Senarai Cinta Tahun Emas Pernikahan JK

Muhammad Jusuf Kalla Bersama Mufidah Jusuf Kalla

Kabar Makassar — Tidak ada yang kebetulan terjadi di bumi ini. Semua sudah diatur Allah swt. Manusia lahir, mati, dan juga menikah, semua sudah diatur-Nya.  Begitu pun, lima puluh tahun silam, Hari Ahad ketika itu, tepat 27 April 1967, seolah bumi berputar pada jalur yang sama. Pada hari itu, setengah abad silam, dua anak manusia yang berlainan etnis memadu kasih dan cinta. Muhammad Jusuf Kalla yang asal tanah Bugis bertemu dengan Mufidah dari Ranah Minang.

M.Jusuf Kalla (JK) pertama melihat gadis manis berkulit putih ini, saat SMA. Di sekolah ini, keduanya belajar. Tetapi JK lebih tua. Ida adik kelasnya. Kelas mereka bersebelahan. Lelaki Bugis ini, ‘’terkapar’’ dilumat cinta pada Ida saat pandangan pertama, meski sempat takut tidak peduli padanya. Kesederhanaan Ida membuat JK terpesona.

Tidak mudah bagi JK mendekati Ida yang disebutnya jinak-jinak merpati. “Sama dengan nama jalan di depan rumahmu,” begitu JK menulis dalam puisi panjang yang digubahnya setelah mengurung diri – katanya — selama dua hari di kamar.

JK menghabiskan waktu tujuh bulan untuk mendekati Ida. Pun meyakinkannya. Sikap Ida yang jinak-jinak merpati, membuat JK sempat gundah. Dia sabar berjuang dengan waktu. Dirinya sempat berada dalam kebimbangan yang amat sangat. Namanya pacaran, kata JK, tetapi kurang asyik layaknya teman-teman yang lain.

“Antara mau dan tidak, sering membingungkan, Tidak jelas,” tulis JK dalam puisinya.

JK selalu sulit mencuri kesempatan jalan bareng dengan Ida. Habis, adik-adiknya bagaikan Paspampres (ketika JK menjabat wakil presiden) yang selalu mengawal kakaknya ke mana pun pergi. Vespa milik JK, sebenarnya sudah siap menerima seorang Ida di boncengannya. Tetapi dia tidak pernah mau. Sekali nonton bioskop, itulah yang diingatnya paling berkesan selama tujuh tahun pacaran model klasik tanpa pegang tangan segala, layaknya anak-anak pasca reformasi. Itu pun Ida nonton missal. Bersama teman-temannya.

Baca juga :   Begini Kronologi Kebakaran di PDAM Makassar

Meski JK merasa cintanya penuh onak dan duri, namun dia masih ingat bunyi pepatah. ‘’Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’’.  Sesuatu yang sulit itu biasanya berakhir manis.

Meski JK maklum, akar budaya dirinya dengan Ida berbeda. Bugis dan Minang. JK seolah mampu memotret perasaan orang tua Ida yang khawatir akan Ida, anak satu-satunya perempuan. Saudaranya yang lain, laki-laki semua.

Orang tua JK kerap salah mengerti tentang adat Minang. Mengapa perempuan lebih banyak menentukan, hingga nyaris membuat perbedaan yang menduakan mereka.
Berkunjung ke rumah Ida, JK pun harus ekstra sabar. Suara pelan sarat nasihat ayahnya, menuntut JK sabar mendengarnya. Dalam situasi seperti ini, JK bagaikan mendengar seorang guru sedang memberi petuah kepada murid-muridnya. Ini tidak heran, orang tua ida, adalah pasangan guru.

Di tengah kesabaran mendengar petuah dan nasihat, ingin juga JK menemui Ida, tetapi ayahnya selalu menyembunyikannya. Meski kemudian Ida akhirnya dipanggil keluar, tetapi justru pada saat-saat “injury time”, seperti pertandingan sepakbola yang akan usai. Ida baru muncul ketika JK hendak permisi pulang. Benar-benar membuat sang Rama penasaran.

