BPBD Sulsel: Banjir Sudah Mulai Surut

KabarMakassar.com — Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan melaporkan situasi pasca banjir bandang di sejumlah wilayah di Sulsel. Dimana data yang dihimpun BPBD Sulsel jika banjir di daerah sudah mulai surut.

Meninjau seluruh wilayah Sulsel yang terdampak banjir, Kepala BPBD Sulsel, Ni’mal Lahamang memastikan jika banjir di Kabupaten Barru, Kota Parepare, dan Kabupaten Sidrap telah surut.

“Jalan yang kemarin terendam air 50 centimer sudah habis semuanya,” kata Ni’mal Lahamang, Senin (13/1) saat dihubungi KabarMakassar.com

Menurutnya kerusakan yang terjadi akibat angin kencang juga telah ditangani oleh pemerintah dan BPBD setempat.

“Yang sekarang itu rumah rusak akibat angin kencang, sudah ditangani BPBD masing-masing daerah, nanti kalau BPBD daerah tersebut tidak sanggup tangani, baru kita tangani,” tambahnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, HM Nurdin Abdullah, ia memastikan jika banjir surut di sebagian wilayah Sulsel dan kondisi sudah dipastikan normal kembali.

“Kondisi sudah kembali normal semua karena memang airnya cuma melintas sema angin, tapi curah hujan yang sangat tinggi. Kalau di Kabupaten Barru memang cepat surut,” ungkap Nurdin Abdullah.

Nurdin juga mengatakan, seluruhnya dari kejadian banjir telah ditangani berkat kolaborasi seluruh pihak terkait.

“Semuanya sudah kita tangani, ini berkat kolaborasi bersama Polri, TNI, bersama Pemprov, ada dana tanggap darurat kita berikan untuk perbaikan rumah-rumah yang kena angin puting beliung beberapa waktu lalu,” tambahnya.

Sebelumnya BPBD Sulsel kembali melaporkan data terbaru, info bencana akibat cuaca ekstrim di Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari BPBD Sulsel, ada 4 daerah dilanda banjir dan 1 daerah dilaporkan dilanda angin kencang.

Dampak dari cuaca ekstrim di Sulsel melanda kota Watansoppeng, Kabupaten Soppeng pada hari Minggu, (12/1) yang terjadi di Dua kecamatan donri-donri dan Kecamatan Marioriawa mengakibatkan banjir.

Banjir terjadi setelah hujan deras melanda Kota Soppeng yang mengakibatkan Sungai Leworeng meluap. Bahkan dikabarkan 1 orang korban dilaporkan dalam bencana ini, korban terpeleset dari tangga dan hanyut terbawa arus dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Tak hanya itu jalan yang menghubungkan antara Soppeng dan Sidrap aksesnya terputus dan terhambat. Akibat derasnya air banjir, listrik dimatikan sementara. Kerugian material belum dapat ditaksir pasalnya masih dalam proses pendataan. Saat ini tim BPBD kabupaten setempat terus melakukan koordinasi dalam penanganan ini.

Selain itu, Kabupaten Barru juga menjadi daerah terdampak dari cuaca ekstrim. Dilaporkan kabupaten Barru dilanda banjir dan angin kencang di 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Balusu, Kecamatan Sop. Riaja, dan Kecamatan Mallusetasi.

Akibatnya, arus lalulintas trans Sulawesi sempat macet, rumah penduduk tergenang air dan sejumlah infrastruktur mengalami kerusak. Dilaporkan, satu orang meninggal dunia akibat terbawa arus banjir.

Banjir juga terjadi di Kabupaten Sidrap, dilaporkan, hujan yang secara terus menerus selama 3 hari dengan intensitas tinggi mengakibatkan beberapa wilayah di kabupaten sidenreng Rappang mengalami banjir. Tidak ada korban jiwa dalam bencana ini. Namun dilaporkan 460 rumah, 2 kantor pemerintahan, 7 sekolah, dan satu fasilitas kesehatan sempat terendam banjir.

Sementara itu, Kabupaten Bantaeng diterjang angin kencang buang mengakibatkan dua ruang kelas SD inpres 73 Paranglabbua rusak berat dan satu unit rumah dinas mengalami kerusakan ringan. Kerugian yang ditimbulkan ditaksir kurang lebih Rp 200.000.000. tidak ada korban dalam kejadian ini.

Tanah longsor terjadi di kabupaten Gowa, berdasarkan informasi yang diperoleh, longsor yang terjadi di Kecamatan Tinggimoncong mengakibatkan tertutupnya badan jalan di Dusun Pa’Bentengan Parang Bugisi Malino.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini namun, sebagian bahu jalan dengan panjang lebih 5 meter terkikis dan Ketinggian longsoran 3 meter menutup bahu hingga badan jalan tertutup. Namun telah ditangani oleh pemerintah setempat, BPBD dan SAR setempat.

