampir 20 jam dalam sehari waktu, pikiran, dan tenaga mereka dedikasikan untuk tugas penanganan wabah Covid-19. Satu lagi: Tidak ada angka merah dalam kalender kerjanya. Sabtu-Minggu dan Hari Besar tetap bekerja.

Kembali ke Topik

Setelah mendapat penjelasan, ditambah sorongan data (termasuk data paparan Doni Monardo saat Rapat Terbatas melalui video conference bersama Presiden Joko Widodo), menjadi lumayan terang benderang.

Lantas, apa hubungannya dengan statemen Doni Monardo yang dinilai kontroversial itu?

Tidak ada yang kontroversial. Ini persoalan psikologis masyarakat yang sedang dalam kondisi tertekan akibat wabah corona. Di sisi lain, informasi yang berkembang, menjadi bias. Nah alasan bias ini ada dua kategori. Yang pertama, bias karena masyarakat tidak membaca konteks berita secara utuh. Yang kedua, media –biasanya online—tidak memuat keterangan substansi Kepala Gugus Tugas secara tuntas. Cenderung mengejar klik bite. Disinilah letak salah satu sumber masalah: pemberitaannya menjadi negatif.

Dalam ilmu psikologi, perasaan tertekan akibat wabah covid, atau stres, berpengaruh terhadap diri seseorang. Secara fisik, menjadi rentan. Secara emosional, menjadi labil. “Cenderung ‘sumbu pendek’. Belum jelas duduk soal sudah langsung nyolot.

Sementara, tidak sedikit masyarakat yang cenderung membaca berita hanya dengan membaca judul. Paling banter sampai lead. Tidak sampai selesai, apalagi sampai harus membandingkan dengan informasi sejenis di media lain. Itu di sisi pembaca media.

Sementara dari sisi jurnalis, tak disangkal banyak wartawan enggan menggali informasi lebih dalam, dan menuliskan sesuatu yang penting secara komprehensif. Bahkan, tidak sedikit yang masih memakai kacamata bad news is a good news.

Padahal, statemen Doni Monardo itu ternyata sangat sederhana, dan tidak semestinya menimbulkan mispersepsi. Bahwa statemen kelompok usia 45 tahun ke bawah dipersilakan bekerja itu benar, tetapi –ini yang penting– tetap dalam konteks PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Hal-ihwal PSBB sudah ada juklak dan juknisnya. Sudah banyak materi informasi seputar PSBB. Termasuk, bidang kegiatan apa saja yang boleh dan dilarang. Contoh gampang. Seseorang berusia di bawah 45 tahun, bekerja di bioskop. Apa iya dia akan bekerja, sementara bioskop termasuk kegiatan yang dilarang selama PSBB.

Persis seperti kontroversi keputusan Menteri Perhubungan yang melonggarkan operasional transportasi umum. Tidak sedikit masyarakat yang langsung bereaksi negatif. Padahal, ada syarat-syarat tertentu, jenis penumpang seperti apa yang diperbolehkan bepergian menggunakan transportasi umum.

Artinya, kelompok usia di bawah 45 tahun, yang bekerja di sektor logistik, teknisi, transportasi, perlistrikan, kesehatan, dan bidang-bidang lain yang diatur dalam PSBB, memang diberi kelonggaran untuk bekerja. Artinya, tetap dalam konteks PSBB dan mematuhi ketentuan-ketentuan paling mendasar seperti rajin cuci tangan, tetap jaga jarak, dan melaksanakan prosedur sepulang dari bepergian atau bekerja.

Ihwal bentang usia, Doni juga bicara berdasar statistik. Data Gugus Tugas Covid-19 menyebutkan, risiko kematian pasien usia 60 tahun ke atas mencapai 45 persen. Angka ini diikuti kelompok usia 46-59 tahun yang risiko kematiannya 40 persen.

Kelompok usia yang rentan karena memiliki penyakit penyerta atau komorbit, antara lain hipertensi, diabetes, jantung, serta penyakit paru obstrasi kronis (PPOK) akibat merokok. Adapun kelompok muda berusia di bawah 45 tahun, lebih kuat menghadapi virus corona.

