Menurun, Segini Jumlah Investasi dan Serapan Naker di Sulsel Tahun 2019

KabarMakassar.com — Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PM-PTSP) Provinsi Sulsel, jumlah investasi yang masuk ke Provinsi Sulsel di tahun 2019 sebesar Rp10,211 triliun. Angka ini mengalami penurunan sebesar Rp1,335 triliun atau 13% jika dibanding jumlah investasi yang masuk di tahun 2018 yang totalnya sebesar Rp11,546 triliun.

Kepala Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal DInas PM-PTSP Provinsi Sulsel, Andi Isma mengatakan, investasi yang masuk di tahun 2019 itu terdiri dari Rp5,672 triliun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dan Rp4,539 triliun Penanaman Modal Asing (PMA). Sementara di tahun 2018, jumlah PMDN yang masuk sebesar Rp3,275 triliun, dan PMA sebesar Rp8,270 triliun.

“Penurunan jumlah investasi ini lebih dikarenakan ada beberapa perusahaan besar yang telah menyelesaikan penanaman modalnya di tahun 2018, dan di 2019 belum ada ekspansi terutama perusahaan-perusahaan besar,” kata Isma, Selasa (3/3).

Isma merinci, berdasarkan data Dinas PM-PTSP Sulsel, untuk tahun 2018 investasi PMA terbesar berada di sektor listrik, gas dan air, dimana jumlahnya sebesar Rp3,87 triliun atau sebesar 50% dari total PMA yang masuk. Selain itu, di sektor pertambangan sebesar Rp1,45 triliun (18%); sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar Rp1,21 triliun (16%); sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp1,04 triliun (13%); dan sektor perdagangan dan reparasi sebesar Rp267 miliar (3%).

Sementara untuk PMDM, sektor listrik, gas, dan air sebesar Rp1,14 (38%); industri mineral nonlogam Rp1,05 triliun (35%); konstruksi sebesar Rp504 miliar (17%); industri makanan Rp178 miliar (6%); dan sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan sebesar Rp122 miliar (4%).

Sedangkan di tahun 2019, jumlah investasi PMDN terbesar berada di sektor lainnya dengan Rp1,14 triliun atau sebesar (40%); diikuti sektor pertambangan sebesar Rp2,59 triliun (24%); sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp1,76 triliun (16%); sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp1,45 triliun (13%); dan sektor hotel dan restoran sebesar Rp750 miliar (4%)

Sementara untuk PMA investasi yang masuk di 2019 didominasi oleh sektor pertambangan dengan jumlah Rp2,59 triliun (33%); kemudian sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebesar Rp1,76 triliun (23%); sektor transportasi gudang dan telekomunikasi sebesar Rp1,45 triliun (19%); sektor listrik, gas dan air sebesar Rp1,14 triliun (15%); dan sektor hotel dan restoran sebesar Rp750 miliar (10%).

“Berdasarkan data, 2019 itu investasi di sektor transportasi dan usaha agro mengalami perkembangan. Diharapkan juga nanti ini wisata-wisata penyediaan jasa perhotelan kita fokus ke situ juga,” ujarnya.

Setali tiga uang dengan jumlah investasi yang masuk, angka serapan tenaga kerja (naker) di tahun 2019 juga mengalami penurunan dibanding tahun 2018. Dimana pada tahun 2018, investasi yang masuk mampu menyerap tenaga kerja Indonesia (TKI) sebanyak 16.222 pekerja, dan tenaga kerja asin(TKA) sebanyak145 pekerja. Sementara di tahun 2019, total serapan TKI sebanyak 11.222 pekerja, dan TKA sebanyak 39 pekerja.

“Karena di 2018 itu ada proyek-proyek besar seperti PLTB yang sekarang sudah selesai. Sekarang tinggal tahap komersil, jadi otomatis tenaga kerjanya juga sudah selesai,” jelas Isma.

Lebih jauh Isma mengatakan, untuk tahun 2020, target investasi Provinsi Sulsel yang dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) nilainya sebesar Rp13,87 triliun. Namun, kata dia, angka tersebut masih akan dinormalisasikan.

“2020 target yang masuk di RPJMD itu Rp13,87 triliun, naik lagi. Sementara target secara nasional itu diturunkan karena dianggap itu terlalu tinggi. Jadi ada kemungkinan target kita di 2020 ini juga akan diturunkan. Saat ini kita masih masih cari formulasinya seperti apa,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, di tahun 2020 ini banyak investor yang masuk untuk menanamkan modalnya di Sulsel. Terlebih, ada sejumlah kebijakan baru yang memang dibuat dengan tujuan untuk mempermudah investor.

“Kita berharap setelah satu tahun kepemimpinan bapak gubernur ada beberapa kebijakan juga mendukung investasi. Sekarang DPRD sementara menggodok Ranperda terkait kemudahan investasi dan pemberian insentif. Kalau itu sudah ada, itu juga bisa mendukung percepatan penanaman modal yang ada di Sulsel,” tutupnya.

Sulsel Turunkan Target Investasi Tahun 2020

KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulsel melalui Dinas Penaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) akan melakukan koreksi terhadap target investasi di tahun 2020.

Kepala DPM-PTSP Provinsi Sulsel, AM Yamin mengatakan, hal ini sesuai dengan permintaan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kepada seluruh pemerintah daerah di Indonesia.

“Jadi ada revisi target dari BKPM, ini seluruh Indonesia. Makanya kami akan lakukan hitung-hitungan kembali, terkait dengan rencananya sebelumnya,” kata Yamin, Kamis (13/2).

Revisi target investasi ini, kata dia, juga dilakukan karena melihat rata-rata perusahaan yang ada hanya melakukan kegiatan rutin dan tak melakukan ekspansi.

Selain itu, lanjut Yamin, pemerintah pusat juga mengimbau seluruh daerah untuk menekan dua hal di 2020, yakni investasi dan ekspor.

“Dengan kondisi tersebut, makanya revisi dilakukan. Cuma hitung-hitungannya masih dilaksanakan. Targetnya tahun ini mungkin tidak setinggi tahun lalu, bisa dibawah Rp13 triliun. Cuma ini belum keluar nilainya,” ujarnya.

Lebih jauh Yamin mengatakan, selain promosi, dalam rangka menarik investasi di tahun ini dalam waktu dekat juga akan dikeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kemudahan Investasi.

“Ranperda ini sudah diajukan ke DPRD dan akan maju dalam program legislasi daerah,” terangnya.

Sekadar diketahui, di tahun 2019 kemarin target investasi Sulsel yang nilainya sebesar Rp13 triliun tidak tercapai.