Kabar Makassar

Keluarga Belum Ketahui Mahasiswa UIM Jadi Korban Akademik

Dinamika Kampus

  • Penulis : Muhammad Fajar Nur
  • Terbit : 13.02.2018 - 17:44
  • Sekitar : Terbit 13/2/18
Keluarga Belum Ketahui Mahasiswa UIM Jadi Korban Akademik
[Foto: Dok. Aksi Kamisan]

KabarMakassar.com --- Kasus kekerasan akademik yang dirasakan salah satu mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) tidak hanya berdampak buruk bagi status mahasiswanya, tetapi juga berdampak pada tanggung jawabnya sebagai anak seorang petani yang bermimpi membahagiakan keluarganya.

Diwawancarai khusus oleh Tim Redaksi KabarMakassar.com dikediamannya di Jalan Perintis Kemerdekaan 7, Kota Makassar pada 13 Februari 2018.

Bakrisal Rospa atau yang kerap disapa Ical merupakan salah satu korban kekerasan akademik UIM menuturkan bahwa akibat pencabutan status mahasiswanya, mimpi-mimpinya untuk membahagiakan keluarganya terpaksa tertunda.

Ical menjelaskan bahwa dirinya dihadapi dilema besar antara berjuang memperbaiki sistem pendidikan atau membantu memperbaiki kondisi orang tuanya yang merupakan seorang petani di Enrekang.

"Saya berasal dari Enrekang, masuk di UIM tahun 2012 dan menjabat sebagai sekretaris BEM Fakultas Teknik pada tahun 2016 dimasa yang sama ketika saya di Drop Out," ungkap Ical.

Ical menambahkan bahwa niatnya untuk mengenyam pendidikan agar membantunya berpikir kritis demi membantu keluarga tidak berjalan sesuai harapan.

"Jujur, keluarga saya belum mengetahui kasus Drop out saya selama dua tahun ini," tambahnya.

Ical mengaku bahwa status mahasiswa yang telah dicabut oleh pihak kampus akibat mempertanyakan periode rektor yang melewati dua periode menjadi dilema baginya.

Orang tua Ical bekerja sebagai petani di Enrekang dan sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, Ical mempunyai tanggung jawab untuk membantu keluarga terutama adik-adiknya.

Ical menjelaskan alasanya untuk tidak memberitahukan keluarganya terutama orang tua yang berada di Enrekang disebabkan karena rasa khawatir akan mengecewakan dan mengkhawatirkan orang tua  di kampung halaman.

"Sebagai mahasiswa, saya dituntut kritis terutama dalam melihat bahwa kondisi pendidikan kita saat ini sedang tidak baik-baik saja, namun disatu sisi saya juga masih dilema karena mempunyai tanggung jawab pendidikan ke orang tua," ungkap Ical saat diwawancarai.

Ical saat ini tinggal bersama dengan korban lainnya sekaligus sahabatnya dari awal menjadi mahasiswa baru UIM.

Walau memiliki satu saudara yang juga berada di Kota Makassar, Ical sendiri mengaku tidak mengetahui apakah saudaranya telah mengetahui kasusnya.

"Ada kecurigaan mungkin dia sudah tau, apalagi kasus ini sempat viral dulu," tambahnya.

Saat ditanya bagaimana tanggapan Ical jika suatu saat kedua orang tua mengetahui status mahasiswanya sedang dicabut, Ical mengatakan tidak akan menyerah untuk terus berjuang demi keadilan.

"Yah kembali lagi, keadaan pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Kita punya tanggung jawab untuk menyelesaikan studi sebagai prioritas untuk semua mahasiswa namun penting memiliki pemikiran kritis ditengah-tengah mahasiswa sekarang," jelasnya.

Ichal menambahkan banyak kerugian akibat kasus Drop Out yang dia peroleh seperti waktu dan mental.

"Kerugiannya ada waktu, mental, dan pendidikan yang di satu sisi menjadi tanggung jawab ke orang tua," tambahnya.

Ical merupakan satu dari tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar yang mendapatkan surat Drop Out dari rektor akibat mempertanyakan masa jabatan rektor Universitas Islam Makassar (UIM), Dr Hj Andi Majdah M Zain MSi yang telah menjabat selama tiga periode yang dianggap tidak sesuai dengan aturan SE-Dikti 2075/D/T/1998 yang berisi batasan masa jabatan rektor Perguruan Tinggi hanya boleh selama dua periode.

Ical bersama temannya telah memenangkan kasusnya di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Makassar dalam menuntut pencabutan status mahasiswa sebagai bentuk kekerasan akademik.

Walau pihak UIM sempat mengajukan kasasi akibat tidak menyepakati keputusan banding, Ical bersama temannya kembali memenangkan perjuangannya setelah kasasi yang diajukan di tolak oleh Mahkamah Agung.

Hingga berita ini diturunkan, status mahasiswa Ical belum dipulihkan akibat permintaan kampus yang menjadikan berkas eksekusi sebagai syarat untuk memberikan kembali status mahasiswa Ical dan temannya

"Kendala sekarang itu ada di biaya administrasi untuk berkas eksekusi yang diminta kampus yang berjumlah Rp. 1.500.000 " tambah Henry, salah satu korban sekaligus sahabat Ical kepada tim Redaksi KabarMakassar.com. (*)