Perusahaan Jepang Jajaki Peluang Kerja Sama

KabarMakassar.com — Obe Machinery and Engineering Co. Ltd., sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Jepang menawarkan kerja sama dibidang peralatan kepelabuhanan dan maintenance kepada Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero).

Hal itu diungkapkan President of Obe Machinery and Engineering Co. Ltd., Kotaro Obe, saat berkunjung ke Kantor Pusat PT Pelindo IV Makassar, Senin (27/1).

Tak hanya bertemu dengan Manajemen Pelindo IV dan melihat secara langsung aktivitas pelabuhan di Terminal Petikemas Makassar (TPM) dan Makassar New Port (MNP), tetapi Kotaro Obe bersama tim juga mengunjungi beberapa lokasi di Sulawesi Selatan seperti Kabupaten Bantaeng, untuk menjajaki peluang kerja sama.

Terpisah, Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengungkapkan bahwa tahun ini adalah tahun produksi bagi Perseroan seiring datangnya sejumlah alat yang kemudian ditempatkan di beberapa pelabuhan kelolaan.

Pihaknya juga telah menyiapkan anggaran investasi sebesar Rp5,4 triliun di tahun ini yang sebagian besar akan digunakan untuk membangun fasilitas pelabuhan, termasuk untuk melanjutkan pembangunan Makassar New Port.

Dari total investasi yang disiapkan tahun ini kata Farid, MNP menyerap jumlah paling banyak yaitu sebesar Rp1,9 triliun.

“Jumlah investasi yang disiapkan untuk MNP akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas terpasang MNP dan menjadikan mega proyek tersebut sebagai hub port bertaraf internasional, sehingga dapat meningkatkan direct call dan direct export dari Makassar,” jelasnya.

Saat ini lanjut Dirut Pelindo IV, Container Yard (CY) atau lapangan penumpukan di MNP memiliki luas 16 ha dan akan terus ditingkatkan menjadi 48 ha pada 2022 mendatang, dengan kapasitas penumpukan akan menjadi 17,5 juta TEUs dari kapasitas eksisting yaitu 500.000 TEUs per tahun.

Dengan kapasitas yang ada sekarang, salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) ini baru bisa melayani tiga perusahaan pelayaran domestik dan satu perusahaan pelayaran internasional yang melakukan aktivitas bongkar muat di MNP.

“Kedepan jumlah itu akan bertambah, untuk domestik menjadi 8 dan internasionalnya menjadi 2 pelayaran,” sebut Farid.

Dengan peralatan yang serba elektronik dan sudah terelektrifikasi di MNP, pihaknya menargetkan angka dwelling time di pelabuhan yang sudah menerapkan konsep Green Ecosystem ini kurang dari 2 hari.

Selain itu, pihaknya juga menargetkan pada 2022 mendatang Makassar New Port memiliki kawasan industri yang terintegrasi.

Saat ini pihaknya terus menggenjot pembangunan untuk proyek multiyears ini. “Setelah Tahap I Paket A rampung, lanjut Paket B, Paket C, Paket D dan Tahap II yang dibangun secara bersamaan,” tukasnya.

Februari-Maret, Pelindo IV Datangkan Head Truck dan Reach Stacker

Kabarmakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) akan mendatangkan 27 unit head truck 6 x 4 dan chasis serta delapan unit reach stacker untuk ditempatkan di beberapa pelabuhan kelolaan.

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengatakan hingga Juni 2020 nanti Perseroan memang akan mendatangkan sejumlah alat. “Alat-alat tersebut akan ditempatkan di beberapa pelabuhan untuk meningkatkan aktivitas bongkar muat,” jelasnya.

Dia menuturkan pelabuhan cabang yang akan mendapatkan tambahan alat reach stacker pada Februari nanti yaitu Pelabuhan Parepare, Nunukan, Merauke, Manokwari, Tolitoli, Tarakan, Ternate dan Pelabuhan Sorong.