JK biasa bertandang sore hari menjelang magrib. Saat waktu magrib tiba, dia berdiri tegak melantunkan azan dengan fasih. Salat berjamaah, ayah Ida sebagai imam. JK tidak pernah tahu, apakah Ida juga ikut menjadi makmum di belakangnya. Soalnya, tidak punya kesempatan sekadar menoleh. Juga, segan melakukannya di depan calon mertua.

Baca juga :   Setelah Gizi Buruk, Daerah Ini Diserang Lagi Lumpuh Layu

Se-tamat SMA, Ida bekerja di Bank Negara Indonesia (BNI) 1946. Sore hari dia manfaatkan kuliah di Fakultas Ekonomi Unhas, fakultas yang juga dimasuki kekasihnya. JK pun bekerja di kantor ayahnya sembari kuliah. Katanya, agar bisa sering terbang. Sekali seminggu, JK minta jadi asisten dosen dan mengajar di kelas Ida. Meski, tanpa honor, JK gembira karena dapat bertemu dan melihat senyum pujaan hatinya.

Tidak mudah JK merenggut Ida sebagai calon pendamping setianya. Keras sekali perjuangannya, meski hanya untuk sekadar menatapnya. Ternyata, Ida luluh juga. Ayah JK ujung-ujungnya memahami perbedaan adat Minang.

“Ibuku dan sahabatnya memberi nasihat. Boleh jadi setelah membaca ‘’Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk’’, karangan Hamka,” tulis JK.

“Saat orang tuaku melamarmu untuk jadi istri, aku melihat cakrawala tersenyum. Perjuangan cinta bertahun-tahun berbuah manis,” imbuh JK lagi.

Di hari minggu yang sama setengah abad yang lalu, keduanya duduk bersanding dengan penuh bahagia di aula Hotel Negara Jl. Sungai Saddang, Makassar yang pada waktu itu cukup terpandang. Sekarang hotel itu, tinggal kenangan, tetapi tidak akan pernah lenyap mereka kenang.

Setelah menikah, pasangan pengantin baru ini menjalankan perusahaan ayah JK. Ida sekretaris, merangkap keuangan, karena mereka belum bisa mengangkat dan memercayai pegawai tambahan.

Selain mengurus rumah dengan baik. Ida mengasuh sendiri anak-anaknya, tanpa suster-suster seperti cucu-cucunya sekarang.
Kata JK, selama 50 tahun, Ida chef terbaik yang dikenalnya. Keduanya, jarang makan di restoran. Di kantor pun setiap hari Ida mengirim makanan. Teman- teman JK selalu menunggu apa yang akan Ida hidangkan.

Baca juga :   Ini Pernyataan TPF Kasus Allea

“Kau tahu cintamu terus mengitariku karena hidangan yang kau buat,” puji JK dalam hati setiap kiriman makanan dari istrinya.
Lima puluh tahun yang tidak singkat itu, keduanya jalani 33 tahun di Makassar dan 17 tahun di Jakarta. Sungguh suatu perjalanan panjang yang mereka jalani. Hidup tanpa berubah kecuali, JK suka kesederhanaan istrinya yang lahir sejak pertama matanya memandang Ida. Kini, kesederhanaan itu kian indah, di tengah paradoksnya kehidupan modern di sekitar mereka.

Secara ekonomi gaji pejabat negara tidak besar, termasuk Bapak Jokowi. Namun hasil usahamu jauh lebih besar dengan beragam jenisnya. Sampai mengurus tambak udang meski sambil menelpon dari meja riasmu.

Mungkin perpaduan semangat Minang dan Bugis yang kau alami dan mampu selami. JK jadi yakin, Ida, perempuan, istri yang hebat.

Dalam aura kesederhanaan Ida tersimpan energi yang dahsyat. Orang Bugis tak fasih berkata-kata indah. Kecintaannya ditunjukkan dengan perilaku, bahasa tubuh, dan senyumnya. Untuk romantik pun JK tak pandai ucapkan dengan kata-kata.

“Karena itu, aku minta maaf kepadamu, karena selama 50 tahun aku tak pernah beri bunga sambil berucap I love you,”kunci JK penuh romantis. Ya, memberi kembang sebagaimana kini kebanyakan pasangan yang berbahagia. [*/Mda].