Lomba Aksara Lontaraq 2020 Dimulai

KabarMakassar.com — Festival Aksara Lontaraq 2020 telah memasuki tahap dua dari tiga rangkaian acara pasca dilaunching dan diikuti tujuh negara pada 25 Juni 2020 lalu. Rencananya, puncak acara akan digelar 27-29 Agustus 2020 mendatang.

Terkait hal itu, salah satu pelaksana Festival Aksara Lontaraq 2020, Marlon mengatakan bahwa kegiatan yang akan dilaksanakan tahunan ini bertujuan melestarikan aksara dan budaya Lontaraq.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari gerakan kebudayaan untuk menjadikan Aksara Lontaraq sebagai tuan rumah di tanah airnya sendiri,” kata Marlon, Sabtu (25/7).

Selain itu, kata dia, gotong royong kebudayaan anak negeri ini juga diharapkan menjadi kebanggaan. “Juga simbol karakter budaya anak milenial Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja pada masa yang akan datang,” ujarnya.

Sementara itu, Dewan Juri Lomba, Yudhistira Sukatanya mengatakan bahwa salah satu agenda kegiatan Festival Aksara Lontaraq tahun ini adalah Lomba Aksara Lontaraq.

“Lomba ini diperuntukkan untuk anak-anak dan muda-mudi Makassar,” kata Yudhistira.

Ia berharap lomba ini dapat dijadikan sebagai wadah untuk mengenalkan, mendekatkan, dan mengaktualisasikan kebudayaan Aksara Lontaraq serta mengambil peran dalam gerakan Literasi Lontaraq.

“Lomba ini akan dimulai 25 Juli 2020-15 Agustus 2020 untuk beberapa kategori yakni lomba tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Perguruan Tinggi dan umum,” ungkapnya.

“Untuk penilaian juri akan dilakukan pada 18-20 Agustus 2020 oleh tim,” tambahnya.

Untuk diketahui, jenis Lomba Aksara Lontaraq 2020 adalah Lomba Menulis Lontaraq Tingkat SD, Lomba Membaca Lontaraq Tingkat SMP, Lomba Mengarang Tema Lontaraq Tingkat SMA, Lomba Stand Up Comedy Untuk Mahasiswa dan Umum, Lomba Kaligrafi Untuk Mahasiswa dan Umum.

Info Pendaftaran Kunjungi https://www.kabarmakassar.com/registrasi-lontaraq-2020/ atau menghubungi kontak Arwini Puspita Sari: 081242733764.

Para Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontaraq 2020

KabarMakassar.com — Sejumlah seniman senior akan jadi juri lomba yang dihelat sekaitan dengan penyelenggaraan Festival Aksara Lontaraq 2020. Serangkaian lomba diadakan bukan saja untuk memeriahkan Festival Aksara Lontaraq, tapi sekaligus sebagai cara memasyarakatkan aksara lontaraq untuk berbagai segmen usia dan jenjang pendidikan.

“Lomba-lomba yang nanti kita adakan adalah cara mendekatkan kembali aksara lontaraq ke masyarakat. Karena itu kita mengajak para seniman dan budayawan untuk bersama-sama dalam gerakan ini,” jelas Mohammad Hasan, SH, MH, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, saat rapat panitia di Lantai 2 Gedung Perpustkaan dan Kearsipan Provinis Sulsel, Selasa, 7 Juli 2020.

Rapat ini dipimpin oleh Ketua Panitia, Upi Asmaradhana, yang merupakan Founder dan CEO KGINetwork. Rapat dihadiri sejumlah seniman yang akan memberikan penilaian terhadap lomba-lomba yang diadakan. Mereka yang hadir, yakni penulis dan sutradara teater Yudhistira Sukatanya, sutradara teater, Bahar Merdhu, pelukis tanah liat, Zaenal Beta, sastrawan Idwar Anwar, penulis buku Rusdin Tompo, penulis dan pendidik Labbiri, penerjemah lontaraq Mullar, akademisi dan peneliti royong Dr Asis Nojeng, serta pekerja buku Nasrul Djajariah. Hadir pula pustakawan senior dan staf Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, antara lain Syahruddin Umar, Heri Rusmana, dan Nilma Maddi. Di jajaran tim juri juga tercatat nama Rimba, perupa, Chaeruddin Hakim, peneliti kelong, Muhammad Idris dan Jumadi Mappanganro, jurnalis.