Pengkritik yang skeptis ada yang mempertanyakan, “Bukankah kelompok usia itu juga memiliki keluarga di rumah. Bahkan mungkin masih tinggal bersama orang tua, yang berusia di atas 45 tahun? Apakah justru tidak mendatangkan ancaman penularan kepada anggota keluarganya?”

Sekilas pertanyaan itu logis. Meski kalau dicantelkan ke dalam konteks statemen Doni Monardo, justru menjadi mentah. Sebab, selama PSBB, sudah ada aturan-aturan yang harus ditaati. Lebih dari segalanya, prosedur cuci tangan, mengenakan masker, bahkan prosedur apa yang harus dilakukan sepulang kerja, harus tetap dilaksanakan. Sebab, sekali lagi, konteks kalimat Doni Monardo adalah tetap dalam konteks PSBB.

Ada pula netizen yang menyanggah dengan menyajikan data, bahwa angka korban yang terserang Covid-19 terbesar justru di kisaran usia 45 tahun. Sanggahan itu sekilas menjadi kontradiksi dengan statemen “kelompok usia di bawah 45 tahun diberi kelonggaran beraktivitas”.

Akan tetapi, setelah meneliti data Gugus Tugas Covid-19, tidak seperti itu cara membacanya. Benar, bahwa angka yang terpapar di usia produktif tadi adalah yang terbesar. Akan tetapi, data valid menyebutkan jumlah korban meninggal yang terbesar adalah di atas usia 45 tahun. Seperti yang disebutkan Doni di atas.

Sangat panjang jika harus menuang seluruh data Gugus Tugas Covid-19. Sebab, data itu memang sangat rinci. Bahkan termasuk, persentase terbesar yang meninggal, urutan pertama adalah karena sakit bawaan berupa ginjal. Urutan kedua, jantung. Dan seterusnya. Sekali lagi, persentase terbesar adalah usia di atas 45 tahun.

Sedangkan usia produktif (45 tahun ke bawah), sangat sedikit yang meninggal. Artinya, mereka kemudian menjadi sembuh. Bahkan, tanpa disadari, tidak sedikit kelompok usia muda yang terpapar, tetapi kemudian sembuh dengan sendirinya. Artinya, tidak melewati fase perawatan di rumah sakit.

Last but not least, ada hal substansial lain yang melatarbelakangi pernyataan Doni Monardo yang disampaikan seusai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo. Hal substansial tadi adalah persoalan terkapar akibat PHK.

Betapa pun, faktor kesehatan masyarakat tetap menjadi prioritas. Akan tetapi, bukan berarti prioritas itu menafikan kebutuhan untuk tetap menggerakkan sektor ekonomi.

Dalam banyak kesempatan, saya acap mendengar Doni Monardo menyitir ungkapan hungry man becomes angry man. Ini kebutuhan yang sangat mendasar.

Dalam bingkai besar, apa yang disampaikan Doni Monardo sebagai Kepala Gugus Tugas Covid-19, saya membacanya justru sebagai sebuah langkah positif, yang harus disyukuri bangsa ini. Sebab, sesuai materi paparan, “kelonggaran” tadi adalah satu langkah kecil memasuki tahap rehabilitasi.

Fase rehabilitas pun, Doni Monardo mencanangkan jargon yang luar biasa positif. Bunyinya, “Tidak terpapar virus corona dan tidak terkapar virus PHK”.

Keseluruhan rencana rehabilitasi dituang dalam program PASE, kependekan dari Pemulihan Aktivitas Sosial Ekonomi.

Untuk diketahui, PASE ini adalah fase ketiga dari lima tahapan penanganan Covid-19. Dua yang pertama adalah “Mengendalikan Covid-19” dan “Meningkatkan Ketahanan”. Setelah itu baru PASE.