Sedangkan pelabuhan cabang yang mendapat tambahan head truck 6 x 4 dan chasis, masing masing Terminal Petikemas Makassar (TPM) 14 unit, Pelabuhan Ternate 4 unit, Kendari 4 unit, Jayapura 3 unit dan Pelabuhan Bitung 2 unit.

“Untuk head truck 6 x 4 dan chasis akan tiba pada Maret 2020,” ucap Farid.

Dirut Pelindo IV menegaskan, kedatangan alat tersebut untuk menunjang aktivitas bongkar muat barang di sejumlah pelabuhan, seiring rencana Perseroan yang akan melakukan peningkatan status beberapa pelabuhan dari hanya pelabuhan penumpang menjadi terminal petikemas atau pelabuhan multipurpose.

Tahun ini lanjutnya, ada enam pelabuhan yang akan ditingkatkan statusnya dari hanya pelabuhan penumpang menjadi terminal petikemas atau pelabuhan multipurpose yakni Pelabuhan Sorong, Tarakan, Ternate, Kendari, Manokwari dan Pelabuhan Merauke.

Sebenarnya menurut Farid, ada 9 pelabuhan yang ditingkatkan statusnya dari hanya pelabuhan penumpang menjadi terminal petikemas atau pelabuhan multipurpose.

“Namun yang tiga pelabuhan lainnya sudah selesai, yakni Pelabuhan Ambon, Pantoloan dan Pelabuhan Jayapura. Tinggal enam pelabuhan lagi yang ditarget selesai dalam tahun ini,” tukasnya

Siapkan Rp 38 Miliar, Pelindo IV Segera Kembangkan Pelabuhan Loktuan Bontang

Kabarmakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) segera melakukan pengembangan Pelabuhan Umum Loktuan Bontang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bontang, Kalimantan Timur.

Hal itu diutarakan Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang saat melakukan presentasi pengembangan Pelabuhan Umum Loktuan Bontang yang dihadiri Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, Ketua DPRD Bontang, Andi Faisal Sofyan Hasdam serta beberapa pejabat dari instansi terkait di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Senin malam (20 Januari 2020).

Farid Padang mengatakan, tahun ini pihaknya sudah menyiapkan total investasi sebesar Rp5,4 triliun yang di antaranya akan digunakan untuk melakukan pengembangan sejumlah pelabuhan di wilayah kelolaan.

Dari total capex atau belanja modal yang disiapkan Perseroan tahun ini kata Dirut Pelindo IV, pihaknya menyisihkan sebesar Rp38 miliar khusus untuk pengembangan Pelabuhan Umum Loktuan Bontang.

Farid mengakui kontribusi Pelabuhan Loktuan Bontang pada pendapatan perusahaan di 2018 lalu dari segmen kunjungan kapal memang masih cukup kecil, yakni hanya 3,24 persen. “Yang terbesar masih Pelabuhan Balikpapan yaitu 10,09 persen,” jelasnya. Namun lanjut dia, potensi komoditas yang dimiliki dan ekspor dari Bontang cukup besar.

Sebelumnya, sudah ada pelabuhan milik Pemkot Bontang yang dikerjasamakan dengan Pelindo IV dan Wali Kota Bontang ingin kedepan BUMN yang bergerak dibidang jasa kepelabuhanan ini melakukan ekspansi untuk menambah fasilitas dan akan dilakukan kerja sama baru untuk pengembangan tersebut.

Farid Padang saat melakukan presentasi pengembangan Pelabuhan Umum Loktuan Bontang

“Dalam rangka mendukung Ibu Kota Negara (IKN) baru, maka beberapa kabupaten di Kaltim yang memiliki pelabuhan ingin mengembangkan kapasitas pelabuhannya.”kata Farid Padang

Kedepan, Pelabuhan Umum Loktuan Bontang akan dijadikan pelabuhan pengumpul di Sangatta, Bontang dan Kutai Timur.