Dalam rapat itu, panitia dan dewan juri membahas syarat-syarat dan teknis lomba, form pendaftaran serta cara pengiriman hasil lomba. Proses dan tahapan perlombaan akan dimulai 11 hingga 30 Juli 2020. Adapun lomba yang akan diadakan adalah lomba kaligrafi, lomba menulis aksara lontaraq, lomba membaca cerita, lomba menulis esai, dan lomba stand up comedy, yang kesemuanya berkaitan dengan pengenalan, penanaman pemahaman serta pemaknaan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Sulawesi Selatan.

Ketua Dewan Juri, Yudhistira Sukatanya, menjelaskan bahwa masing-masing segmen lomba punya tujuan dan target tertentu. Katanya, tujuan lomba untuk masing-masing tingkatan adalah untuk tingkat SD, yakni mengenalkan dan lebih mendekatkan tradisi lontaraq sejak dini kepada anak-anak. Untuk tingkat SMP bertujuan untuk mengaktualisasikan kembali pembelajaran lontaraq. Sedangkan tingkat SMA/SMK, bertujuan untuk mendorong peserta mulai mendalami lontaraq (pendalaman). Sedangkan untuk tingkat mahasiswa dan umum tujuannya untuk mengajak peserta lebih mengapresiasi dan mengambil peran dalam gerakan literasi lontaraq.

Zaenal Beta mengaku senang bisa mengambil peran dalam kegiatan yang biasa diistilahkan sebagai gotong royong kebudayaan ini. Menurutnya, sangat jarang teman-teman seniman berada dalam satu even bersama.

“Ini kegiatan menarik, karena mampu diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19, dengan cara yang kreatif,” akunya.

Panitia dan dewan juri menggaransi penilaian untuk setiap mata lomba akan dilakukan secara fair sesuai kriteria yang dipersyaratkan. Para seniman dengan nama besarnya ini tentu akan menjaga integritasnya sebagai juri.

“Karena kita tidak hanya hendak menyukseskan lomba tapi juga menjaga muruah pelaksanaan Festival Aksara Lontaraq,” tegas Yudhistira Sukatanya.

Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel Launching Perpustakaan Lorong Raudhah

KabarMakassar.com — Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan Moh. Hasan Sijaya S.H., M.H meaunching Perpustakan Lorong Raudhah Indonesia dan Pencanangan Wakaf Buku di Pesantran Lorong Raudhah Indonesia Perumaham Mangga Tiga Permai Blok B 17 Daya Makassar, Minggu (5/7).

Kegiatan ini dihadiri Ketua Persaudaraan Muslimim Indonesia (Parmusi) Sulsel Drs. H. Abu Bakar Wasahua, M.M, Ketua Forum Perpustakaan Lorong Desa Sulsel Bachtiar Adnan Kusuma, S.Sos., M.M, Pimpinan Pesantren Raudhah Indonesia Ustadz Rahim Mayau, S.Ag, plt.

Kemudian ada Kepala Bidang Perpustakaan DPK Sulsel Nilma, S.Sos, M.M, Kepala Seksi Pengembangan dan Pengolahan Bahan Perpustakaan Syamsuddin, S.S., M.M, Kepala Seksi Deposit Drs. Muh. Syahrir Razak, S.Sos., M.AP, Koordinator Pustakawan Sulsel Syamsul Arif, S.Sos., M.A.

Juga hadir pustakawan senior Drs. H. Syahruddin Umar, M.M, PIC, Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Sulsel Nazaruddin, S.Ag., M.Sos.I, Duta Baca Sulsel Rezky Amalia Syafiin, S.H dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Pada kesemptan itu, Moh. Hasan Sijaya mengaku mengapresiasi keberadaan perpustakaan lorong yang sangat menunjang kegiatan Pesantren Lorong Raudhah Indonesia yang dibangun dan dikembangkan oleh masyarakat dengan pola pembinaan tersendiri yang hanya ada di Kompleks Perumahan Mangga Tiga Permai.

“Pesantren lorong ini satu-satunya di Indonesia, yang digagas dan digerakkan dengan semangat yang luar biasa sehingga bisa terbangun di tempat ini,” kata Hasan Sijaya.

