Kisah Daeng Ngitung Terkena Tumor yang Dibantu Pemkab Gowa

KabarMakassar.com — Marsuki Daeng Ngitung,Warga Desa Pabentengang, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa yang menderita tumor dan terkendala biaya di RSUD Syekh Yusuf, kini telah ditangani oleh pihak Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Sosial dan pihak RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gowa, Syamsuddin Bidol saat dikonfirmasi, Sabtu (18/1).

Ia mengatakan, Daeng Ngitung memang masuk rumah sakit dua hari yang lalu namun karena tidak memiliki BPJS sehingga harus dikenakan biaya sesuai prosedur. Namun dengan adanya laporan tersebut Pemkab Gowa mengaku segera mengambil tindakan untuk Daeng Ngitung dengan mendaftarkan di BPJS APBD Pemda.

“Setelah mendengar hal itu, kami langsung ke RS dan menyuruh keluarga Daeng Ngitung segera mendaftarkan di BPJS dengan memasukkan data di Dinsos. Tetapi meskipun telah mendaftar sistem BPJS harus tunggu 14 hari baru bisa aktif atau digunakan. Sehingga karena masyarakat kita ini kurang mampu dan memasuki kategori untuk dibantu maka sambil menuggu BPJS nya aktif segala biaya pengobatannya Pemkab yang tanggung,” ungkapnya.

Dikatakan Kadis Sosial, pihaknya sudah melakukan assesment bahwa pasien itu memang layak untuk didaftarkan oleh Pemkab. Sehingga dalam masa tunggu sampai BPJS aktif Pemkab Gowa akan menagani kebutuhan pasien.

Lebih jauh, Syamsuddin menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan pasien tersebut perlu dilakukan CT Scan menyeluruh agar bisa mengetahui penyakit Daeng Ngitung, sehingga tanpa berpikir panjang pihak RSUD Syekh yusuf segera mengirim pasien ke Rumah Sakit Akademis Makassar.

“Dari hasil ct scan tumornya sudah lama dan bahkan sudah mngenai tulang di telinganya,” jelasnya.

Olehnya Syamsuddin menghimbau kepada masyarakat Gowa, sesuai dengan UU penanganan kemiskinan, apabila ada warga miskin yang tidak terdata oleh KIS boleh melaporkan ke Pemda dan pihaknya melakukan assesment atau pencatatan.

“Agar hal ini tidak terulang, bagi masyarakat Gowa yang secara dini terindikasi penyakit koronis dan kurang mampu agar segera dilaporkan apakah mempunyai bpjs apbd pemda atau tidak.l sehingga kami akan lakukan assesment secepat mungkin,” imbau Syamsuddin.

Sementara itu Direktur RSUD Syekh Yusuf, dr Salahuddin mengaku daru hasil ct scan menunjukkan osteomielitis yang luas sehingga perlu dilakukan perawatan lagi hingga Senin nanti untuk mengetahui kondisinya dari dokter yang melakukan perawata .

“Setelah kembali dari ct scan Sabtu Malam pukul 20:00, kami langsung melakukan perawatan, dan sementara pasien berada di ruang perawatan V kamar 2B,” jelas dr Salahuddin.

Sekadar diketahui, pasien tersebut pada hari Sabtu, pukul 10.00 diantar oleh Tim RSUD Syekh Yusuf bersama anggota Tagana Ramli Dg Jarung ke RS Akademis makassar untuk CT Scan. Setelah selesai CT Scan Selanjutnya pasien kembali ke RSUD Syekh Yusuf dengan didampingi oleh isterinya dan saat ini sedang dilakukan perawatan

Bayinya Meninggal, Ibu Yuni Berutang Rp7 Juta di Rumah Sakit

KabarMakassar.com — Kisah pilu yang dialami ibu Yuni warga asal Lingkungan Bonto Rita, Kelurahan Mannongkoki Kecamaran Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar. Dimana ia harus menanggung biaya rumah sakit sebesar Rp 12 Juta saat anaknya di rawat di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo selama tiga hari.