Sementara itu, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengatakan pihaknya sangat berharap kerja sama pengembangan Pelabuhan Umum Loktuan Bontang dengan PT Pelindo IV dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan tentunya menguntungkan bagi kedua belah pihak.

“Yang penting adalah sustainable (keberlanjutannya). Karena kedepan aktivitas ekonomi di Bontang Insya Allah akan cukup besar. Oleh sebab itu, Bontang harus memiliki pelabuhan untuk petikemas,” ujarnya.

“Mudah-mudahan dengan pemanfaatan pelabuhan di Kota Bontang, bisa meningkatkan PAD dan juga meningkatkan aktivitas masyarakat, sehingga dapat mengurangi pengangguran. Oleh sebab itu, pelayanan pelabuhan juga menjadi salah satu perhatian Pemkot Bontang,” harap Neni.

Pelindo IV Kerja Sama Pemanduan dengan KPC

Farid menambahkan selain melakukan kerja sama dengan Pemkot Bontang, Pelindo IV juga melakukan kerja sama pemanduan kapal dengan pihak Kaltim Prima Coal (KPC).

“Dalam kerja sama itu, dibahas tentang beberapa perbaikan kerja sama yang telah dilakukan sebelumnya, untuk peningkatan level of service pemanduan dan penundaan di KPC pada tahun ini,” sebutnya.

“Hal tersebut sebagai dampak dari adanya peningkatan produksi batu bara oleh KPC di 2019 lalu,” tukas Farid.

MNP Ditarget Punya Kawasan Industri Terintegrasi 2022 Nanti

Kabarmakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) menargetkan Pelabuhan Baru Makassar atau Makassar New Port (MNP) memiliki kawasan industri yang terintegrasi pada 2022 mendatang.

Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang mengatakan saat ini pihaknya terus melakukan pembangunan untuk proyek multiyears, MNP. “Setelah Tahap I Paket A rampung, lanjut Paket B, Paket C, Paket D dan sekarang Tahap II dan Tahap III yang dibangun secara bersamaan,” katanya.

Tahun ini, Perseroan juga siap menggelontorkan modal usaha total sebesar Rp5,4 triliun yang didalamnya termasuk untuk melanjutkan pembangunan salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang berlokasi di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar ini.

“Dari total investasi yang disiapkan tahun ini, MNP menyerap jumlah paling banyak yaitu sebesar Rp1,9 triliun.”

Jumlah tersebut lanjut Farid, akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas terpasang MNP dan menjadikan mega proyek tersebut sebagai hub port bertaraf internasional, sehingga dapat meningkatkan direct call dan direct export.

Saat ini ujarnya, Container Yard (CY) atau lapangan penumpukan di MNP memiliki luas 16 ha dan akan meningkat jadi 48 ha pada 2022 mendatang, dengan kapasitas penumpukan menjadi 17,5 juta TEUs dari kapasitas eksisting yaitu 500.000 TEUs per tahun.

“Sekarang jumlah pelayaran domestik yang melakukan aktivitas bongkar muat di MNP masih 3 dan internasional baru satu pelayaran. Kedepan jumlah itu akan bertambah, untuk domestik menjadi 8 dan internasionalnya jadi 2 pelayaran,” sebut Farid.

Pihaknya juga menargetkan angka dwelling time di pelabuhan yang sudah menerapkan konsep Green Ecosystem ini kurang dari 2 hari, dengan peralatan yang serba elektronik dan sudah terelektrifikasi nantinya.

Pelabuhan Ternate Kedatangan 1 Unit CC

Sementara itu, 1 unit alat Container Crane (CC) telah tiba di Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate pada Selasa (14 Januari 2020).

General Manager (GM) Pelindo IV Cabang Ternate, Herryanto menuturkan kedatangan alat tersebut untuk melengkapi sejumlah alat eksisting yang sudah beroperasi selama ini.

