Ritel Modern Semakin Menjamur di Pinrang, Pasar Tradisional Terancam Sepi

Kondisi pasar tradisional terancam karena pertumbuhan ritel modern (/int)

KabarMakassar.com — Pertumbuhan ritel modern yang semakin menjamur hingga ke pelosok wilayah pedesaan membuat keberadaan warung/toko klontong (ritel tradisional) dan pasar rakyat di Kabupaten Pinrang semakin terancam.

Kondisi ini diperparah dengan letak atau lokasi ritel modern tersebut yang sangat dekat dengan ritel dan pasar tradisional.

“Dari segi kenyamanan dan kebersihan barang, ritel modern itu memang unggul. Masyarakat menengah ke atas juga lebih memilih belanja di ritel modern ketimbang di pasar tradisional. Meski tidak semua, tapi lambat laun akan beralih. Apa lagi banyak itu yang berdekatan dengan pasar tradisional,” kata salah seorang dosen ekonomi di STIKIP Cokroaminoto Pinrang, Nisba Silvana, Selasa (10/3).

“Tapi dari sisi harga dan kesegaran buah, sayuran maupun ikan, pasar tradisonal masih unggul karena harganya cukup murah dan masih bisa tawar menawar harga. Kalau di ritel modern harganya tidak bisa ditawar,” ungkapnya.

Untuk menyelamatkan keberadaan pasar tradisional ini, kata Nisba, pemerintah setempat harus mampu menata dan mengelola pasar tradisonal agar menjadi nyaman dan bersih.

“Tantangan pemerintah kita sekarang adalah bagaimana mengelola pasar tradisional itu agar terlihat rapih, bersih serta nyaman, agar masyarakat betah berbelanja di sana,” ujarnya.

Dikonfirmasi terkait keberadaan ritel modern di beberapa lokasi di Kabupaten Pinrang yang jaraknya tak jauh dari pasar rakyat atau pasar tradisional, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Pinrang, Andi Mirani tak menampik hal tersebut.

Menurut Mirani, memang ada beberapa ritel modern yang jaraknya tidak jauh dari pasar tradisional. Seperti di Teppo (Kecamatan Patampanua), Pekkabata (Kecamatan Duampanua), dan di Kariango (Kecamatan Mattiro Bulu).

“Yang di Teppo itu izinnya baru keluar di tahun 2018, jadi nanti habis masa berlakunya tahun 2023. Untuk di Pekkabata dan Kariango 2024 habis masa berlakunya karena 2019 lalu keluar izinnya. Masa izin toko modern itu 5 tahun,” kata Mirani.

Mirani juga mengatakan, masyarakat atau usaha lokal di sekitar ritel modern bisa mengadu jika merasa di rugikan.

Pihaknya, kata dia, akan memanggil setiap pengelola ritel modern agar membina dan melakukan kerjasama atau kemitraan dengan pedagang kecil di sekitarnya.

“Kalau ada pihak yang dirugikan bisa mengadu ke kami. Kita akan panggil (ritel modern) yang bersangkutan untuk membina dan kerja sama kemitraan dengan usaha di sekitarnya. Kedepan, bukan lagi pemda yang mengeluarkan izin, tapi langsung pemerintah pusat,” terangnya.

Reporter :

Editor :

Rudi Hartono

Daus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI