Situs Leang Leang Sebagai Situs Prasejarah yang Tertua di Dunia

Konjen Australia, Richard Matthews bersama para peneliti melihat artefak yang digunakan melalui tahapan 3D scan lab, di Taman Nasional Leang Leang.

Kabar Makassar — Sebelum Taman Nasional Bantimurung, destinasi wisata yang ada di Kabupaten Maros yakni Leang Leang merupakan salahsatu dari gugusan pegunungan karst yang sudah berumur ribuan tahun. Kawasan karst ini diakui sebagai yang terbesar kedua setelah yang ada di Guangzhou Cina.

Dengan area seluas 43.750 hektar, wilayah ini memiliki 286 goa termasuk 30 diantaranya adalah goa prasejarah.

Konsulat Jendral Australia yang berada di Makassar bekerjasama dengan Balai Arekologi Sulawesi Selatan dan Balai Pelestarian Cagar Budaya mengadakan penelitian tentang goa prasejarah yang berada di kawasan tersebut. Mendatangkan Peneliti dari Griffith University dan University of England Australia yang dibantu oleh Mahasiswa dari Universitas Hasanuddin dan Universitas Haluleo Kendari dalam proyek penelitian yang akan berlangung selama lima tahun.

Goa prasejarah di kawasan Leang Leang ini sangat menarik, di dinding goa terdapat lukisan-lukisan karya seni purbakala yang ditinggalkan penghuninya sebagai jejak tempat tinggal mereka.

Baca juga :   Perayaan Maulid Ini Bikin Merinding

Budianto Hakim dari Balai Arkeologi Sulsel mengatakan ada keunikan tersendiri dengan pulau Sulwesi. Beliau menjelaskan bahwa pulau Sulawesi adalah satu-satunya pulau yang tidak pernah menyatu dengan pulau lain. Di sekitarnya terdapat palung sehingga meskipun ada penyurutan laut di masa lampau tidak akan membuatnya menyatu dengan pulau lain.

“Bisa dibilang pulau Sulawesi ini adalah ‘melting bowl’ bagi beberapa ras sebelum mereka menempuh rute migrasi masing-masing ke belahan bumi lain,” tambah Budianto. Melting bowl adalah tempat berkumpulnya beberapa ras yang berada dari berbagai kawasan.

Arkeolog dari Griffith University Australia, David McGahan yang ikut serta dalam penelitian dan pengalian artefak yang berada berada di Leang Bulu Bettue, mengatakan adanya kemungkinan ras Aborigin yang berada di Australia juga memiliki kemiripan budaya masa lampau dengan masyarakat purbakala yang berada di Sulawesi Selatan.

Baca juga :   Partai Hanura Buka Pendaftaran Cawalkot Makassar

“Bukan hal yang mustahil jika budaya dan ras Aborigin di Australia juga berasal dari Sulawesi pada masa itu. Dilihat dari temuan yang berumur berusia 3900 tahun sebelum masehi masih memiliki umur yang sama dengan ras juga budaya Aborigin”, ungkap David.

Hal ini juga menjadikan situs Leang Leang menjadi situs prasejarah yang tertua mengalahkan situs paresjarah yang berada di Spanyol, Le castilo yang berumur 4002 tahun sebelum masehi.

Pada kesempatan kali ini para awak media juga diajak untuk melakukan tur singkat ke dalam goa prasejarah dimana terdapat lukisan-lukisan sebagai peniggalan purba pada masa itu. Yinika dari Univerisity of New England juga mempergakan bagaimana cara membuat artefak purbakala dengan peralatan sederhana yaitu batu dengan cara memukulkan ke batu yang hendak dibentuk sesuai dengan serpihan yang diinginkan.

Baca juga :   Luxury Wedding Vaganza 2018,Untuk Kebutuhan Wedding

“Generasi muda harus lebih banyak berkecimoung dan mempelajari ilmu sains juga arkeologi untuk dapat mengetahui asal dan nenek moyang kita,” ujar Richard Mathews saat dimintai pendapat tentang maksud dan pentingnya penelitian ini sebagai sebuah bentuk kerjasama Australia dan Indonesia.

Foto: Rahmat Latang Reppa

[divider sc_id=”sc403097800260″]divider-3[/divider]

[team layout=”4″ staff=”2398″ sc_id=”sc922167891332″]