PASE pun ada tahapan-tahapannya. Mulai dari menentukan sektor, kemudian menciptakan protokol kesehatan masyarakat setiap sektor guna meminimalisir penyebaran virus, dan pemulihan sektor kuat yang terdampak.

Dua fase pasca PASE ini nanti adalah fase “Implementasi ‘The Next Normal’”dan “Transformasi”.

Begitu rigid Gugus Tugas Covid-19 membuat perencanaan tempur melawan corona. Tidak semestinya kita, under estimated dan mendadak jadi yang paling paham situasi, paling tahu statistik, dan paling ksatria di medan pertempuran melawan corona.

Doni Monardo Apresiasi Langkah Pemkab Selayar Tutup Sementara Bandara Aroeppala

KabarMakassar.com — Bupati Kepulauan Selayar H. Muh. Basli Ali selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melaporkan bahwa selama pandemi covid-19 di Selayar ketersediaan bahan pokok untuk masyarakat mencukupi hingga selesai lebaran.

Hal itu disampaikan oleh H. Muh. Basli Ali pada rapat koordinasi via vicon zoom bersama Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, Letjen TNI Doni Monardo, Minggu (10/5).

Sementara untuk pencegahan penyebaran covid-19, Basli Ali meminta agar jalur penerbangan ke Bandar Udara H. Aroeppala Selayar agar tetap ditutup selama pandemi covid-19. Selain itu, ia juga menyampaikan terkait pembatasan-pembatasan akses ke Selayar.

Kata dia, untuk akses melalui pelabuhan penyeberangan di Pelabuhan Pammatata hanya dibuka untuk pengangkutan kebutuhan logistik. “Ini kita lakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Selayar,” kata Basli Ali.

Laporan yang disampaikan Basli itu mendapat apresiasi dari Letjen TNI Doni Monardo. Ia pun mendukung langkah Pemkab Kepulauan Selayar dalam hal pembatasan akses menuju ke Selayar, termasuk permintaan menutup jalur penerbangan selama pandemi covid-19.

“Usul Pak Bupati Kepulauan Selayar terkait pembatasan akses ke Selayar sangat strategis dan kami serahkan kepada Bapak Gubernur Sulsel untuk memberikan perhatian dan dukungan,” kata Doni Monardo.

Sementara itu, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah juga memberikan apresiasi kepada seluruh Bupati/Walikota se-Sulsel atas upaya yang telah dilakukan untuk penanganan Covid-19 pada wilayah masing-masing.

“Kami berharap mudah-mudahan akhir Mei 2020 penanganan Covid-19 sudah bisa dikendalikan dan keadaan bisa kembali normal,” Nurdin Abdullah.

Diketahui, Rapat Koordinasi dengan topik progres penanganan Covid-19 dan pelaksanaan PSBB di Sulsel diikuti oleh para Ketua dan Wakil Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel, para Ketua dan Wakil Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kabupaten/kota se-Sulsel.

Para wakil Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, para Wakil Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, para koordinator bidang, wakil koordinator dan anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, Deputi Kemenkomarvest, LO Kemenkomarvest Nasional untuk Sulsel, tim money dan tim pakar.

Egy Akui Sudah Berteman Lama Dengan Doni Monardo

KabarMakassar.com — Penunjukan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo sebagai Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 membuat masyarakat mencari informasi. Terbaru, pada mesin pencarian google, bermunculan foto lama anggota TNI dengan pangkat tiga bintang itu.

Salah satu diantaranya adalah foto ketika Doni masih berpangkat mayor sedang berada di satu lokasi bersama beberapa prajurit lain dan beberapa teman berpakaian casual. Foto itu pun dibenarkan Anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Egy Massadiah.

“Yang sudah pernah melihat foto itu dan tahu latar belakangnya, mungkin biasa saja. Tapi yang tidak tahu dan baru pertama kali melihat foto-foto itu, banyak sekali yang bertanya, karena ada saya di foto itu,” kata Egy Massadiah.