Hasan menegaskan, ada himbauan ada keinginan Bapak Gubernur Prof. Nurdin Abdullah. Kata dia, ketika nanti selesai menjadi Gubernur dalam satu periode, setidaknya sudah ada tercipta 2.600 perpustakaan.

“Sekarang ini kami sudah jalan, di Kota Makassar sudah ada beberapa titik, kemarin saya ke Maros dan di sana ada 10 titik, di Bone nanti kami berangkat lagi, di sana ada 10 titik, di daerah ada sekitar 55 titik, sehingga ada kurang lebih 70 titik dalam tahun ini sebelum perubahan,” jelasnya.

Ia mengaku punya mimpi akan memberikan sumbangsih keberadaan secara fisik pembangunan perpustakaan lorong. “Kalau perlu pengelola perpustakaannya diberikan insentif. Ini sekarang kami gagas dan kami bicarakan dengan DPRD,” pungkasnya.

MSC Gelar Sosialisasi Doodle Art Science dan Photography Contest

KabarMakassar.com — Makassar Science Center (MSC) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel akan menyelenggarakan Kegiatan Doodle Art Science Contest dan Photography Contest tingkat pelajar se-Sulsel. Hal itu terungkap dalam rapat sosialisasi kegiatan yang dilaksanakan secara virtual, Rabu (1/7) kemarin.

Rencananya, kegiatan ini akan dibuka mulai 6-13 Juli 2020 secara daring/online dan karya peserta diunggah melalui media sosial. Kegiatan ini didukung oleh PP-IPTEK, Kemenristek/BRIN selaku Pembina Science Center di Indonesia.

Doodle Art Science Contest mengangkat tema Me vs Covid-19 diikuti oleh siswa kelas 4-6 SD bersama orang tuanya. Dimana peserta diharapkan dapat menanggapi situasi pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) melalui gambar doodle.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Syahruddin Umar berharap agar kegiatan ini dapat maksimal dengan kegigihan bersama. Menurutnya, kegiatan ini akan membuat Sulsel dapat merintis kembali kegiatan menarik lainnya.

“Dengan kegigihan kita bersama, kita harap ke depan di Sulsel dapat mulai merintis kembali kegiatan-kegiatan yang lebih menarik lagi,” kata Syahruddin Umar.

“Kekompakan dan kebersamaan anak dan orang tua juga akan terlihat, anak membuat gambar, orang tua mendampingi mengarahkan, dan mendokumentasikan saat anak menggambar,” tambahnya.

Lebih lanjut, Syahruddin menyampaikan bahwa dalam kegiatan ini sangat menarik karena dilakukan secara sederhana tanpa perlu lagi ribet keluar rumah untuk mengambil objek foto.

“Untuk mengikuti kegiatan ini, peserta tidak perlu keluar rumah untuk mengambil objek foto mereka, namun bisa mengambil objek makanan atau minuman yang sudah tersedia atau dapat ditemukan di rumah,” jelasnya.

“Doodle Art Science dan Photography Contest diharapkan membuat minat masyarakat Sulsel tertarik terhadap sains dapat meningkat serta memupuk kebersamaan keluarga di tengah pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Penulis Perlu Dukung Program Dinas Perpustakaan

KabarMakassar.com — Menyerahkan buku ke Dinas Perpustakaan bukan saja sebagai bentuk dukungan terhadap pendokumentasian karya tulis dan menambah koleksi perpustakaan tapi juga bagian dari gerakan literasi. Kesadaran ini dimiliki oleh Rusdin Tompo, mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel, yang kini memantapkan diri sebagai penulis buku profesional.

“Semua buku yang saya tulis, pasti saya serahkan ke Dinas Perpustakaan, baik di provinsi maupun kota,” kata Rusdin Tompo, seusai menyerahkan beberapa bukunya ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Senin, 29 Juni 2020.