Iqbal Kunjungi Lokasi Rawan Banjir Toa Daeng III dan BTN Kodam 3

KabarMakassar.com — Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb, meninjau lokasi banjir di Jalan Toa Daeng lll tepatnya di lorong Muttahid 1 RT 05/RW 08, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, Senin (13/1).

Di lokasi tersebut Iqbal menelusuri jalan di perumahan lorong Muttahid 1 yang digenangi air setinggi lutut orang dewasa. Iqbal memantau ketinggian air yang menggenangi beberapa rumah warga.

Iqbal mengatakan dalam mengantisipasi banjir di Toa Daeng ke depannya Pemkot Makassar memprioritaskan membangun jalan di perumahan penduduk tersebut dengan meninggikan ruas jalan setinggi 80 CM.

“Tahun ini Pemkot sudah menganggarkan untuk meninggikan jalan sepanjang 600 Meter di perumahan warga Toa Daeng III,” jelasnya.

Ditanya menganai program jangka panjang, Iqbal menjawab bahwa pihaknya akan membangun kolam penampungan.

“Kita akan cari lahan untuk dibebaskan selanjutnya kita buatkan kolam penampungan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi banjir selain perbaikan jalan,” ungkapnya.

Dalam peninjauannya di BTN Kodam lll Iqbal menuju Jalan Kotipa XVI, Blok C 6. Di sini, Iqbal memantau ketinggian air dari sungai Biring Je’ne yang apabila airnya meluap langsung memasuki pemukiman warga di BTN Kodam lll.

“Kita lihat akibat tidak ada pembatas yang menahan aliran air sepanjang sungai Biring Je’ne sehingga mengakibatkan air tumpah ke pemukiman warga. Apalagi sungai ini terjadi pendangkalan dan harus dilakukan pengerukan nanti kita akan bahas penanganannya sampai di tingkat provinsi,” terang Iqbal.

Banjir Jabodetabek, BNPB: 53 Orang Meninggal dan Satu Hilang

KabarMakassar.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban banjir yang mengungsi di kawasan Jabodetabek mencapai 173.064 Orang.

Sedangkan, untuk korban meninggal berjumlah 53 orang termasuk 1 orang masih dikabarkan hilang.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi BNPB Bambang Surya Putra mengatakan, laporan tersebut tercatat pada Sabtu (4/1/2020) per pukul 06.00 WIB.

“Hingga saat ini tercatat ada 173.064 pengungsi itu tersebar di 277 titik pengungsian, di Jabodetabek,” kata Bambang dalam diskusi bertajuk “Banjir Bukan Takdir?” di Jalan Baiduri Bulan, Bidara Cina, Jakarta Timur, Sabtu (4/1/2020). Dikutip dari Suara.com.

Berkaitan dengan kondisi debit air sendiri, Bambang menginfornasikan rata-rata banjir di sejumlah titik sudah surut.

Begitupun dengan debit air yang berada di sungai-sungai juga sudah turun meski masih ada beberapa yang masih tinggi terutama di Bekasi dan Kabupaten Bogor.

“Namun ada beberapa bagian sungai di Bekasi dan Kabupaten Bogor itu memang tanggulnya ya jebol. Jadi itu lagi ditangani, ujarnya.

Ini yang Harus Dilakukan Sebelum, Sesaat dan Sesudah Banjir

KabarMakassar.comРBencana alam itu selalu ada menghiasi warna-warni kehidupan di alam ini. Baik itu merupakan bencana alam kecil atau pun besar. Bencana alam banyak yang menimbulkan kerusakan dalam skala kecil maupun yang dapat menimbulkan kerusakan dalam skala besar. 

Nah, belakangan ini marak diberitakan berbagai bencana alam yang telah terjadi hampir di seluruh dunia, di Negara kita Indonesia pun tidak luput dari berbagai bencana alam, salah satunya banjir.

Banjir merupakan peristiwa meluapnya air yang menggenangi permukaan tanah, namun ketinggiannya melebihi batas normal. Banjir dapat disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, badai, gelombang pasang, atau peristiwa alam lainnya. Banjir juga dapat diakibatkan oleh perilaku manusia, seperti berkurangnya daerah resapan air akibat penebangan hutan dan pengembangan pemukiman, buruknya penanganan sampah dan saluran air, dan sebagainya.

Banjir yang tidak dapat ditangani bisa menimbulkan kerugian dan korban jiwa. Bencana banjir sering diikuti dengan berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit kulit, diare, demam berdarah, leptospirosis, dan lain-lain. Penyakit yang timbul disebabkan oleh cara hidup yang tidak sehat, termasuk mengonsumsi air yang tidak bersih.

Ingatkah Anda pada peristiwa banjir Jakarta di tahun 2007? Pada 1 Februari 2007, hampir 60% wilayah DKI Jakarta tergenang air. Menurut data PMI DKI Jakarta terdapat 48 orang meninggal dan 337.181 orang terpaksa mengungsi di tempat penampungan, seperti di sekolah, rumah ibadah, jalan raya, dan fasilitas umum lainnya. Dengan banyaknya kerugian yang ditimbulkan oleh banjir, maka Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan berbagai informasi kepada kita semua untuk menghadapi banjir.

