Update Banjir Lutra: 7 Orang Dilaporkan Hilang

Kabarmakassar.com — Curah hujan di Luwu Utara yang mengakibatkan banjir bandang di Dua Kecamatan di Baebunta dan Kecamatan Masamba mengakibatkan korban jiwa dan juga korban sementara dalam pencarian dan hilang terseret arus banjir. Wilayah yang terparah saat ini terjadi di Kelurahan Bone tua, Kecamatan Baebunta, Desa Radda bahkan akses jalan dilokasi tersebutsempat mengalami kelumpuhan total.

Kondisi terkini yang dihimpun oleh tim KabarMakassar.com hingga sore ini, Selasa (14/7), akses di Kecamatan Masamba dan Desa Radda yang sempat mengalami kelumpuhan kini mulai lancar kembali.

Bidang Sumber Daya PMI Luwu Utara, Irma mengatakan bahwa kondisi saat ini perlahan mulai dibenahi oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

“Sementara ini sedang dilakukan proses evakuasi dan pencarian orang hilang, dari laporan yang kami terima sekitar 7 orang dilaporkan telah hilang akibat insiden banjir ini” ungkap Irma saat dikonfirmasi KabarMakassar.com

Lanjut Irma jika pemerintah telah memberi bantuan berupa logistik, namun masyarakat yang terdampak banjir ini masih membutuhkan benerapa perlengkapan seperti selimut dan makanan.

Saat ini masyarakat sekitar juga banyak memberi bantuan apa lagi dibeberapa titik masih banyak warga yang mengungsi.

“Pengungsi saat ini tersebar dibeberapa titik seperti di Sekertariat PMI, Kantor Bupati, Kantor DPRD dan rumah-rumah Ibadah seperti Mesjid” tutup Irma

Saat ini kondisi cuaca di luwu utara masih dalam kondisi mendung, harap Irma semoga tidak ada lagi curah hujan yang bisa mengakibatkan banjir susulan.

BMKG: Hujan Lebat Sebabkan Banjir Bandang Luwu Utara

KabarMakassar.com — Banjir bandang di Luwu Utara yang terjadi di dua Kecamatan yakni Baebunta dan Masamba diakibatkan oleh intensitas hujan yang cukup deras di wilayah tersebut. Dimana selama dua hari berturut-turut hujan lebat tak pernah berhenti dri tanggal 12 hingga 13 Juli 2020. Hal tersebut dibenarkan pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar menyatakan jika di Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan memang hujan sedang hingga lebat terjadi selama dua hari berturut-turut.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Esti Kristantri mengatakan, hujan lebat yang terjadi di Lutra dipengaruhi Suhu Muka Laut yang hangat di teluk Bone. Tidk hanya itu juga terdapat daerah belokan angin (konvergensi) di wilayah Sulawesi Bagian Tengah yang memicu pertumbuhan awan konvektif (Cumulonimbus) yang mengakibatkan terjadinya hujan lebat.

“Potensi hujan masih ada hingga 15 juli 2020 besok, namun setelahnya tiga hari kedepan di perkirkan intensitas hujan mulai turun.

BMKG juga mengimbau masyarakat sekitar untuk tetap waspada, tetap tenang dan mencari tempat perlindungan yang aman serta selalu memantau perkembangan cuaca di situs resmi BMKG.

Hingga berita ini diturunkan dari data Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) setempat, korban meninggal dunia sampai saat ini lima orang. Dimana tiga diantaranya berada di RSUD Andi Djemma Masamba dan dua korban meninggal di RS Hikmah Luwu Utara.

Kelima korban meninggal tersebut telah di identifikasi, dikabarkan pula jika sebanyak 19 kepala keluarga (KK) atau 95 warga di wilayah bantaran Sungai Masamba yang ada di kelurahan Bone dan Bone Tua, mengungsi di Gedung Pemuda, Jalan Syuhada Masamba, Luwu Utara.

Tiga Hari Pasca Banjir, Kabupaten Bantaeng Berangsur Pulih

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Bantaeng terus berupaya menangani dampak banjir setelah di Bantaeng. Proses evakuasi material lumpur terus dilakukan dengan kerja sama relawan, ASN, TNI dan Polri serta masyarakat setempat.

