Antisipasi Bencana, BPBD Tana Toraja Siaga di Posko Terpadu

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tator mendirikan posko terpadu untuk merespon cepat informasi dari masyarakat terkait bencana.

Posko terpadu tersebut didirikan untuk penanganan bencana di dua kabupaten kembar di Sulsel yakni di wilayah Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Dimana pendirian posko tersebut merupakan kesepakatan dalam rapat koordinasi multi stakeholder di Mapolres Tana Toraja.

Kepala BPBD Tana Toraja, Alfian Andi Lolo ditemui di posko terpadu menjelaskan jika posko yang didirikan merupakan upaya pemerintah daerah untuk merespon cepat informasi masyarakat akan bahaya bencana atau saat terjadi bencana.

“Posko inikan didirikan sengaja di Plaza Kolam Makale, di pusat kota. Jelasnya ini agar masyarakat lebih mudah untuk mendapatkan informasi, kemudian tempat ini juga penerimaan laporan kejadian bencana, serta respon cepat penanganan laporan bencana,” kata Alfian, Jumat (10/1).

Alfian juga mengatakan jika informasi yang diterima Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu akan prakiran cuaca ekstrem untuk satu pekan mulai dari Minggu, (5/1/2020) hingga Minggu (12/1/2020).

“Dari peringatan dini itu, maka kami dengan sejumlah stakeholder sepakati untuk mendirikan posko, kami siapkan 24 jam dan berganti atau shift bagi para petugas dan ini dari berbagai unsur, muali dari BPBD, Dinsos, Dinkes, Tagana, infokom, Satpol, Kepolisian serta unsur TNI juga tergabung dalam posko terpadu ini,” tambah Alfian.

Ia menjelaskan jika ada beberapa wilayah yang berpotensi terjadinya bencana longsor, setidaknya ada enam kecamatan yang di antisipasi dari pihak BPBD diantaranya di Kecamatan Mappak, Simbuang, Bittuang, Gandasil, Malimbong Balepe hingga sebagian di wilayah Makale.

Tak hanya longsor, banjir dan juga angin kencang juga berpotensi terjadi saat hujan lebat terjadi di Tana Toraja. Hal ini dikatakan Alfian Andi Lolo jika sebelumnya memasuki awal tahun 2020 angin kencang mengakibatkan beberapa rumah rusak, serta alang atau tongkonan rusak diterpa angin puting beliung di beberapa wilayah di Tana Toraja.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan, dr Rudi Andilolo ditemui di posko terpadu juga menjelaskan jika ada sekira 3 hingga 5 petugas kesehatan.

“Kami juga siapkan tim kesehatan, dokter kami siapkan dan perawat serta ambulance yang siap sewaktu-waktu di butuhkan jika terjadi bencana,” ujar dr Rudi Andilolo.

Pantauan KabarMakassar.com sejak siang hari hingga sore, nampak Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae berada di posko terpadu. Dengan menggunakan pakaian adat Toraja, orang nomor 1 di Tana Toraja tersebut memantau petugas di posko dan sesekali berbincang dengan para petugas dari Dinkes, Dinsos hingga pejabat OPD yang berada di posko tersebut.

Data BPBD: Puting Beliung Rusak 3.743 Rumah di Sulsel

KabarMakassar.com — Cuaca ektrem yang melanda wilayah Sulawesi Selatan selama sepekan ini mengakibatkan ribuan rumah warga rusak yang berada di 4 daerah di Sulsel terdampak angin puting beliung.

Data dari Pusat pengendalian operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan melansir sebanyak 3.743 unit rumah rusak terdampak dari 4 daerah di Sulsel.

Empat daerah yang terdata dari BPBD Sulsel diantaranya, Kabupaten Sidrap, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, dan Wajo.

Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten masing-masing melaporkan detail laporan kejadian bencana angin puting beliung yang terjadi di Kabupaten Sidrap yang terjadi di 9 Kecamatan total rumah terdampak sebesar 1.802 unit, rumah rusak berat sejumlah 152 rumah, rusak sedang 197 rumah, rusak ringan 1.453 rumah.

Tak hanya itu, sarana pendidikan 4 unit juga terdampak, gedung serbaguna (umum) 1 unit, kantor pemerintahan 4 unit, usaha ekonomi 39 unit dan sarana ibadah 1 unit.

Sementara itu, Kota Parepare, data sementara yang telah dihimpun oleh Pusdalops BPBD Sulsel akibat bencana angin puting beliung yang terjadi di 4 kecamatan mengakibatkan sekitar 800 unit rumah terdampak. Tak hanya itu dilaporkan ada 2 orang mengalami luka sedang akibat runtuhan balok penyangga atap yang tertimpa oleh pohon tumbang, dan dilarikan ke RS. Type B untuk dilakukan penanganan selanjutnya.

Sedangkan update data kerusakan yang diakibatkan cuaca ekstrim kabupaten Pinrang, tercatat sekitar 888 unit rumah yang terdampak akibat hujan dan angin kencang yang terjadi di 9 kecamatan. Rusak berat 162 unit rumah, rusak sedang 245 unit, rusak ringan 481 unit rumah. Dilaporkan tidak ada korban pada kejadian ini.

Kabupaten Wajo, berdasarkan data yang diterima Pusdalops dari BPBD kabupaten, hujan deras dan angin puting beliung yang terjadi mengakibatkan 277 unit rumah terdampak, 1 unit masjid, 2 unit sarana kesehatan, 4 unit sekolah, 2 peternakan ayam, dan 1 unit tempat pelelangan ikan ikut terdampak bencana yang terjadi di 12 kecamatan. Tidak ada korban dalam kejadian ini.

Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah mengungkapkan pemerintah akan terus hadir untuk membantu masyarakat yang sedang mengalami musibah.

“Kita juga pastikan pada rakyat bahwa pemerintah hadir,” kata Nurdin Abdullah.

Menurutnya pemerintah terus melakukan pendataan, pasalnya Pemprov Sulsel telah menyiapkan sejumlah dana untuk tanggap darurat.

Kepala BPBD Pinrang: 120 Rumah Terdampak Bencana Angin Kencang

KabarMakassar.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang, terus melakukan pendataan di sejumlah titik yang kena dampak angin kencang di wilayah yang ada di Kabupaten Pinrang, Sulsel, sejak Ahad sore (5/1/2020).

Selain melakukan pendataan, BPBD Pinrang juga menyalurkan bantuan ke sejumlah warga yang terkena dampak angin kencang.

Data yang dihimpun KabarMakassar.Com dari BPBD Pinrang, sementara tiga Kecamatan yang terdata akibat angin kencang, yaitu Kecamatan Suppa, Kecamatan Lanrisang, dan Kecamatan Mattiro Sompe sebanyak 120 rumah.

Kepala BPBD Pinrang, Andi Matalatta mengatakan, pihaknya sementara melakukan pendataan dan melakukan rapat dengan para camat untuk segera melaporkan data Ril di wilayahnya.

“Data sementara baru 120 rumah dari tiga kecamatan. Kami baru selesai melakukan rapat dengan para camat agar memerintahkan para kades dan lurah yang wilayahnya terdampak angin kencang untuk segera membuat laporan ril kejadian,” kata Matalatta via seluler, Senin (6/1).