Ada empat judul buku yang diserahkan hari itu, yakni “Pekerja Anak di Pannampu, Makassar”, diterbitkan Rayhan Intermedia. Berisi pengalaman pendampingan anak di sekitar Pasar Pannampu. Kemudian buku “Mozaik Penyiaran”, berupa bunga rampai tulisan tentang penyiaran radio dan televisi. Tulisan dalam buku ini merupakan kumpulan artikel yang pernah dimuat di media cetak dan daring. Lalu buku “Dark Numbers”, tentang peta persebaran dan penanganan narkoba oleh Biro Bina Napza dan HIV-Aids Setda Provinsi Sulsel, dan buku “The Spirit of Mercurius 104,3 FM”, yang mengungkap perjalanan Radio Mercurius lebih 30 tahun lalu. Buku-buku ini ada yang ditulis langsung, ada yang dirinya sebagai editor, ada juga yang hanya sebagai penyelaras. Sejauh ini, jumlah buku yang sudah dihasilkan oleh aktivis anak itu lebih dari 60an judul, baik dilakukan sendiri atau bersama tim.

Heri Rusmana, Kabid Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, mengapresiasi penyerahan buku-buku ke instansinya karena memang merupakan perintah undang-undang. Menurutnya, setiap terbitan wajib disetor kepada Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah, sesuai regulasi. Hal itu diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam yang merupakan perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 1990.

Buku-buku yang diserahkan ke pihaknya, kata Heri Rusmana, akan dipajang di website layanan deposit agar lebih banyak orang mengetahuinya.

“Ini semacam katalog digital yang bisa diakses banyak orang,” tambahnya.

Sejauh ini sudah ada sekira 1.400 judul buku yang di input. Melalui website layanan deposit itu, pengunjung bisa melihat sampul buku dan back cover-nya serta halaman judul dari buku tersebut. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, tengah menghimpun semua terbitan tentang Sulawesi Selatan, baik yang diterbitan di Sulsel, di daerah lain di Indonesia maupun terbitan luar negeri. Tema buku bisa tentang sejarah dan geografi, adat istiadat dan budaya, kesustraan dan bahasa, serta biografi atau potret masyarakat Sulsel lainnya.

“Ada juga buku-buku umum serta materi pelajaran yang di input tapi tidak dominan,” katanya, sambil mengajak para penulis dan penerbit menyerahkan buku-bukunya.

Tak hanya ke provinsi, Rusdin Tompo, juga menyerahkan buku dengan judul yang sama ke Dinas Perpustakaan Kota Makassar, yang diterima oleh Indra Artati, Kabid Pengembangan dan Pelestarian Bahan Pustaka Dinas Perpustakaan Kota Makassar, di kantornya Jalan Balaikota, Selasa, 30 Juni 2020.

Dia berharap, semoga dengan penyerahan buku-bukunya ke Dinas Perpustakaan Kota Makassar, akan lebih banyak orang yang memperoleh manfaat dari buku-buku tersebut, baik sekadar dibaca untuk menambah wawasan maupun untuk jadi referensi penulisan dan penelitian. Penyerahan buku ini, katanya, bagian dari tanggung jawab moralnya mendorong setiap orang mau mendokumentasikan pemikiran dan pengalamannya dalam bentuk buku.

“Jadi, kita tak hanya menggalakan gemar membaca saja tapi juga gemar menulis, sebagai ikhtiar gerakan literasi di Sulsel,” imbuhnya.(*)

Rusdin menambahkan, saat ini ada dua lagi bukunya yang sedang naik cetak, yakni buku “Perpustakaan Lorong Kelurahan Parangtambung” dan buku “Reklamasi Pantai Losari Makassar”, Kedua buku ini merupakan skripsi yang diformat ulang jadi buku di mana dirinya diberi amanah sebagai editornya. (rilis)

Dilaunching Kepala Perpustakaan Nasional, Festival Aksara Lontaraq Dimulai

KabarMakassar.com — Festival Aksara Lontaraq 2020, resmi dilaunching, Kamis (25/6) kemarin. Peresmian festival tahunan ini dilakukan secara virtual, di tengah situasi pandemi covid-19.

Peluncuran Festival Aksara Lontaraq yang pertama ini ditandai dengan peluncuran logo secara virtual yang diringi pukulan gendang Tunrung Pakanjjara oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando, didampingi Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Moh Hasan Sijaya dan Founder CEO KGI Network Upi Asmaradhana.