Bupati Bantaeng, DR Ilham Azikin memantau langsung pembentukan posko kesehatan dan pembentukan dapur umum yang didirikan TNI dan Polri. Fasilitas ini didirikan di sekitar pelataran kolam renang Be’lang.

Selain itu, Bupati Bantaeng, DR Ilham Azikin bersama sejumlah forkopimda juga terus memantau kerja bakti yang dilakukan di sejumlah titik material lumpur. Fokus penanganan material lumpur dilakukan di Pasar Sentral Baru Bantaeng. Targetnya, pasar ini bisa kembali beraktivitas secepat mungkin.

Sekretaris Daerah Bantaeng, Abdul Wahab mengatakan, sejauh ini proses kerja bakti terus dilakukan. Proses perbaikan fasilitas umum juga dilakukan.

Dia mengatakan, Pemkab Bantaeng juga telah berkoordinasi dengan pihak PLN untuk menyelesaikan kerusakan jaringan listrik akibat banjir. Hingga, siang ini, perbaikan jaringan listrik sudah 100 persen pulih.

“Jaringan listrik kembali pulih 100 persen,” jelas dia.

Dia menambahkan, selain jaringan listrik juga telah dibenahi jejaring air bersih bersama tim PDAM Bantaeng. Dia mengakui, akibat banjir, banyak jaringan PDAM yang patah dan rusak. “Jaringan PDAM juga akan segera mungkin dipulihkan,” jelas dia.

Dia menambahkan, saat ini tercatat ada sebanyak 2.233 rumah yang rusak akibat bencana banjir itu. Total kerugian ditaksir mencapari Rp25 miliar. Selain itu, Pemkab Bantaeng juga telah melakukan assesment terhadap warga yang menjadi korban banjir. Tercatat sejauh ini sudah ada 6.300 warga Bantaeng yang terkena dampak banjir.

“Kita juga telah menambah dapur umum di pelataran kolam renang Be’lang,” jelas dia.

Jadi Bulan-bulanan Banjir, Warga Lumpue Mengadu ke DPRD

KabarMakassar.com — Kelurahan Lumpue selalu menjadi bulan-bulanan banjir setiap musim penghujan tiba. Bahkan, kerap kali ketinggian airnya mencapai satu meter.

Olehnya itu, Ketua RW VIII Kleurahan Lumpue, Sulaiman Abbas meminta agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut. Pasalnya selain mengganggu aktifitas, juga menyebabkan kerugian materiil bagi warga.

“Kalau hujan deras datang pasti lokasi kami tergenang banjir. Menjebol tanggul, tanaman petani rusak. Kami harap ini ditindaklanjuti,” kata Sulaiman usai hearing dengan Komisi III di Kantor DPRD Parepare, Rabu (19/2).

Pada kesempatan tersebut, Sulaiman mewakili warga mengusulkan pembangunan saluran air baru untuk mengatasi banjir yang sering terjadi di wilayahnya. Ia berharap, aspirasi tersebut direspon dan diakomodir.

“Kami mengusulkan pihak terkait untuk membuat saluran drainase baru. Karena kalau datang banjir tidak ada saluran keluarnya. Rumah warga terendam,” ujarnya.

Menanggapi keluhan masyarakat Kelurahan Lumpue, Ketua Komisi III DPRD Parepare, Rudi Najamuddin mengatakan, pihaknya telah menaikkan anggaran penanggulangan banjir.

Menurut dia, saat ini anggaran penanggulangan banjir nilainya sebesar Rp3,7 miliar.

“Kami harap dalam pembangunan saluran nantinya melibatkan masyarakat. Agar ada sinergi yang baik dalam perencanaan pembangunan,” kata Rudi.

Sementara, anggota Komisi III, Yasser Latief mengatakan, kondisi seperti ini banyak terjadi di Parepare. Olehnya itu, ia mengusulkan kepada pihak terkait segera menurunkan tim untuk mengecek secara langsung ke lapangan.

“RW pernah melapor ke saya, katanya sudah beberapa kali datang tim meninjau tapi belum ada eksekusi,” ungkapnya.

Kadis PUPR Parepare, Laetteng mengatakan, pihaknya akan segera melakukan pengkajian untuk selanjutnya dilakukan pembangunan saluran baru.