Persiapan untuk menghadapi banjir

Bila tempat tinggal Anda merupakan daerah rawan banjir, atau daerah yang mempunyai potensi banjir, maka dilansir dari hellosehat.com, Kamis, (02/01/2020) Anda perlu melakukan hal-hal berikut ini:

1. Buatlah denah atau peta rumah dan lingkungan sekitar Anda. Beri tanda tempat-tempat yang biasanya terendam banjir. Tempat-tempat yang aman dan yang membahayakan juga harus ditandai. Jika Anda tidak dapat melakukannya sendiri, ajaklah keluarga Anda untuk melakukannya. Carilah informasi dari orang lain di sekitar Anda. Jika peta sudah jadi, diskusikan langkah-langkah penanggulangan banjir.

2. Ketahui sistem peringatan dini di lingkungan Anda. Misalnya, imbauan dari pengeras suara rumah ibadah, lonceng, kentongan, sirine, dan lain-lain. Jika lingkungan rumah Anda tidak memilikinya, laporkan ke ketua RT/RW atau kepala desa agar disepakati.

3. Pahami tanda-tanda terjadinya banjir dan waspadai jika itu terjadi. Misalnya adanya hujan lebat terus menerus, selokan yang meluap, dan tingginya air di dam atau di pintu air yang melebihi batas normal.

4. Perhatikan kondisi sungai di sekitar rumah Anda. Apakah lebih keruh dari biasanya? Jika ya, maka Anda harus mewaspadai datangnya banjir, karena hujan di daerah yang lebih tinggi bisa menyebabkan banjir di daerah yang lebih rendah.

5. Simpanlah surat-surat penting seperti sertifikat tanah, ijazah, akte, rapor, dan lain-lain dalam plastik atau dalam kantong apapun yang kedap air.

Yang perlu dilakukan saat banjir melanda

Terkadang banjir memiliki tanda-tanda yang telah dicantumkan di atas. Namun, banjir bandang akan sangat berbahaya dan datang secara tiba-tiba tanpa tanda apapun. Jika banjir terjadi perlahan, Anda dapat melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:

1. Pindahkan barang-barang atau perabotan rumah ke tempat yang lebih tinggi dan tidak terjangkau oleh genangan air.

2. Segera padamkan listrik dan gas di rumah.

3. Pantaulah informasi penting yang disampaikan melalui radio, televisi, atau apapun yang ada di sekitar Anda.

4. Bersiaplah untuk kemungkinan mengungsi.

5. Perhatikan kondisi air, apakah terus meningkat atau tidak.

6. Jika hujan tidak berhenti dan air kelihatan tidak surut atau bahkan meningkat, segeralah mengungsi ke tempat yang aman atau ke tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah setempat.

7. Jika ada imbauan mengungsi, segera lakukan dengan tetap tenang dan tertib.

8. Jika terjebak dalam rumah, cobalah untuk tenang. Berusahalah untuk mencari pertolongan dengan menghubungi kerabat, PMI, kantor pemerintah, atau polisi.

9. Tetaplah menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

10. Usahakan untuk tidak tidur di tempat terbuka.

Yang perlu dilakukan setelah banjir

Usai banjir, Anda mungkin terpikir untuk kembali ke rumah. Oleh karena itu, ikutilah langkah-langkah berikut ini:

1. Jika mengungsi, kembalilah ke rumah jika keadaan sudah benar-benar aman.

2. Jangan langsung masuk ke dalam rumah, lihatlah situasi dengan saksama.

3. Periksalah lingkungan sekitar rumah kalau-kalau ada bahaya yang tersembunyi, seperti bagian rumah yang roboh, kabel beraliran listrik, bocoran gas, atau binatang berbahaya.

4. Gunakan selalu alas kaki.

5. Mulailah membersihkan rumah dan lingkungan sekitar Anda.

6. Cucilah perlengkapan makan dan barang lainnya dengan sabun anti kuman.

7. Perhatikan kebersihan dan kesehatan diri serta lingkungan agar terhindar dari berbagai penyakit.

Nah itulah beberapa tips yang harus anda lakukan sebelum dan setelah banjir dan perlu anda  ketahui bahwa setelah banjir surut, sampah yang hanyut, kotoran lumpur, dan genangan air masih ada di sekitar rumah. Berbagai penyakit bisa berjangkit, terutama disebabkan oleh air yang kotor, cara hidup tidak sehat, dan binatang seperti lalat, nyamuk, dan tikus. Jenis penyakit yang sering berjangkit antara lain: batuk dan pilek, Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA), flu, penyakit kulit, diare dan muntaber, demam berdarah, dan leptospirosis.