Bayinya Rahman (1 bulan) meninggal dunia, meski sebelumnya dirawat di RS Wahidin selama 3 hari. Pihak rumah sakit dikabarkan menahan Ibu Yuni untuk memulangkan jasad bayinya ke kampung halaman lantaran masih menunggak biaya rumah sakit.

Ibu Yui sebelumnya terkendala dengan BPJS, diakui jika dirinya tak sanggup membayar biaya rumah sakit. Anaknya sebelum meninggal terjatuh dari ayunan dan mengalami pendarahan diotak, hingga menghembuskan nafas terakhir.

“Saya dimintai Rp 12 juta, saya bilang tidak punya uang. Saya juga sampai hari Senin 6 Januari 2020 diberi waktu untuk melunasi, beruntung ada kebijakan saya bayar terlebih dahulu Rp juta,” kata Ibu Yuni saat ditemui KabarMakassar.com, Minggu (5/1).


Ibu Yuni juga mengaku disurush mengurus BPJS anaknya hingga selesai oleh pihak RS Wahidin Sudirohusodo, dimana sebelumnya ia mendapatkan bantuan dari sesama pasien.

“Saya dibantu pak, sesama pasien di Rumah sakit, itu yang saya pakai bayar lebih dahulu. Untuk memulangkan anak saya juga di bantu orang itu. Pakai mobil pribadinya,” kata Yuni.

Haeruddin suami Ibu Yuni membenarkan jika ada orang yang membantunya saat hendak memulangkan jasad bayinya ke Takalar. Ia bersyukur saat itu bisa memulangkan dan menguburkan langsung anaknya di kampung halaman.

“Alhamdulillah pak, ada orang bantu kami, kami tidak tahu siapa, mereka beri kami unag Rp 1 juta, dan itu membantu kami hingga bisa mendapat Rp 5 juta dari sesama pasien yang membantu. Kami tidak punya uang sama sekali waktu itu,” ujar Heruddin,

Ia juga mengatakan pasrah saat membawa anaknya di RS Wahidin lantaran melihat kondisi anaknya yang sekarat, ia menggunakan biaya kesehatan jalur umum dan bukan BPJS sehingga menunggak hingga Rp12 juta.

“Kami masih punya utang Rp 7 Juta di Rumah Sakit, dan dalam keterangan di surat pernyataan BPJS ditunggu hingga hari Senin 6 Januari 2020, jika tidak kami harus menanggung biaya jalur umum itu, sebelum jam 12 pak kami diperintahkan urus BPJS anak kami pak,” kata Haeruddin.

Dikonfirmasi pihak Rumah Sakit Wahidin, Koordinator Piutang, Rostina Limbong membenarkan jika orangtua pasien memiliki tunggakan Rp 7 juta sisa pembayaran. Namun pihak RS masih memberi waktu hingga jam 12 siang pada 6 Januari 2020.

“Kami luruskan, bahwa tak ada yang menahan bayi meninggal saat itu, ibu itu terkendala di BPJS sehingga kami minta urus hingga Senin 6 Januari 2020. Pasien menggunakan jalur umum sebelumnya,” kata Rostina saat dikonfirmasi melalui selularnya.

Bayi tersebut berada di ruang PICU RS Wahidin Sudirohusodo pada Kamis 2 Januari 2020 dan bayi meninggal pada 5 Januari 2020.

“Sekali lagi tak ada yang menahan, hanya pengurusan BPJS yang kami minta waktu untuk menyelesaiakn, karena bayi tak memiliki BPJS saat itu, dan orangtuanya masuk jalur umum dalam perawatan,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga telah memulangkan mayat bayi dengan bantuan sesama pasien menggunakan mobil pribadi dan telah mengebumikan jenasah bayi dari Ibu Yuni dan Haeruddin tersebut.