Warga Terdampak Banjir Bandang Mengungsi ke Rujab Bupati Enrekang

KabarMakassar.com — Warga lingkungan Kukku, Kelurahan Lewaja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan terpaksa mengungsi sejak hujan deras yang mengakibatkan banjir di wilayah tersebut pada Sore, Senin (20/1) kemarin.

Ratusan warga terpaksa mengungsi ke rumah Jabatan Bupati Enrekang, Muslimin Bando. Selain merendam rumah, sejumlah kendaraan warga juga terendam banjir bandang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Enrekang dalam keterangannya mengatakan, banjir di sebabkan hujan dengan intensitas tinggi membuat air di hulu sungai Lewaja meluap.

“Air sungai lewaja yang meluap sehingga menggenangi rumah warga di Perumahan Al-Murarokah, Kukku. Warga yang bermukim di kompleks tersebut harus dievakuasi,” Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Enrekang, Lukman Dering, Selasa (21/1).

Dikabarkan jika ratusan rumah terendam banjir dengan ketinggian air lebih dari dua meter. Selain pihak Basarnas, BPBD Enrekang juga dibantu personel TNI Kodim 1419 turun membantu warga yang terjebak banjir di perumahan Al-Murarokah, Kukku.

Sebagian korban yang mengalami sakit atau terjepit di larikan ke RS Massenrempulu dan juga di beberapa puskesmas terdekat di Enrekang.

“Warga yang dilarikan ke Rumah Sakit diakibatkan karena kedinginan, sehingga pagi ini sebagian warga sudah kembali ke rumah masing-masing karna air sungai lewaja sudah surut,” ujar Lukman Dering.

BPBD Enrekang juga menurunkan dua perahu karet mengevakuasi ibu dan anak-anak. Beberapa unit mobil ambulans juga ikut membantu evakuasi warga ke Rujab Bupati Enrekang. Evakuasi dilakukan sekitar 5 jam hingga air surut.

“Ada dua unit mobil dan dua unit motor milik warga ikut terbawa arus air. Warga yang bermukim di kompleks tersebut sementara mengungsi di Rujab Bupati Enrekang,” tutup Lukman Dering.

BPBD Tator Kirim Bantuan Logistik ke 5 Kabupaten Terdampak Banjir

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Tana Toraja (Tator) melalui Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Tator bakal menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa logistik, bahan bangunan dan terpal untuk lima kabupaten yang terdampak banjir beberapa waktu lalu.

Kepala BPBD Tana Toraja, Alfian Andilolo mengatakan jika dalam waktu dekat pihak Pemkab Tator bakal mengirim bantuan kemanuasian bagi korban terdampak banjir dan bangin kencang di lima kabupaten diantaranya, Kabupaten Sidrap, Pinrang, Kota Parepare, Barru dan Soppeng.

“Berdasarkan perintah bapak Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae kemarin, dalam waktu dekat pemerintah akan membawa dan memberikan bantuan kemanusiaan berupa logistik, bahan bangunan dan terpal untuk 5 Kabupaten yang terdampak bencana banjir,” tulis pesan Alfian Andilolo, Rabu (15/1).

Alfian juga menjelaskan jika bantuan kemanusiaan tersebut, Pemkab Tana Toraja memberi program bertajuk Sentuhan Peduli Sesama.

“Kita beri bantuan untuk wilayah yang terdekat dari Kabupaten Tana Toraja,” tambahnya.

Sementara itu data BPBD Provinsi Sulsel melansir 17 Kabupaten dan Kota di Sulsel yang terdampak banjir dan angin kencang data Periode Januari 2020 diantaranya,