Ia mengaku jika kisah foto tersebut sudah dikemas dalam sebuah buku yang diberi judul Secangkir Kopi Di Bawah Pohon – Kiprah Doni Menjaga Alam. Menurutnya buku itu semestinya sudah launching pada akhir Maret ini, tapi tertunda akibat adanya tugas sebagai Satgas Covid.

“Foto itu diambil sekitar April atau Mei tahun 1998 di Lapangan Tembak Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur,” kata Egy.

Menurutnya, pada foto itu tampak ada Letnan Inf Mohammad Hasan yang saat ini sudah berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI dan menjabat Wadanjen Kopassus. Juga, kata dia, ada almarhum Mayor Inf Made Agra yang pangkat terakhirnya Mayor Jenderal TNI, lulusan AMN tahun 1985, seangkatan dengan Doni Monardo.

Kata dia, foto itu memang menjadi foto kenangan yang jika dinarasikan, bisa menjadi tulisan panjang. Salah satu angle yang menarik bisa diangkat, kata dia, adalah persoalan friendship dan soal brotherhood. “Kita contohkan saja antara Pak Doni Monardo dan Egy Massadiah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan walau berkarier di dunia yang berbeda, dirinya dengan Doni tetap membangunan pertemanan yang baik dan tidak pernah runtuh. Komunkasi masih tetap terjalin baik ketika Doni Monardo bertugas di Singaraja-Bali, Serang-Banten, Kariango, Ambon, sampai Bandung.

Sedang dirinya, kata dia, meniti karier kewartawanan, menulis buku, aktif di Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya, bermain film hingga memproduksi film layar lebar. Bukan itu saja, dirinya juga sempat juga menjajal dunia politik dan merambah dunia bisnis.

“Bak takdir yang sudah tersurat, kami toh akhirnya dipertemukan kembali di BNPB. Komunikasi lewat telepon, kemudian musim blackberry, musim sms, sampai WA tidak pernah terputus. Dan foto-foto itu kini menjadi sarat makna,” pungkasnya.

Minimalisir Jumlah Korban Bencana, BNPB Perkuat Mitigasi

KabarMakassar.com — Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat lebih dari 400 bencana terjadi hingga minggu ketiga Februari 2020, atau per (10/2). Hal ini membuat pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat mitigasi dalam rangka meminimalisir jumlah korban dari bencana.

Berdasarkan hal ini, Pemprov Sulseln menggelar Penataran Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Provinsi Sulawesi Selatan, yang mengusung tema ‘Penanggulangan Bencana Urusan Bersama’, di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, dihadapan 24 kepala daerah dan unsur BPBD serta semua jajaran TNI-Polri di Sulsel Senin,(10/2).

Kepala BNPB Doni Monardo, mengungkap dengan adanya kegiatan ini diharapkan. Pemerintah daerah setempat, mampu melakukan management kebencanaan dan dapat mengetahui tentang pontensi ancaman di wilayah masing-masing.

“Baik itu ancaman geologi,vulkanologi kemudian Ancaman hidrometeorologi yang berhubungan dengan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan dan juga ancaman hidrometeorologi yang mengakibatkan banjir, banjir bandang tanah longsor angin puting beliung dan abrasi pantai dan yang terakhir adalah ancaman dari non alam yaitu tentang wabah penyakit, kemudian dampak dari limbah dan juga kegagalan dibidang industri” jelas Doni.

Ia menambahkan agar kiranya pemerintah daerah menyusun contingency plan secara terintegrasi dan melibatkan pihak-pihak terkait.

“Termasuk BMKG badan geologi kemudian unsur TNI dan Polri sehingga contingency plan ini betul-betul bisa terintegrasi kemudian bagaimana juga harus ada suatu upaya untuk melakukan langkah-langkah pencegahan, juga mitigasi, kemudian bagaimana meningkatkan kesiap siagaan dari sejumlah potensi ancaman yang mungkin terjadi” paparnya.

Sementara itu, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah memastikan akan menindaklanjuti kegiatan pada hari dengan kembali mengundang Bupati/walikota Se-Sulsel.

