Kalimbu, Makanan Menggugah Selera Andalan Suku Bugis yang Jarang Ditemui

KabarMakassar.com– Kuliner merupakan salah satu sektor ekonomi kreatif dan menjadi paling penting dalam menjaga warisan budaya leluhur. Suku Bugis-Makassar khususnya dan suku lainnya di Indonesia memiliki kue khas masing-masing yang resepnya di jaga dari generasi ke generasi.

Beberapa kuliner terus bertahan dan berkembang bahkan terus berinovasi sehingga dikenal sampai di luar negeri. Adapula yang timbul dan tenggelam seiring berjalannya waktu karena tidak tersedianya bahan baku utama.

Salah satu kue tradisional di Kabupaten Sinjai yang sekitar tahun 2000-an masih di sering Anda temui disajikan di kampung-kampung, namun kini mulai jarang disajikan. Namun tentunya, bagi anda yang masyrakat asli Bugis tentu hidangan yang dijuluki kalimbu sudah tidak asing lagi.

Empong (50) salah satu ibu rumah tangga yang dulu sering membuat kue Kalimbu, mengatakan bahwa sudah jarang sekali membuat kue tersebut sebab ubi kayu sudah jarang ditanam warga.

“Ubi kayu jarang sekali ditemukan di Sinjai sehingga kadangkala saja bikin Kalimbu kalau pas ada ubi kayu dijual atau dikasi oleh keluarga,” ungkap Ibu kelahiran Sinjai tersebut.

Kata dia, Kalimbu merupakan makanan khas bugis yang proses pembuatannya tidak begitu rumit hanya dibutuhkan pisang, kupas, iris serong. 1 kg singkong, parut, peras, buang sebagian air, 1 sendok gula pasir, 1 sendok garam, ½ butir kelapa parut, campur dengan ¼ sendok garam dan daun pisang batu untuk membungkus.

“Kita hanya campur parutan singkong dengan gula dan garam dan sampai aduk rata. Ambil selembar daun pisang, masukkan tiga sendok makan adonan singkong, isi tengahnya dengan irisan pisangnya, lalu bungkus dan dilakukan hingga bahan habis. Kukus selama 25 menit hingga matang kemudian angkat sajikan dengan balutan parutan kelapa,” terang Empong.

Tentunya rasa pisang yang manis, dipadu dengan parutan kelapa yang gurih, akan membuat anda ketagihan dengan rasa yang luar biasa enaknya. Pas sajikan ketika musim hujan dan selagi berkumpul bersama dengan keluarga anda ditemani segelas kopi atau teh hangat.

“Jadi proses buatnya ini tidak lama hanya butuh waktu 45 menit dan makanan ini cocok kita sajikan kalau lagi berkumpul sama keluarga, musim hujan sama minuman hangat-hangat,” ungkap Empong.

Seperti diketahui jika di Sinjai ubi kayu mulai langka dikembangkan oleh warga karena lebih memilih menanam cengkeh, merica dan tanaman lainnya. Jika pun ada yang menanam hanya sedikit saja di samping rumah agar mudah dijaga dari serangan hama babi ketika telah berisi.

Namun, diketahui juga saat ini melalui pengamatan di media sosial khususnya di Sinjai masih ada yang memposting makanan khas tersebut bahkan ada juga menjualnya secara online.