1. Maros, Angin Kencang dan Puting Beliung, jumlah rumah rusak 17 rumah.
2. Pangkep, Angin Kencang dua kali kejadian , jumlah rumah rusak 2 rumah.
3. Barru, Angin Kencang (184 rumah rusak), Tanah Longsor (-) dan Banjir (121 rumah terendam banjir), total 305 terdampak.
4. Soppeng, Angin Kencang (102 rumah rusak).
5. Wajo, Puting Beliung (323 rumah rusak), bangunan sekolah rusak 4, 1 unit tempat ibadah dan 2 bangunan sarana kesehatan rusak, total 330 terdampak.
6. Sidrap, Puting Beliung (2014 rumah rusak), bangunan sekolah rusak 6, 2 rumah ibadah dan 1 sarana kesehatan, 4 kantor dan 30 kios rusak.
Banjir Sidrap, 460 rusak, 3 sekolah, 1 sarana kesehatan, 2 kantor dan 2 kios terendam banjir.
7. Enrekang, Angin Kencang 9 rumah rusak, dan 1 kantor rusak.
8. Pinrang, Angin Kencang dua kali kejadian, 888 rumah rusak, 1 sarana keseahatan rusak. Banjir Pinrang 206 rumah terendam banjir, 3205 Hektar sawah terendam, dan 25 rumah terdampak abrasi.
9. Toraja Utara, tanah longsor 3 kali kejadian, 1 rumah rusak, 1 sekolah, 1 kantor dan 1 sarana kesehatan, total 4 bangunan rusak.
10. Bulukumba, Angin kencang dua kali kejadian, 1 bangunan rusak.
11. Tana Toraja, Tanah Longsor 1 kali.
12. Jeneponto, Angin Kencang dan Puting Beliung 4 rumah terdampak.
13. Parepare, Angin Kencang 690 rumah rusak dan 2 rumah ibadah rusak akibat angin kencang.
14. Gowa, Angin Puting Beliung 16 rumah rusak.
15. Bone, Angin Puting Beliung, 23 rumah rusak.
16. Selayar, Angin Kencang 9 kali kejadian, 13 rumah rusak dan 1 sekolah.
17. Takalar, Angin Kencang dua kali kejadian, 2 rumah rusak.

BPBD Sulsel: Banjir Sudah Mulai Surut

KabarMakassar.com — Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan melaporkan situasi pasca banjir bandang di sejumlah wilayah di Sulsel. Dimana data yang dihimpun BPBD Sulsel jika banjir di daerah sudah mulai surut.

Meninjau seluruh wilayah Sulsel yang terdampak banjir, Kepala BPBD Sulsel, Ni’mal Lahamang memastikan jika banjir di Kabupaten Barru, Kota Parepare, dan Kabupaten Sidrap telah surut.

“Jalan yang kemarin terendam air 50 centimer sudah habis semuanya,” kata Ni’mal Lahamang, Senin (13/1) saat dihubungi KabarMakassar.com

Menurutnya kerusakan yang terjadi akibat angin kencang juga telah ditangani oleh pemerintah dan BPBD setempat.

“Yang sekarang itu rumah rusak akibat angin kencang, sudah ditangani BPBD masing-masing daerah, nanti kalau BPBD daerah tersebut tidak sanggup tangani, baru kita tangani,” tambahnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, HM Nurdin Abdullah, ia memastikan jika banjir surut di sebagian wilayah Sulsel dan kondisi sudah dipastikan normal kembali.

“Kondisi sudah kembali normal semua karena memang airnya cuma melintas sema angin, tapi curah hujan yang sangat tinggi. Kalau di Kabupaten Barru memang cepat surut,” ungkap Nurdin Abdullah.

Nurdin juga mengatakan, seluruhnya dari kejadian banjir telah ditangani berkat kolaborasi seluruh pihak terkait.

“Semuanya sudah kita tangani, ini berkat kolaborasi bersama Polri, TNI, bersama Pemprov, ada dana tanggap darurat kita berikan untuk perbaikan rumah-rumah yang kena angin puting beliung beberapa waktu lalu,” tambahnya.

Sebelumnya BPBD Sulsel kembali melaporkan data terbaru, info bencana akibat cuaca ekstrim di Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari BPBD Sulsel, ada 4 daerah dilanda banjir dan 1 daerah dilaporkan dilanda angin kencang.

Dampak dari cuaca ekstrim di Sulsel melanda kota Watansoppeng, Kabupaten Soppeng pada hari Minggu, (12/1) yang terjadi di Dua kecamatan donri-donri dan Kecamatan Marioriawa mengakibatkan banjir.

Banjir terjadi setelah hujan deras melanda Kota Soppeng yang mengakibatkan Sungai Leworeng meluap. Bahkan dikabarkan 1 orang korban dilaporkan dalam bencana ini, korban terpeleset dari tangga dan hanyut terbawa arus dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Tak hanya itu jalan yang menghubungkan antara Soppeng dan Sidrap aksesnya terputus dan terhambat. Akibat derasnya air banjir, listrik dimatikan sementara. Kerugian material belum dapat ditaksir pasalnya masih dalam proses pendataan. Saat ini tim BPBD kabupaten setempat terus melakukan koordinasi dalam penanganan ini.