“Terutama dalam rangka membangun konstruksi rumah yang tentu harus tahan gempa demikian juga rumah-rumah yang sudah jadi gak perlu dibongkar saya kira tapi dibuat penguatan supaya rumah itu bisa tahan gempa kita juga tidak tau kapan datangnya(bencana) tapi dalam rangka pencegahan lebih bagus kita mempersiapkan itu,” ungkap Nurdin.

Berdasarkan data BNPB, Bencana hidrometeorologi adalah yang paling sering terjadi dan yang banyak menelan korba, yang terdiri atas bencana banjir 171 kejadian, puting beliung 155 kejadian, tanah longsor 98 kejadian dan abrasi 2 kejadian.

Banjir menjadi bencana yang paling banyak mengakibatkan korban jiwa, yaitu 86 orang, disusul tanah longsor lima orang, dan puting beliung 3 tiga orang, dan dua diantaranya hilang.

Selain mengakibakan korban jiwa, bencana yang terjadi mengakibatkan kerusakan infrastruktur, seperti tempat tinggal dan fasilitas lain, seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan jembatan.

Jumlah total rumah rusak dengan kategori rusak berat (RB) mencapai 2.512 unit, rusak sedang (RS) 1,725 dan rusak ringan 6.707. Sedangkan kerusakan infrastruktur lain, fasilitas pendidikan berjumlah 142, peribadatan 121, perkantoran 47 dan kesehatan 11. Dari total kerusakan ini, hanya 5 rumah dengan kategori RS disebabkan karena gempa bumi, sedangkan sisanya disebabkan bencana hidrometeorologi.

Video: Kepala BNPB Doni Monardo Diberi Pertanyaan kepada Jokowi soal Bencana

KabarMakassar.com — Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo mendapatkan pertanyaan dari Presiden RI, Joko Widodo saat berada di atas Helikopter saat cuaca buruk yang terjadi saat helikopter yang ditumpangi gagal mendarat di lapangan Helipad di Kecamatan Sukajaya Bogor, Minggu (5/1).

Didalam helikopter berbendera merah putih dan bernomor ekor H-3204 itu, Doni mendapatkan pertanyaan dari Presiden Joko Widodo.

Suasana hening saat helikopter gagal mendarat di lokasi bencana, tiba-tiba Doni pun dilontarkan pertanyaan dari orang nomor 1 di Indonesia tersebut.

“Pak Doni, apa yang harus dilakukan (untuk mencegah longsor),” kata Presiden.

Spontan Doni menjawab, “Kembalikan fungsi lahan dengan menanam vetiver, Pak Presiden.” kata Doni tegas.

Vetiver adalah jenis tanaman yang kita kenal dengan nama akar wangi atau narwastu. Tanaman ini adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan sereh atau padi.

Sekalipun berjenis rumput, tetapi memiliki akar yang menghunjam hingga kedalaman dua sampai dua-setengah meter. Tak pelak, vetiver menjadi pilihan terbaik untuk ditanam di lahan bekas HGU yang telah digunduli, tanpa reboisasi.

“Ribuan lokasi bekas HGU, pohonnya sudah ditebangi dan ditinggal begitu saja,” ungkap Doni.

mantan Komandan Paspampres itu menyampaikan ke Presiden bahwa sisa-sisa akar pohon yang ditebang, kemudian membusuk dan saat musim hujan tiba dengan curah yang tinggi mengakibatkan rongga tanah rentan longsor. Rumah rumah penduduk pun dengan mudah dan singkat dilumat arus lumpur longsoran yang deras.

Akar wangi, atau vetiver, lanjut Doni adalah pencegah longsor terbaik. “Bioteknologi vetiver sudah diujicoba dan mendapat pengakuan World Bank bahkan PBB. Di banyak tempat dan negara, tanaman ini sudah dikenal luas sebagai tanaman pencegah longsor,” ujar Doni, fasih.