Festival Aksara lontaraq Tahun 2020 lewat virtual melalui aplikasi zoom ini digelar di Lt. 2 Gedung Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, dipandu MC komika Baba Ong dan Duta Baca Sulsel Rezky Amalia Syafiin dan diikuti sekitar tiga puluh undangan yang hadir di lokasi acara serta ratusan peserta dari sejumlah negara, diantaranya: Belanda, Malasyia, Singapura, Australia, Selandia Baru dan Rusia.

Acara yang dikemas dalam protokol kesehatan Covid-19 ini juga diikuti Gubernur Sulawesi Selatan yang diwakili Sekretaris Daerah Abdul Hayat Gani, Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Andi Ina Kartika Sari, Prof. Dr. Nurhayati Rahman (Pakar Filologi dan Naskah La Galigo), Sharyn Graham Davies, PhD (Associate Professor Sekolah Bahasa dan Ilmu Sosial, Universitas Teknologi Auckland, Selandia Baru), Alwi bin Daud, MA, cand., PhD, (University Malaya, Malasyia) dan Dr. Kathryn Wellen (Researchers di KITLV Leiden University, Belanda).

Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh budayawan, akademisi serta masyarakat peduli lontaraq antara lain: Yudistira Sukatanya, Rusdin Tompo mantan Ketua KPID Sulsel, penulis sekaligus novelis Idwar Anwar, Pustakawan senior Syahrudin Umar dan Heri Rusmana.

Panitia Festival Aksara Lontaraq 2020, Upi Asmaradhana dalam sambutannya mengatakan, festival ini adalah sebuah gerakan kebudayaan yang disebutnya sebagai gerakan gotong royong. Aksara lontaraq, merupakan aset terbesar yang dimiliki sulsel, bisa menjadikan identitas budaya sulsel di masa-masa yang akan datang.

“Gagasan dari festival ini, untuk menjaga anak-anak dan budaya kita. Kita juga berharap, festival ini bisa menjadi event tahunan ke depannya,” kata Upi.

Sementara Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, Hasan Sijaya, di awal sambutannya dengan aksen dan tutur bahasa Makassar mengatakan, Pappasang battu ri mangkasara, salama ki kepada peserta.

Pada abad 16 sampai 20 Masehi, aksara ini masih di jajaran Sulsel, namun penerapannya terbatas dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang menarik disini, leluhur kita dulu, sebelum memberikan pesan ke anak-cucunya, ketika ingin merantau ke suatu daerah, pesannya adalah jaga harkat dan martabatmu, melalui pappasang aksara lontaraq,” lanjut Kadis yang juga hobby menyanyi lagu daerah Sulsel.

Dewan Pengarah Panitia Festival Prof Nurhayati Rahman, menilai festival ini adalah sebuah gerakan budaya yang mesti didukung semua pihak. “Ini sebuah momentum yang luar biasa. Selama berpuluh-puluh tahun kita baru bisa menggelar acara seperti ini lagi,” kata peneliti naskah kuno I LagaLigo ini.

Ketua DPRD Sulsel Andi Ina Kartika Sari dalam sambutannya menyambut baik kegiatan ini. Ia juga berjanji akan bekerjasama dan membantu panitia dan masyarakat untuk menjadikan aksara Lontaraq sebagai bagian dari kelembagaan pemerintah.

“Kita merespon baik gagasan ini. Insya Allah saya dan DPRD Sulsel siap berkontribusi dan bekerjasama,” katanya.

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Sulsel, Abdul Hayat Gani mengatakan, era globalisasi ini merupakan tantangan bersama bagaimana produk budaya tetap dicintai dan digunakan oleh anak bangsa. Resistensi terjadi, pengaruh dari luar juga demikian, sehingga budaya yang dimiliki harus dikembalikan agar berjaya di tanah sendiri.

“Tentu, kita ingin mengembalikan kejayaan ini. Bagaimana adat kita rawat dan jaga dengan baik,” kata Abdul Hayat Gani.

Ia mengapresiasi langkah penyelenggara serta para penggiat budaya. Pemprov Sulsel mengapresiasi proses-proses yang terjadi dalam festival ini dan upaya pelestarian aksara Lontaraq.

Langkah lainnya, yakni memperkuat sistem pendidikan yang ada. Terutama hadirnya sekolah atau institusi pendidikan budaya seperti Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Sulsel.

“Sehingga apa yang kita lakukan ini merupakan pembangunan untuk kejayaan Provinsi Sulawesi Selatan,” sebutnya.