Selain itu, Kabupaten Barru juga menjadi daerah terdampak dari cuaca ekstrim. Dilaporkan kabupaten Barru dilanda banjir dan angin kencang di 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Balusu, Kecamatan Sop. Riaja, dan Kecamatan Mallusetasi.

Akibatnya, arus lalulintas trans Sulawesi sempat macet, rumah penduduk tergenang air dan sejumlah infrastruktur mengalami kerusak. Dilaporkan, satu orang meninggal dunia akibat terbawa arus banjir.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Sidrap, dilaporkan, hujan yang secara terus menerus selama 3 hari dengan intensitas tinggi mengakibatkan beberapa wilayah di kabupaten sidenreng Rappang mengalami banjir. Tidak ada korban jiwa dalam bencana ini. Namun dilaporkan 460 rumah, 2 kantor pemerintahan, 7 sekolah, dan satu fasilitas kesehatan sempat terendam banjir.

Sementara itu, Kabupaten Bantaeng diterjang angin kencang buang mengakibatkan dua ruang kelas SD inpres 73 Paranglabbua rusak berat dan satu unit rumah dinas mengalami kerusakan ringan. Kerugian yang ditimbulkan ditaksir kurang lebih Rp 200.000.000. tidak ada korban dalam kejadian ini.

Tanah longsor terjadi di kabupaten Gowa, berdasarkan informasi yang diperoleh, longsor yang terjadi di Kecamatan Tinggimoncong mengakibatkan tertutupnya badan jalan di Dusun Pa’Bentengan Parang Bugisi Malino.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini namun, sebagian bahu jalan dengan panjang lebih 5 meter terkikis dan Ketinggian longsoran 3 meter menutup bahu hingga badan jalan tertutup. Namun telah ditangani oleh pemerintah setempat, BPBD dan SAR setempat.

Gubernur Sulsel di Barru ke Rumah Duka Korban Banjir di Takkalasi

KabarMakassar.com — Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Prof HM Nurdin Abdullah bersama Bupati Barru, Suardi Saleh, melayat ke kediaman bocah korban bencana banjir di Kelurahan Takkalasi, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Senin, (13/1).

Dilaporkan, bocah bernama Rafi meninggal di belakang Kantor Kecamatan Balusu, Minggu (12/1)). Korban dinyatakan meninggal setelah hanyut terbawa arus.

“Saya menyampaikan rasa duka meninggalnya anak kita yang dalam proses pertumbuhan. Kita merasa kehilangan. Semoga dilapangkan jalannya dan kuburannya dijadikan taman-taman surga,” kata Nurdin Abdullah.

Korban masih berusia delapan tahun dan berada pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Korban kemarin ikut menemani ayah dan neneknya.

“Kemarin ke empang menemani bapak dan neneknya. Kemudian diantar pulang oleh bapaknya. Tapi ternyata anak ini kembali ikut lagi (di belakang) bapaknya,” kata Suardi Saleh.

Anak tersebut ditemukan sekira pukul 19.30 Wita. Suardi menyampaikan bahwa anak tersebut terpeleset di empang.

Selain Gubernur, sejumlah warga sekitar juga masih berdatangan ke rumah duka sejak semalam.

“Tadi malam setelah Shalat Isya ditemukan. Hilangnya sekitar jam lima sore. Ditemukan di belakang Kantor Camat, tinggi airnya setinggi dada orang dewasa,” kata Nuraeda, salah seorang warga Takkalasi, yang juga datang melayat.

Sebelumnya, di tahun 2018 di kelurahan yang sama, dua orang juga menjadi korban banjir, yakni Sulfiah (14) dan Muhammad (53). Ketika itu, Nurdin Abdullah juga melakukan kunjungan ke rumah duka.

Selain di Takkalasi, Gubernur juga melakukan kunjungan ke daerah terdampak cuaca ekstrem lainnya, didampingi Kepala Dinas Sosial Sulsel Agustinus Appang, Kepala Dinas PUPR Sulsel Prof Rudy Djamaluddin, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Infokom Sarbini, dan Kepala BPBD Sulsel Ni’mal Lahamang.