Presiden menarik napas panjang. Ia tampak lega mendapat solusi dari Doni. Sejurus kemudian, Presiden memerintahkan Doni Monardo segera melakukan penanaman vetiver di area gundul, utamanya di lereng-lereng pegunungan.

Untuk itu, Doni diminta melibatkan anggota TNI yang punya kualifikasi panjat tebing, termasuk kelompok Wanadri kelompok pendaki gunung yang memiliki keahlian mendaki.

Doni tak kalah lega. Ia pun menarik napas panjang penuh antusias. “Tahap awal saya siapkan seratus-ribu bibit akar wangi, Bapak Presiden,” ujarnya.

Jokowi-Doni Bahas Vetiver Di Atas Helikopter

KabarMakassar.com — Demi mengetahui bencana bertubi, Presiden Joko Widodo segera meminta Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo menemaninya berkunjung ke lokasi-lokasi musibah. Beberapa hari sebelumnya, setidaknya sejak pagi 1 Januari, Doni sendiri selalu berusaha untuk tiba lebih awal sebagai representasi kehadiran negara di lokasi bencana.

Singkat dan cepat, pagi ini 5 Januari 2020, tiga unit helikopter TNI-AU sudah stand by di Lanud Atang Sanjaya Bogor. Satu heli di antaranya, berisikan Presiden Joko Widodo, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Kepala BNPB Doni Monardo.

Dari Lanud Atang Sanjaya ke lapangan Helipad di Kecamatan Sukajaya Bogor bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20-an menit dengan helikopter kepresidenen Super Puma L-2 AS-332. Apa daya, cuaca jelek mematahkannya.

Setelah terbang, 5 menit menjelang sampai di titik lokasi, helikopter berbendera merah putih dan bernomor ekor H-3204 itu gagal mendarat akibat cuaca jelek. Dua helikopter berisi rombongan lainnya, beberapa menit sebelumnya berhasil mendarat.

Dua-tiga kali pilot helikopter kepresidenan berwarna biru dan strip merah putih itu melakukan approach, sedia mendarat. Sebanyak itu pula percobaan gagal, akibat cuaca buruk. Cuaca berkategori bad weather adalah cuaca yang tak bisa dilawan siapa pun.

Dalam hal itu, “pemegang kekuasaan” adalah pilot. Alhasil, Presiden, Panglima TNI, Menteri PUPR, dan Kepala BNPB pun pasrah ketika pilot memutuskan untuk tidak mendarat, dan kembali ke Atang Sanjaya.

Di landasan helikopter Sukajaya, Bupati Bogor, Kalak BPBD Kabupaten Bogor, para pemangku kepentingan serta para wartawan sempat terbengong-bengong ketika helikopter kepresidenan menjauh dari lokasi pendaratan.

Mereka baru maklum ketika mendapat penjelasan bahwa helikopter kepresidenan gagal mendarat karena cuaca tak memungkinkan. Sejatinya, di Lanud Atang Sanjaya pun Presiden sudah diberi tahu ihwal kemungkinan cuaca jelek dan gagal mendarat di Sukmajaya.

Akan tetapi, Presiden Joko Widodo meminta pilot tetap menuju lokasi bencana dan take a risk. Bahwa kemudian gagal mendarat, karena pilotlah yang memutuskan urung mendarat, karena pilotlah yang mengetahui kondisi bisa dan tidaknya helikopter didaratkan.

Di dalam kabin helikopter, kekecewaan juga merundung para penumpang di dalamnya. Tampak wajah-wajah para petinggi negara yang muram karena urung melihat langsung kondisi rakyat yang tengah didera bencana.

Untuk sesaat, kabin helikopter kepresidenan hening, sampai akhirnya Presiden Joko Widodo yang memecah, dengan melempar pertanyaan kepada Doni Monardo.

“Pak Doni, apa yang harus dilakukan (untuk mencegah longsor),” kata Presiden.

Spontan Doni menjawab, “Kembalikan fungsi lahan dengan menanam vetiver, Pak Presiden.”

Vetiver adalah jenis tanaman yang kita kenal dengan nama akar wangi atau narwastu. Tanaman ini adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan sereh atau padi.