Dirut Pelindo IV menambahkan, kedatangan alat tersebut sebagai bagian dari upaya manajemen untuk meningkatkan status Pelabuhan Ternate dari hanya pelabuhan penumpang menjadi terminal petikemas atau pelabuhan multipurpose.

Sebenarnya kata Farid, ada 9 pelabuhan yang ditingkatkan statusnya dari hanya pelabuhan penumpang menjadi terminal petikemas, yakni Pelabuhan Ambon, Sorong, Jayapura, Tarakan, Ternate, Kendari, Pantoloan, Manokwari dan Pelabuhan Merauke.

“Namun yang tiga pelabuhan lainnya sudah selesai, yakni Pelabuhan Ambon, Pantoloan dan Pelabuhan Jayapura. Menyusul 6 pelabuhan lagi yang ditarget rampung dalam tahun ini, dengan modal yang ditanam khusus di Pelabuhan Ternate sebesar Rp106,9 miliar,” tukasnya.

Pelindo IV Siap Dukung Rencana Semen Bosowa Bangun Packing Plant

KabarMakassar.com — Manajemen PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) siap mendukung rencana PT Semen Bosowa yang akan membangun packing plant atau pabrik pengemasan di Pelabuhan Donggala, Sulawesi Tengah.

Hal itu dikatakan Direktur Utama PT Pelindo IV, Farid Padang saat menerima Perwakilan PT Semen Bosowa, Sumirlan untuk membicarakan lebih lanjut kerja sama pemanfaatan fasilitas silo semen di Pelabuhan Donggala, di Kantor Pusat Pelindo IV Makassar.

Farid Padang mengatakan salah satu bentuk dukungan dari pihaknya adalah dengan menyiapkan lahan untuk pembangunan packing plant tersebut. Pihaknya juga akan menyiapkan skema kerja sama yang tentunya akan menguntungkan kedua belah pihak.

Sistem kerja sama menurutnya akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. Disamping itu, selama ini Pelabuhan Donggala ditangani Pelindo IV sebagai kawasan bukan cabang. “Jika ada industri semen maka dapat membantu distribusi semen di Donggala pasca tsunami lalu.”

“Di Donggala ada dua pelabuhan, satu dikelola KSOP setempat dan satu dikelola oleh Pelindo IV. Secepatnya kami akan siapkan lahan di pelabuhan kelolaan untuk packing plant Semen Bosowa,” ujarnya.

Selain lahan lanjut Farid, pihaknya juga akan menyiapkan fasilitas yang dibutuhkan.

Perwakilan PT Semen Bosowa,Sumirlan menuturkan bahwa saat ini telah ada kunjungan rutin kapal curah sebanyak 2 call per bulan dengan kapasitas 900 ton per call di Pelabuhan Donggala.

Beberapa waktu lalu katanya, tim PT Semen Bosowa bersama General Manager Pelindo IV Cabang Pantoloan telah mengunjungi lokasi di Pelabuhan Donggala.

Menurut Sumirlan, dalam waktu dekat pihaknya membutuhkan lokasi untuk penempatan jembatan timbang dan container office. “Kebutuhan itu sudah sangat mendesak,” ucapnya.

Dia mengatakan, pihaknya membutuhkan kedalaman draft yakni 7 sampai 8 –MSLWL dengan luas lahan 6.348 m2 (92 m x 69 m) dan kapasitas silo 5.000 m2 (2 x 2.500 m2).

Selain di Pelabuhan Donggala, pihak Semen Bosowa juga berencana membangun packing plant di Pelabuhan Kendari eksisting dan juga membutuhkan support lahan dan fasilitas dari Pelindo IV.

“Rencananya kapasitas silo di Pelabuhan Donggala sebesar 2.500 ton. Begitu pula dengan kapasitas silo di Pelabuhan Kendari nanti, yakni 2.500 ton juga. Tetapi untuk di Kendari, nanti akan kami bicarakan lebih lanjut lagi,” tukas Sumrilan.