Di Kantor Kecamatan Soppeng Riaja, Nurdin Abdullah menyerahkan bantuan dua ton beras dan kebutuhan lainnya.

“Kami ke daerah untuk memberikan bantuan kepada warga, baik berupa sembako dan hal-hal yang dibutuhkan,” kata Agustinus Appang.

BPBD Pinrang: 3.572 Hektare Sawah di Pinrang Direndam Banjir

KabarMakassar.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang merilis data dampak bencana yang terjadi sejak Jumat hingga Minggu 12 Januari 2020. Dimana sekira 3.572 Hektare sawah terendam banjir.

Selain sawah, ada sekitar 206 rumah warga di Kabupaten Pinrang juga terdampak banjir.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pinrang, Muhammad Sayuti Made merilis data di ruang kerjanya, jika jumlah sawah milik warga di Pinrang terendam sebanyak 3.572,5 Hektar lahan sawah dan sebanyak 206 rumah penduduk ikut terendam banjir.

“Akibat bencana ini, ada 9 Kecamatan di Pinrang sesuai data yang masuk sebanyak 3.572,5 Ha lahan sawah dan rumah sebanyak 206 yang terendam banjir, ini baru data sementara”, kata Sayuti kepada KabarMakassar.com, Senin (13/1).

Diketahui Kecematan Tiroang terparah sebanyak 1.311,5 Hektare sawah terendam dan di susul Kecematan Watang Sawitto sebanyak 697 Ha sawah.

Berikut rincian lengkap data dari BPBD Kabupaten Pinrang,

1. Kecamatan Watang Sawitto :
– Kel. Siparappe : 500 Ha
– Kel. Sipatokkong : 105 Ha
– Kel. S a l o : 52 Ha
– Kel. Bentengnge : 35 Ha
– Kel. MaccorawaliE : 5 Ha
Jumlah : 697 Ha

2. Kecematan Patampanua :
– Desa Mattiro Ade : 120 Ha
Jumlah: 120 Ha

3. Kecamatan Paleteang :
– Kelurahan Maminassae : 15 Ha
– Kelurahan Laleng Bata : 90 Ha
– Kelurahan Benteng Sawitto : 183 Ha
– Kelurahan Temmasarange : 5 Ha
– Kelurahan Macinnae: 2 Ha
Jumlah total : 295 Ha

4. Kecematan Duampanua :
– Kel. Tatae’ luas yang ditanam 870 Ha dan 220 Ha.
– Kel. Data akibat Abrasi Pantai : 25 Rumah terendam banjir.
Jumlah terendam 220 Ha

5. Kecematan Suppa :
– Kel. Tellumpanua Perumahan Cacat LVRI terendam : 40 KK Ketinggian air ± 75 Cm.

6. Kecematan Cempa :
– Desa Mattunru-tunrue kelompok tani :
1. Mat. Deceng : 45 Ha
2. MappasitujuE : 15 Ha
3. Harapan Tani : 15 Ha
– Desa TanratuO : 164 Ha
Jumlah sawah terendam: 239 Ha

7. Kecematan Mattiro Bulu:
– Kel. Manarang : 100 Ha

8. Kecematan Tiroang :
– Kel. Marawi : 410 Ha
– Kel. Mt. Deceng : 60 Ha
– Kel. Tiroang : 62,5 Ha
– Kel. Pammase : 734 Ha
– Kel. Pakkie’ : 45 Ha
Jumlah : 1.311,5 Ha.

9. Kecematan Mattiro Sompe:
– Kel. Langa : 15 Ha
– Desa Siwolong-polong : 165 Ha
– Desa Mattongeng-tongeng : 140 Ha, serta 63 Rumah terendam banjir.
– Samaenre : 115 Ha
– Patobong : 95 Ha
– Massulowaie : sawah 15 Ha, serta 51 Rumah terendam banjir.
– Desa Mattiro Tasi : 45 Ha
– Desa Mattombong : 27 Rumah terendam banjir.
Jumlah sawah terendam: 590 Ha.

Total keseluruhan jumlah sawah, kebun dan tambak yang terendam: 3.572,5 Hektare.
Total jumlah rumah yang terendam: 206 rumah terendam banjir.