Sekalipun berjenis rumput, tetapi memiliki akar yang menghunjam hingga kedalaman dua sampai dua-setengah meter. Tak pelak, vetiver menjadi pilihan terbaik untuk ditanam di lahan bekas HGU yang telah digunduli, tanpa reboisasi.

“Ribuan lokasi bekas HGU, pohonnya sudah ditebangi dan ditinggal begitu saja,” ungkap Doni.

Bercampur kebisingan suara baling-baling helikopter, mantan Komandan Paspampres itu menyampaikan ke Presiden bahwa sisa-sisa akar pohon yang ditebang, kemudian membusuk dan saat musim hujan tiba dengan curah yang tinggi mengakibatkan rongga tanah rentan longsor. Rumah rumah penduduk pun dengan mudah dan singkat dilumat arus lumpur longsoran yang deras.

Akar wangi, atau vetiver, lanjut Doni adalah pencegah longsor terbaik. “Bioteknologi vetiver sudah diujicoba dan mendapat pengakuan World Bank bahkan PBB. Di banyak tempat dan negara, tanaman ini sudah dikenal luas sebagai tanaman pencegah longsor,” ujar Doni, fasih.

Presiden menarik napas panjang. Ia tampak lega mendapat solusi dari Doni. Sejurus kemudian, Presiden memerintahkan Doni Monardo segera melakukan penanaman vetiver di area gundul, utamanya di lereng-lereng pegunungan.

Untuk itu, Doni diminta melibatkan anggota TNI yang punya kualifikasi panjat tebing, termasuk kelompok Wanadri kelompok pendaki gunung yang memiliki keahlian mendaki.

Doni tak kalah lega. Ia pun menarik napas panjang penuh antusias. “Tahap awal saya siapkan seratus-ribu bibit akar wangi, Bapak Presiden,” ujarnya.

Tak pelak, Doni mendapat PR agar menanam di daerah dengan tingkat kemiringan tertentu yang dalam kondisi gundul, dan rawan longsor.

Doni menyebut, bukan satu-dua lokasi saja, melainkan terdapat ribuan titik rawan longsor di Tanah Air. Itu semua diawali dengan pemberian HGU kepada perusahaan tanpa kontrol serta kewajiban menghijaukan kembali lahan HGU diabaikan dan telah digunduli semena mena.

Penggundulan itu sudah terjadi 10 hingga 20 tahun yang lalu, dan tahun-tahun ini baru berdampak longsor. Dengan adanya instruksi presiden untuk menanam akar wangi tadi, diharapkan ke depan tragedi longsor bisa dikurangi, atau bahkan dicegah sama sekali.

“Di sela-sela tanaman akar wangi, akan diseling tanaman keras seperti sukun, aren, dan alpukat. Selain punya nilai ekologis, juga punya nilai ekonomis,” ujar Doni.

Begitulah, pembahasan vetiver di atas helikopter pun menjadi sesuatu yang kongkrit.
Helikopter pun tiba di Lanud Atang Sanjaya. Para penumpang VVIP dan VIP pun turun dengan wajah yang lebih cerah, berkat vetiver calon penyelamat rakyat dari bencana longsor.

Sebagai tambahan informasi, setiba di Atang Sanjaya, Presiden memerintahkan Menteri PU dan Perumahan Rakyat langsung menuju Kecamatan Sukajaya melalui jalur darat untuk memastikan peralatan berat berfungsi optimal sehingga akses menuju dan ke Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor dapat dibuka.

Kementerian PUPR mencatat ada enam desa di Kecamatan Sukajaya yang terisolir akibat jalan akses tertutup longsor yakni Desa Kiarasari, Kiara Pandak, Urug, Cisarua, Cileuksa dan Pasir Madang. Menteri Basuki sejak kemarin (4/1/2020) sesuai arahan Presiden telah mengirimkan 6 alat berat ke lokasi longsor, yaitu 6 execavator, 1 loader, dan 1 buildozer.