Hebat, Perahu Padewakang Tiba di Darwin

KabarMakassar.com — Perahu Padewakang, yang berangkat dari peraiaran Kepulauan Tannimbar, Provinsi Maluku, Jumat sore, (24/01), akhirnya tiba di Darwin Australia, Selasa malam (28/01) waktu setempat. Perahu tradisional Bugis Makassar ini berlabuh, Cullen Bay Marina, Darwin.

“Alhamdulillah kami semalam sekitar jam 8 malam waktu Darwin, Semua kru sehat,” Kata Ridwan Alimuddin Kru Padewakang kepada KabarMakassar, Rabu (29/01)

Ridwan mengatakan, selama perjalanan tak ada kendala yang berarti, termasuk cuaca selama lima hari perjalanan.

“Kendala umum tidak ada, angin bersahabat. Nanti tadi malam, saat berlabuh, baru kencang angin,” kata Ridwan.

Dengan berlabuhnya Padewankang di Cullen Bay, menandaka Ekspedisi Padewakang dalam rangka Napak Tilas Sejarah Maritim Indonesia, khususnya hubungan budaya antara pelaut Bugis Makassar dan Suku Aborigin di Australia, berhasil sesuai rencana.

Sesuai rencana, sejak lepas sauh dari Saumlaki, perjalanan ditaksit 3-5 hari untuk sampai ke Darwin.

Saat ini keseluruhan kru dan perahu Padewakang masih dalam proses keimigrasian.

“Sekarang kami masih proses oleh bea cukai dan karantina, ” papar Ridwan yang juga Ketua AJi Mandar Sulawesi Barat ini.

Perahu Padewakang adalah salah satu perahu tradisional berusia lebih dari 300 tahun atau pada abad 3-4 dan telah direplika. Perahu ini melakukan misi pelayaran dengan rute dari Kabupaten Bulukumba-Makassar-Larantuka-Saumlaki-Darwin. Kapal Layar Padewakang bernama Kapal Layar Nur Al Maregeh yang dinakhodai oleh Anton Daeng Tompo.

Pelepasan Ekspedisi Padewakang yang beranggotakan 10 kru melanjutkan pelayarannya ke Darwin, setelah 48 hari dari Bulukumba.

Ridwan mengatakan kapal Padewakang dalam pelayarannya hingga ke Saumlaki dari Bulukumba sempat mengalami berbagai kendala karena kapal ini sangat tradisional.

“Kemudi sempat patah dan layar yang terbuat dari bahan alam sempat sobel karena cuaca,” Kata Ridwan.

Ekspedisi Padewakang juga membawa misi persahabatan antara dua negara Indonesai dan Australia.

“Kami berangkat membawa merah putih dan persahabatan ke Australia. Persahabatan yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun. Orang Makasaar semenjak 300 tahun lalu, berlayar ke Australia mencari teripang.Ini sebuah misi sejarah dan juga kebudayaan,” kata Ridwan kepada upishow yang akan tayang dalam waktu dekat.

Ekspedisi Padewakang

Ekspedisi Padewakang ini, menumbuhkan ingatan sejarah tentang budaya nenek moyang pelaut Indonesia yang sejak dulu kala telah berlayar bukan hanya di nusantara tapi juga sampai di mancanegara.

Ekspedisi ini bertepatan peringatan 250 tahun James Cock ke Australia ini juga merupakan Napak tilas perahu Padewakang yang mengingatkan masyarakat Australia bahwa jauh jauh sebelum James Cook dari Inggris ke Australia, orang Makassar sudah lebih dulu ke Australia, dengan tujuan mencari teripang.

Kapal Padewakang ini adalah salah satu kapal tradisional yang kemudian berkembang sebagai asal muasal kapal Pinisi.

Pelayaran ini sendiri dikoordinir oleh Horst. H. Liebner, warga Jerman yang berpuluh tahun mendedikasikan hidupnya buat perahu-perahu tradsional di Sulawesi Selatan.

Perahu Padewakang Nur Al Marege ini merupakan replika perahu Padewakang kedua yang tiba di Darwin, sejak perahu Padewakang dinyatakan “punah” di tahun 1930.

Replika perahu pertama dibangun tahun 1987 dan diberi nama Hati Marege, yang diinisiasi dan dilayarkan dalam Ekspedisi Pelayaran Teripang ke Darwin, oleh peneliti Australia, Peter Spillet. Kini perahu Hati Marege disimpan di Museum Maritim Darwin.

Ekspedisi Makassar-Darwin ini disponsori oleh Shaykh Wesam Charkawi dari Institut Abu Hanifah di Sidney. Warga Australia keturunan Lebanon ini menggelontorkan dana sekitar Rp 1 miliar dalam pembuatan perahu dan ekspedisi pelayaran dari Makassar ke Darwin.

Data PSDKP: 189 Nelayan Indonesia Ditangkap di Darwin Australia

Kabarmakassar.com — Data dari Direktorat Jenderal (dirjen) Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) penangkapan nelayan asal Indonesia di Darwin Australia mengalami tren kenaikan sejak 2016 hingga 2019 dengan total nelayan yang ditangkap 189 nelayan.

Sekedar diketahui nelayan yang ditangkap di Darwin Australia pada tahun 2016 sebanyak 46 orang, tahun 2017 sebanyak 47 orang sedangkan ditahun 2018 sebanyak 38 orang dan 2019 ada 58 nelayan.

“Tahun 2017 ke tahun 2018 itu kita mengalami penurunan karena pada waktu itu teripang mengalami penurunan harga jadi dari segi perekonomian harga juga sangat menentukan.” ucap Eko Rudian to Plt Direktur Penanganan Ulang Penhawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) saat ditemui pada acara roundtable discussion terkait upaya pencegahan nelayan Indonesia melintasi wilayah perbatasan Indonesia-Australia di Ibis Stayle tepatnya di Jalam Ratulangi, Kota Makassar, Senin (12/1).

Sementara itu untuk per 31 Desember 2019 masih ada 19 nelayan yang belum dipulangkan ke Indonesia, karena beberapa alasan diantaranya masih di proses hukum, masih menunggu pemulangan dan belum dibebaskan.

Untuk nelayan yang sudah dipulangkan ada 170 orang. Selain itu untuk jumlah kapal yang tertangkap pada 4 tahun terakhir dari 2016 hingga 2019 yakni sebanyak 25 kapal.

Menurutnya Provinsi Sulawesi Selatan bukan salah satu provinsi yang banyak nelayan nya ditangkap melainkan untuk peringkat pertama nelayan terbanyak yang ditangkap di Australia yaitu di Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Menurut data kami Provinsi Sulawesi Tenggara tepatnya di Kabupaten Wakatobi disana ada 74 nelayan yang ditangkap sedangkan kalau Provinsi Sulsel di Kabupaten Kepulauan Selayar ada 18 orang dan ini data dari tahun 2016 sampai 2019,” lanjutnya.

Diketahui untuk tata cara pemulangan nelayan sesuai dengan Permen KP nomor 39/ Permen-KP/ 2016 tentang cara pemulangan nelayan yang ditangkap di luar negeri karena melakukan penangkapan ikan di negara lain tanpa izin di ruang lingkup pasal 3 yakni informasi, prosedur pemulangan dan sosialisasi.