Desember 2019, Impor Sulsel Meningkat 40,81%

KabarMakassar.com — Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulsel, nilai impor Sulsel per Desember 2019 mencapai USD 147,17 juta. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 40,81% jika dibandingkan bulan sebelumnya (November 2019) yang nilainya mencapai USD 104,52 juta.

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, beberapa komoditas utama yang diimpor pada bulan Desember 2019 diantaranya; bahan bakar mineral, mesin pesawat, mesin kapal laut, ampas atau sisa industri makanan, dan gandum.

“Sebagian besar impor pada bulan Desember 2019 didatangkan dari Singapura, Jerman, Korea Selatan, Jepang dan Argentina, dengan proporsi masing-masing 23,53%, 13,66%, 11, 84%, 8,48%, dan 8,39%,” papar Yos saat dihubungi KabarMakassar.com, Selasa (11/2).

Sementara untuk lokasi pelabuhan yang dijadikan pintu masuk dan tempat pembongkaran barang impor Sulsel selama Desember 2019 tersebut, yakni Pelabuhan Makassar dengan nilai USD 118,11 juta atau setara dengan 80,25%, kemudian disusul Pelabuhan Parepare dengan nilai USD 28,35 juta atau setara dengan 19,26 persen dari total nilai impor SulSel.

“Dibandingkan dengan bulan November 2019, impor Sulsel melalui Pelabuhan Makassar mengalami peningkatan sebesar 46,28% dan impor yang melalui Pelabuhan Parepare meningkat sebesar 35,26%,” terang Yos.

Dampak Virus Corona Ekspor Sulsel Turun

KabarMakassar.com — Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan (Sulsel) per Desember 2019 ekspor Sulsel mengalami penurunan hingga 10,45 persen jika dibandingkan pada bulan November 2019. Dimana saat itu nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan tercatat mencapi 123,00 juta US dollar.

Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 10,45 persen dibandingkan bulan lalu yakni November 2019 yang mencapai 137,35 US dollar.

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, ada beberapa komoditas utama yang di eskpor pada Desember 2019 yakni nikel, besi, baja, biji bijian berminyak, tanaman obat, ikan, udang, hewan air tidak bertulang belakang, getah dan damar.

Tidak hanya itu sebagian ekspor pada bulan Desember 2019 ditujukan ke Jepang, Tiongkok, Vietnam, Amerika Serikat dan Korea Selatan. Namun mengingat saat ini mewabahnya Virus Corona yang menjadi dampak dari ekspor Sulsel menurun. Hal itu menurut Yos juga kemungkinan mempengaruhi ekspor maupun impor Sulsel.

Yos Rusdiansyah mengatakan hingga saat ini belum mengeluarkan data resmi terkait perkembangan eskpor impor Sulsel per Januari 2020, namun ia memprediksi akan ada pengaruh yang terjadi pada ekspor impor di Sulsel dengan adanya Virus Corona tersebut.

“Kalau pengaruh pasti ada karena pintu masuk di Sulsel khususnya di Kota Makassar kan di jaga ketat dan secara umum data perkembangan ekspor impor kami terakhir adalah desember 2019 sementara virus corona baru merebak informasinya mulai januari 2020 jadi belum bisa terlihat,” ucapnya.

Ia menuturkan untuk data resmi perkembangan eskpor import di Sulawesi Selatan akan terbit data resminya pada tanggal 1 maret 2020.

BPS: Wisman ke Sulsel Meningkat 14,17 Persen

KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mendata jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui pintu masuk Makassar pada Desember 2019 mencapai 1.821 kunjungan.

Jumlah wisman tersebut diketahui mengalami peningkatan sebesar 14,17 persen jika dibandingkan dengan jumlah wisman pada bulan november 2019 yang mencapai 1.595 kunjungan. Total wisman tahun 2019 berjumlah 17.771 kunjungan.

Dalam keterangan pers Kepala BPS Provinsi Sulsel, Yos Rusdiansyah di kantor BPS Sulsel, jalan Haji Bau Makassar, Senin (3/2), mengatakan adanya peningkatan jumlah kunjungan wisman melalui pintu masuk Makassar. Namun tak dapat dipungkiri ada beberapa negara yang mulai mengalami penurunan kunjungan seperti dari China dan Malaysia.

Bahkan jumlah kunjungan mengalami penurunan mencapai 40 persen, hal tersebut sekaitan dengan adanya virus corona yang membuat sebagian warga China di isolasi negaranya, bahkan untuk keluar wilayah negara pun penerbangannya dibatasi.

