Sering Diperjualbelikan, Tana Luwu Kini Dikelola Pemerintah

Kabar Makassar —– Pemerintah Luwu Timur mulai memerhatikan situs kebudayaan Tana Luwu setelah banyak yang melakukan upaya pengrusakan bahkan diperjualbelikan oleh yang tak bertanggung jawab. Inventarisasi ini di mulai dengan workshop .

Sebanyak empat orang pakar Arkeologi Unhas dan satu dari Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan didatangkan ke Kabupaten Luwu Timur untuk membantu pemerintah setempat dalam menginventarisir Kebudayaan di daerah tersebut.

Para pakar yang didatangkan yakni, Iwan Sumantri, Yadi Mulyadi, Supriadi, Budianto Hakim semuanya dari Arkeologi FIB Unhas dan seorang lagi Rustan Lebe dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulsel. Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan setiap kecamatan serta pegawai di Dinas Pariwisata.

Baca juga :   Peran Orangtua dalam Pencegahan Narkoba terhadap Anak

Kepala Dinas Pariwisata Luwu Timur, Hamris Darwis, mengaku sengaja mendatangkan para pakar arkeologi dalam melakukan inventarisasi, karena di Luwu Timur, hanya dirinya sendiri alumni Arkeologi.

Kehadiran para pakar ini akan mengarahkan peserta nantinya untuk melakukan inventarisasi situs budaya di kecamatan masing-masing. Peserta ini nantinya akan dijadikan tim dan diberikan intensif setiap bulan.

Baca juga :   Penyalahguna Narkoba di Sulsel Capai 130.400 Orang

“Selama empat belas tahun Luwu Timur terbentuk, baru sekarang kita melakukan inventarisasi situs kebudayaan, ini pun sudah terlambat, karena sudah banyak situs sejarah yang dirusak maupun diperjualbelikan,” ujar Hamris. di Kantor Dinas Pariwisata, Senin, 4 September.

Sementara itu, Iwan Sumantri menyebutkan dari hasil penelitiannya, Luwu Timur memiliki peradaban budaya yang sangat tua. Identitas kebudayaannya dapat dilihat dari besi sudah dibentuk menjadi badik, keris, Parang, Tombak. Kelebihan Besi Luwu sudah diakui dunia. Kandungan besi Luwu paling terbaik.

Baca juga :   Bapenda Sulsel Isyaratkan Bupati Selayar Soal Pajak Kendaraan

“Kenapa besi Luwu, karena besi Luwu sudah menjadi identitas kebudayaan di Tanah Luwu maupun di Sulawesi Selatan. Coba lihat orang nikah pakai baju adat dipinggangnya pasti terselip keris atau badik, inilah ciri khas kita,” katanya.