Seperti ini Cerita Kera Putih Bantimurung Maros

Patung Kera Putih Bantimurung, Maros
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kabar Makassar– Berkunjung ke salah satu destinasi wisata alam Bantimurung, Maros. Sebelum memasuki wisata air alam yang ada, Anda akan disambut oleh patung kupu kupu dan patung kera raksasa.

Uniknya patung kera raksasa tersebut telihat melambaikan tangan sebelah kiri. Tak banyak yang tahu mengapa posisi dan bentuk patung kera seperti itu.

Namun, berdasarakan cerita yang tersebar luas ditengah masyarakat Maros, Sulawesi Selatan. Patung Kera putih sangat erat kaitannya dengan cerita rakyat masyarakat Butta Salewangang, Maros yaitu “Toakal”.

Toakala adalah sebuah ‘parikodong’ atau cerita rakyat Bugis Makassar yang dahulunya sangat popular di Kabupaten Maros.

Kisah Toakala menceritakan tentang sebuah kerajaan Toale yang saat ini menjadi lokasi permandian alam Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Cerita Toakala berawal ketika lahir seorang putri cantik jelita di Kerajaan Cendrana yang diberi nama Bissu Daeng.

Bissu Daeng yang cantik jelita dan lembut memberi kekaguman tersendiri bagi kaum lelaki pada zaman itu, jangan pria binatang pun tertarik padanya.

Singkat cerita dari kecantian yang dimiliki oleh sang putri, seorang raja di Kerajaan Toakala yang memerintah bangsa kera dari pegunungan dan hutan sampai ke gunung Bawakareang.

Kerjaan Toakala ini diperintah oleh raja yang bernama Marakondang. Mengetahui kecantikan yang dimiliki putri Bissu Daeng dari kerajaan Pattiro tersebut.

Tesebutlah Raja Marakondang disaat keheningan ditengah belantara ia melarutkan semedinya dengan kecapi emas di pangkuannya. Sesekali terdengar menghenyakkan alam Benti Merrung (nama asli Bantimurung), maka teringatlah sang raja kepda Bissu Daeng saat pertemuan pertamanya pada pesta raga yang diadakandi Kerjaan Marusu.

Ditengah persemediannya, Raja Marakondang merasa gundah karena dua purnama telah berlalu namun ia tak kunjung mendapat kabar berita dari sang putri sebab Bissu Daeng di kurung didalam istana Cendrana oleh ayahnya.

Hingga dalam persemedian tersebut Raja Markondang menggerutu dalam hatinya. “Oh angin, sampaikan rinduku kelubuk hatinya, sebab tak bersamanya serupa dengan kematian. Jika aku tak mempersuntingmu Bissu Daeng, biarlah para Dewa mengutukku. Bissu Daeng oh…. Bissu Daeng, akau bersumpah!O… Boting langi’ Kutuklah akau menjadi kera putih jika takdirku tak bisa mempersuntingnya,” (berdasarkan cerita rakyat yang ditulis dalam aksara lontara).

Setelah gurutukan didalam hati sang raja, tiba tiba bumi berguncang, langit menyeramkan, angin bertiup kencang, petirpun menyambar menjemput sumpah Toakala.

Melihat kejadian tersebut, tiba tiba bala tentara Toakala datang dengan tergopoh-gopoh penuh keheranan.

Disaat sang raja dalam kegundahan semedinya, ternyata beberapa pengikut raja telah mengintai Bissu Daeng di istana Cendrana.

Pada sebuah taman dekat Balla Lompoa (rumah kerajaan), terdengara merdu suara seorang wanita. Setelah beberapa kerumunan yang melingkarinya bergeser, tampaklah Bissu Daeng dihiasi kupu-kupu pada mahkotanya, rupanya ia sedang bermain dengan dayang dayangnya. Tapi tak lama setelah keceriaan itu, tampaklah sang putri sedang gundah gulana.

Dengan perasaan gunda gulana, Bissu Daeng meninggalkan taman itu bersama dayang dayangnyamenuju istana. Namun, tak disangka ditangah perjalanannya Bissu Daeang tiba tiba dicegat oleh sekelompok pasuka kera, alhasil Bissu Daeng pun diculik dan di bawa menuju jalan ke istana Kerajaan Toakala di Bantimurung.

Di istana Tokala suasana sakralpun memenuhi ruang semesta, hening sejenak ketika lamat lamat prajurit dan kelompok kera meninggalkan mereka berdua.

Ditengah pergulatan hati Bissu Daeng tentang perjodohan dan kepatuhannya pada sang ayah sekaligus kecintaannya yang mendalam pada raja Marakondang.

Mengitarinya untuk sampai pada sebuah keputusan pasrah lewat tantangan yang dimintanya pada raja Marakondang.

Menurut cerita yang dituli dalam aksara lontara kuno. Saat itu putri Bissu Daeng meminta pada dan raja untuk di buatkan bendungan tujuh mata air dikerajaan Simbang serta permandian air terjun di Je’ne Teasa namun dalam waktu semalam.

Permintaan Bissu Daeng pun disetujui oleh sang raja. Tanpa bicara sang raja Toakala mulai bekerja dengan penuh keyakinan, ia mengerjakan permintaan Bissu daeng semalam suntuk.

Sejenak ketika permandian air terjun tersebut hampir selesai, ayampun berkokok menandakan fajar akan segera muncul.

Sang Raja semakin gencar untuk menyelesaikan pekerjaannya namun tiba tioba matahari terbit, langit menjadi mendung sebuah gejala alam tak biasa, sura guntur dan petir saling menyambar, menandakan sebuah kutukan telah jatuh dari Dewata Seuwwae.

Sang Raja berteriak histeris “Bissu Daeng…………., Bissu Daeng………..”

Ditatapnya sang kekasih untuk yang terakhir kalinya, ia pun tak berdaya oleh takdir. Disela sela tenaga yang hampir habis, Sang Raja perlahan ditumbuhi bulu bulu panjang dan putih yang menutup seluruh tubuhnya.

Dipaksakannya panggilan kepada kekasihnya Bissu Daeng untuk yang terakhir kalinya, tapi Bissu daeng tak lagi bisa mendengar, ia hanya menyambut suara itu dengan lambaian tangan.

Tak lama berselang didepan Bissu Daeng berdirilah seekor kera putih yang kakinya basah oleh tangisan Bissu Daeng. Karena sedihnya si kera lari masuk kedalam goa dan bersemedi sampai tubuhnya melesar dan melebur masuk kedalam dinding gua.

Hingga saat inn nampak didalam gua Toakala di permandian alam Bantimurung. (Berbagai Sumber)

[divider sc_id=”sc1356045280748″]divider-3[/divider]

[team layout=”4″ staff=”1694″ sc_id=”sc1218353831321″]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.