Meski demikian penurunan masuknya wisman asal China dan Malaysia pun terjadi pada akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020 saja.

“Untuk data per Desember 2019 memang data wisatawan China menurun, separuhnya di bulan Januari 2020. Mungkin berkurang lagi ditambah dengan adanya larangan pengunjung datang ke Makassar ataupun masyarakat lokal yang akan berangkat ke daerah-daerah yang sudah terinfeksi virus corona itu dan datanya pada Desember 2019 di China memiliki penurunan sekitar 40 persen tapi yang dominan bukan China melainkan Malaysia,” ungkapnya.

Yos menambahkan jika Malaysia sendiri alami penurunan kunjungan hingga 600 orang, kalau di China sekitar 40 orang.

Sementara itu pada periode Desember 2019 jumlah penumpang penerbangan domestik sebanyak 948.698 orang, selain itu jumlah penumpang penerbangan internasional sebanyak 24.289 orang, kemudian untuk penumpang angkutan laut domestik mencapai hingga 93.549 orang dan jumlah barang bongkar muat kapal domestik mencapai 871.776 ton.

Sekedar diketahui sepanjang tahun 2019 penumpang domestik mengalami penurunan 21,46 persen. Sedangkan secara kumulatif penumpang internasional tahun 2019 mengalami kenaikan 31,93 persen. Kemudian selama periode 2019 penumpang angkutan laut domestik naik sebesar 60,42 persen. Sedangkan jumlah barang kapal domestik tahun 2019 naik 2,86 persen.

BPS Sulsel: Angka Penduduk Miskin Menurun

Kabarmakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mengakumulasi presentasi kemiskinan di provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Jumlah penduduk miskin di Sulsel per September 2019 yakni sebesar 759,58 ribu jiwa mengalami penurunan sebesar 20,06 ribu jiwa jika dibandingkan dengan kondisi September 2018.

Sementara untuk presentase penduduk miskin juga mengalami penurunan dari 8,87% kondisi september 2018 menjadi 8,56% pada september 2019.

“Presentase penduduk miskin mengalami penurunan baik daerah perkotaan maupun perdesaan selama periode september 2018 hingga september 2019.” ucap Kepala BPS Provinsi Sulsel, Yos Rusdiansyah di kantor BPS Sulsel. Jalan Haji Bau, Makassar, Rabu (15/1).

Menurutnya besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

“Selama September 2018 sampai September 2019 garis kemiskinan mengalami kenaikan yakni dari Rp 315.738 per kapita per bulan menjadi Rp 341.555 perkapita per bulan atau naik sekitar 8,18 persen,” lanjut Yos Kepala BPS Sulsel.

Yos menambahkan, dengan memperhatikan komponen garis kemiskinan yang terdiri dari garus kemiskinan makanan dan garud kemiskinan bukan makanan diketahui peran komoditi makanan yakni beras, telur ayam ras, tahu, tempe dll jauh lebih besar dibandingkan dengan peran komoditi bukan makanan yakni perumahan, pendidikan, kesehatan.

Terlihat dari daftar komoditi yang memberikan sumbangan besar terhadap garis kemiskinan pada september 2019 yakni jenis komoditi makanan ada beras 20,70 persen, rokok 8,13 persen, telur ayam ras 4,73 persen, ikan bandeng 3,61 persen, kue basah 3,38 persen, gula pasir 2,43 persen dan yang lainnya sebesar 25,59 persen.

Sementara pada jenis komoditi bukan makanan yakni perumahan 8,02 persen, bensin 5,21 persen, listrik 3,55 persen, pendidikan 1,55 persen, perlengkapan mandi 1,34 persen dan lainnya sebesar 9,55 persen.

Menurut Kepala BPS Sulsel Yos mengatakan, komoditi makanan yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras.

“Pada bulan September 2019 sumbangan pengeluaran beras terhadap garis kemiskinan sebesar 20,70 persen di perkotaan sedangkan di desa 28,94 persen,” tuturnya.

Untuk diketahui, mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan Pendekatan tersebut kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Kemudian metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK) yanh terdiri dari 2 komponen yakni Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM).

“Sumber data utama yang kita pakai untuk menghitung tingkat kemiskinan tahun 2019 adalah data (Susenas) survei sosial ekonomi nasional konsumsi pengeluaran Maret 2019 dan September 2019 jadi jumlah sampel di perbesar menjadi 320.000 rumah tangga pada bulan Maret dan 75.000 rumah tangga pada bulan September supaya data kemiskinan dapat disajikan sampai tingkat provinsi,” tutupnya.