Festival Aksara Lontaraq ini sendiri akan berlangsung selama 3 (tiga) bulan sejak dimulai 25 Juni 2020. Tanggal 11 hinggga 30 Juli, lomba aksana lontaraq tingkat SD hingga universitas dan masyarakat umum. Tanggal 29 Agustus 2020 mendatang, menyelenggarakan Konferensi dan Seminar Internasional Aksara Lontaraq.

Dalam acara launching ini juga tampil penyanyi dari Pangkep yaitu duo Arman Pio dan Andi Putri Ananda Ahmad yang terkenal dengan lagu-lagu bugisnya serta Muhammad Alifi musisi dari jeneponto yang konsisten mempopulerkan lagu-lagu berbahasa Makassar.

Festival Aksara Lontara Bakal Digelar Tahun 2020

KabarMakassar.com — Festival tahunan untuk mengembalikan kejayaan aksara lontara, yang merupakan salah satu kewarisan budaya Sulawesi Selatan bakal digelar tahun 2020 mendatang.

Media KabarMakassar.com members PT Kabar Grup Indonesia, KGI Network, Rabu (22/01/2020) hari ini telah berkonsultasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, yang pada akhirnya bersepakat untuk bersinergi menyiapkan ajang festival berskala nasional tersebut.

Pertemuan dengan tim PT KGI selaku penggagas festival ini dengan pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan Sulsel, selain meminta arahan dan masukan untuk panitia, juga berkoordinasi tentang lokasi yang bakal di gelar di Benteng Rotterdam Makasssar.

Pertemuan informal ini sendiri, selain Kepala Dinas Perpusatakaan dan jajarannya, juga dihadiri pihak Balai Bahasa, Penggiat literasi Yudistira Sukatanya, dan penulis sekaligus aktifis buku nasional Bactiar Adnan Kusuma.

Sementara dari pihak kabarmakassar, Upi Asmaradhana selaku founder dan CEO KGI, juga ketua Panitia Pelaksana dalam hal ini Fritz V Wongkar, dan Marlon.

“Kami sudah bertemu dengan pihak PT KGI, dan ini merupakan sebuah ajang festival yang menarik. Festival Aksara Lontara yang digagas dari pihak media ini kita support dan kami berterima kasih akan pengembangan kebudayaan untuk anak-anak kita kedepan untuk lebih dekat dan mengenal aksara lontara ini,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Moh Hasan, Rabu (22/1).

Moh Hasan menambahkan, jika di jaman sekarang ini, anak-anak kita semakin menurun dalam memahami akan aksara lontara saat ini. Untuk itu ia mengaku senang pihak media menggandeng para penggiat literasi, seniman dan budayawan bersama-sama mengadakan festival yang mengangkat nilai-nilai budaya kita di Sulawesi Selatan terkhusus Makassar.

“Ini sebuah keharusan bagi kita, ini demi pengembangan untuk anak-anak kita, sehingga kami pihak pemerintah dan keinginan bapak Gubernur untuk mencerdsakan anak bangsa, harus mengadakan festival aksara lontara demi peningkatan dan pemahaman aksara lontara ini,” tandasnya.

Sementara itu untuk lokasi yang rencanannya bakal digunakan, pihak Dinas Perpustakaan Sulsel bakal mengambil lokasi cagar budaya, “Ada dua pilihan, kita di Benteng Rotterdham, atau di Benteng Somba Opu Gowa,” ujar Moh Hasan.

Lontara merupakan aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada (alm) berasal dari “sulapa eppa wala suji”. Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri.

Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah.

Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).

Dalam Festival Aksara Lontara 2020 ini nantinya bakal diadakan seminar aksara lontara dengan narasumber yang berkompeten, lomba karya tulis lontara tingkat sekolah dasar hingga SMA, dan juga pameran tulisan dan kaligrafi lontara.

Pada puncak acara Festival ini, juga akan dilakukan penetapan Hari Lontara untuk Sulawesi Selatan. Festival ini sendiri, sebagai wujud tanggungjawab moral media KabarMakassar dengan Tagline Rujukan Sulawesi Selatan, untuk berkonstribusi menjaga, merawat dan melestarikan kearifan lokal daerah setempat, khususnya tradisi literasi aksara lontara.