Relawan Gugus Tugas Minta Kemenkes Terbitkan STR untuk Relawan Kesehatan

Logo Kementerian Kesehatan (/int)

KabarMakassar.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah merekrut relawan sebanyak sejumlah 18.830 orang. Relawan itu terdiri dari 3.412 orang tenaga medis, 15.814 orang non medis dan 2167 orang relawan hotline. Pendaftaran relawan itu dilakukan melalui website milik desk relawan BNPB, Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, dan berbagai komunitas.

Koordinator Tim Relawan Gugus Tugas, Andre Rahadian mengatakan jika bidang relawan medis sedang berupaya merekapitulasi data yang masuk dari berbagai pihak dan organisasi dan juga mengumpulkan data dari RS rujukan dan RS darurat terkait kapasitas dan kebutuhan tambahan relawan medis yang diminta.

“Saat ini sudah ada 396 relawan medis di RS Wisma Atlit dan masih dibutuhkan sekitar 1,512 orang. Untuk rumah sakit di bawah Kementrian Pertahanan juga membutuhkan 50 orang dokter dengan beberapa dokter spesialis dan 250 orang perawat, sedangkan total data yang dimiliki oleh tim kementrian kesehatan hanya sekitar 1,000an yang siap” kata Andre.

Ia mengaku jika tim relawan perlu adanya terobosan dengan kerjasama antara Kementrian Kesehatan, Konsil Kedokteran dan organisasi profesi untuk membolehkan mekanisme Surat Tanda Register (STR) sementara untuk dokter dan perawat agar bisa memenuhi kebutuhan yang ada. “Mereka ini akan diberikan insentif tunai sebagai tambahan dari insentif yang diberikan pemerintah” ujarnya.

Selain menyalurkan tenaga kesehatan, pihaknya juga sedang membangun SOP/Protokol Monitoring Evaluasi. Tujuannya untuk mengurangi jatuhnya korban tenaga kesehatan. Karenanya, 13 April nanti bidang relawan medis akan bergerak dan menerapkan sistem koordinasi berjenjang dengan 4 area kerja yakni Barat, Tengah, Timur Indonesia dan Jakarta.

“Setiap wilayah akan ada koordinator yang akan memonitor di setiap provinsi yang ada di wilayah kerjanya,” ujarnya.

Termasuk, kata dia, pada senin 13 April juga akan dilakukan pelatihan relawan non medis yang akan akan dilakukan melalui media online. Pelatihan itu dilakukan beberapa kali pada tiap minggunya dengan peserta pelatihan sekitar 200-250 orang per sesi. Nantinya, kata dia, relawan yang ditugaskan akan diberikan buku saku mengenai materi yang telah diberikan.

“Materi yang diberikan terkait informasi dasar Covid-19, protokol relawan, keamanan dan pengamanan, dan uraian situasi seperti tanggap darurat, transisi darurat, rehab dan rekondisi. Materi akan diberikan dengan kolaborasi bersama RedR Facilitators, RedR training alumni, dan mitra seperti WHO dan BNPB,” jelasnya.

Andre menambahkan pihaknya juga telah bertemu dengan BAZNAS yang akan menempatkan 1 perwakilannya untuk masuk dalam tim relawan sebagai penghubung dengan lembaga yang tergabung dalam Humanitarian Forum Indonesia (HFI) yang merupakan forum lembaga kebencanaan lintas iman di Indonesia.

“Kami juga sudah mengundang banyak organisasi yang biasa terlibat dalam penanganan bencana seperti ORARI, Satkornas Banser, JKMC, jaringan interfaith seperti Gusdurian, PGI, WALUBI, dan lain-lain untuk melakukan monitoring dan pendataan kelompok rentan yang tidak tercover oleh program bantuan pemerintah,” pungkasnya.

Reporter :

Editor :

Redaksi

Sofyan Basri

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI