News

ReFIT Berkembang Hingga ke Kawasan Timur Indonesia

ReFIT Berkembang Hingga ke Kawasan Timur Indonesia

Kabar Makassar -- Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) merupakan barometer perekonomian di Kawasan Timur Indonesia. Hal itu merujuk berbagai indikator, misalnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun 2017 melonjak sebesar 6,63 persen apabila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan per kapita di Sulsel pun kian menanjak seiring dengan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.

Sebagai rujukan, pendapatan per kapita pada 2008 hanya Rp 9 juta, dan pada tahun ini angka itu naik menjadi Rp 53 juta per kapita/ tahun. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik dan Pemprov Sulsel ini mencerminkan denyut perekonomian Sulsel yang kian berdegup kencang. Pada tahun lalu, Sulsel mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 7,41 perssen.

Data-data itu menyejukkan bagi dunia bisnis dan investasi. Hasilnya, iklim investasi di provinsi ini juga menggembirakan berbagai kalangan. Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel mengumumkan realisasi investasi pada semester I tahun 2017 melejit sebesar 302 persen, atau menjadi Rp 4,68 triliun dari Rp 1,55 triliun di periode yang sama tahun 2016. Nilai investasi di semester I di tahun ini disumbangkan oleh Penanaman Modal Asing (PMA) senilai Rp 3,84 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 805 miliar.

Tentu saja, indikator itu membetot perhatian PT Mitra Bugar Bersama (ReFIT Indonesia), perusahaan yang mengelola ReFIT Club, untuk memperluas sayap bisnisnya. ReFIT Indonesia menawarkan waralaba ReFIT Club kepada investor dan kian gencar mengepakkan sayap bisnisnya.

Rencana Induk Pengembangan Bisnis ReFIT Indonesia di tahun 2020 adalah membuka 20 cabang ReFIT Club di kawasan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. ReFIT Club yang mengusung konsep affordable gym ini adalah pusat kebugaran yang harga keanggotaanya kompetitif serta dilengkapi aneka macam fasilitas dan instruktur berstandar nasional hingga internasional. ReFIT Indonesia menawarkan skema kemitraan waralaba ReFIT Club kepada investor di acara Info Franchise & Business Concept (IFBC) Expo di Gedung Manunggal, Makassar, Sulsel, yang digelar pada 29 September-1 Oktober 2017.

Irawan Amanko, Chief Executive Officer ReFIT Indonesia, mengatakan Gerakan Masyarakat Sehat yang dicanangkan pemerintah daerah, semakin meleknya masyarakat mengenai gaya hidup sehat serta perekonomian Sulsel yang kian melejit merupakan kombinasi yang menggembirakan bagi bisnis pusat kebugaran di Sulsel.

“Investor atau pewaralaba (franchisee) yang ingin memperoleh lisensi ReFIT Club berinvestasi senilai Rp 1,9 miliar. Rincian investasi itu terdiri dari royalty fee selama empat tahun sebesar Rp 400 juta, peralatan fitness Rp 1 miliar dan biaya pengembangan lokasi serta infrastruktur pendukungnya senilai Rp 550 juta,” ungkap Irawan di sela-sela acara IFBC Expo di Makassar, pada Kamis 28 September 2017. ReFIT Indonesia telah membuka tiga cabang ReFIT Club, yakni dua unit di Jakarta dan sisanya di Semarang, Jawa Tengah.

ReFIT Indonesia pun bertekad memperluas ekspansi bisnisnya di kota besar atau kota lapis kedua (second tier) di Indonesia bagian Timur guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan pusat kebugaran yang berkualitas internasional dengan harga keanggotaan yang kompetitif.

Manajemen ReFIT Indonesia menyediakan fasilitas bernilai tambah dan instruktur berpengalaman yang bersertifikasi internasional.

“Kami optimistis bisa membuka cabang ReFIT Club di kawasan Sulawesi, khususnya di Sulsel, yang pendapatan per kapitanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini tentu saja sinyal positif untuk mengembangkan bisnis pusat kebugaran di daerah ini,” tutur Irawan yang bersama ketiga temannya mendirikan ReFIT Indonesia di tahun 2016.

Irawan mengemukakan Makassar merupakan episentrum perekonomian di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga, ReFIT Indonesia sangat percaya diri mampu menjaring minat investor selama pagelaran IFBC Expo di tahun ini.

Apalagi, pertumbuhan bisnis pusat kebugaran di Indonesia bakal kian kinclong lantaran penetrasi keanggotaan bisnis pusat kebugaran masih rendah, yakni sekitar 1 persen dari jumlah total populasi penduduk. Ini memberikan peluang yang menggiurkan bagi investor untuk mengembangkan bisnis ini. Tengok saja, laporan yang dirilis International Health, Racquet & Sportsclub Association (IHRSA) di tahun 2016, yang menyebutkan pendapatan industri pusat kebugaran di seluruh dunia mencapai US$ 81 miliar dollar.

Survei MarketResearch.com, menyebutkan valuasi pasar pusat kebugaran dan kesehatan di Asia Pasifik pada 2018 bakal mencapai US$ 21,27 miliar dollar. Sedangkan di Indonesia, nilai pasar industri kebugaran di Indonesia diestimasikan sekitar Rp 2-3 triliun per tahun. Nah, bisnis pusat kebugaran menawarkan imbal hasil yang menjanjikan.

Simak saja penuturan Irawan yang memproyeksikan Return on Investment (ROI) ReFIT Club dalam satu tahun pertama mencapai 35% dari nilai investasi senilai Rp 1,9 miliar. Estimasi ROI itu disesuaikan dengan asumsi jumlah keanggotaan ReFIT Club berkisar 300-550 anggota aktif tiap bulannya.

“Investasi para franchisee itu sudah termasuk desain, alat, dan perlengkapan interior lainnya. Harga ini juga tergantung pada luas lahan yang dibangun dan royalty fee senilai Rp 400 juta, Adapun, management fee-nya sekitar 10 persen dari pendapatan kotor setiap bulan,” jelas Irawan. Guna menjaring investor potensial, ReFIT Indonesia akan memberikan konsultasi kepada investor selama acara IFBC Expo 2017 ini. (Rls)

 

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close