Redaktur Tempo Bongkar Pendanaan Investigasi di Makassar

Mahasiswi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar saat bertanya kepada Redaktur Eksekutif Harian Tempo, Wahyu Dhyatmika di sela-sela kegiatan Sosialisasi Program Fellowship Investigasi dan Diskusi Jurnalisme Investigasi di Makassar Sabtu, 10 Juni 2017. Foto : Imran

Kabar Makassar — Redaktur Eksekutif Harian Tempo Wahyu Dhyatmika membongkar sumber pembiayaan atau metode memperoleh pendanaan mass media melakukan investigasi jurnalistik dalam sosialisasi Program Fellowship Investigasi 2017 di Makassar, Sabtu 10 Juni 2017.

Hal itu dipaparkan pria yang akrab disapa Bli Komang ini saat berdiskusi bersama jurnalis, aktifis NGO dan kalangan mahasiswa. Dalam dialog itu Komang menyampaikan masih banyak kasus-kasus yang mengendap. Untuk membongkar kasus-kasus itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

[title type=”h6″ font_size=”9″ letter_spacing=”” font_weight=”200″ align=”left” font_family=”” title_type=”default” line_height=”1.35″ color=”” text_transform=”0″ sc_id=”sc1068886622252″]Redaktur Eksekutif Tempo, Wahyu Dhyatmika. Foto : Imran[/title]
“Biaya peliputan investigasi, memang tidak murah. Banyak newsroom yang sulit membongkar kasus karena terkendala pembiayaan,” ucap jurnalis yang pernah terlibat dalam kasus investigasi kolosal Panama Paper itu.

Baca juga :   Mahasiswa FKM UMI Terpilih Korwil IV ISMKMI

Tahun ini, lanjutnya pihaknya bersama Free Press Unlimited (FPU) dari Belanda mengundang seluruh jurnalis Indonesia. Terlibat dalam program pendanaan investigasi bagi jurnalis yang memiliki perhatian pada isu kebebasan pers dan profesionalisme jurnalis.

[title type=”h6″ font_size=”9″ letter_spacing=”” font_weight=”200″ align=”left” font_family=”” title_type=”default” line_height=”1.35″ color=”” text_transform=”0″ sc_id=”sc14044145393″]Redaktur Eksekutif Harian Tempo, Wahyu Dhyatmika (kiri) bersama CEO. PT. KGI Upi Asmaradhana (tengah) yang dipandu Hendra Nick Arthur (kanan) dalam diskusi media Sosialisasi Program Fellowship Investigasi dan Diskusi Jurnalisme Investigasi di Makassar Sabtu, (10/6/2017). Foto : Imran[/title]
Dia menceritakan, tahun sebelumnya program ini mampu membongkar enam praktik lancung di berbagai daerah. Diantaranya kasus perdagangan manusia di NTT. Kasus patgulipat petugas lapas dengan narapidana korupsi di LP Sukamiskin, Bandung. Kemudian drama perbudakan pelaut Indonesia di Taiwan yang diangkat dari pesisir utara Jawa Tengah.

Baca juga :   Peletakan Batu Pertama PTS di Kabupaten Sidrap

Dia menyebutkan ada sembilan kota di Indonesia temasuk Kota Makassar yang telah di gandeng untuk program Fellowship Investigasi ini. “Kami sudah mendata dan melakukan riset beberapa media di Makassar. Hasil riset kami menunjukkan KabarMakassar.com memiliki potensi yang bisa jadi percontohan program bagi jurnalis di Indonesia timur,” kata dia. (*/ryan)
[divider sc_id=”sc1168007956416″]divider-3[/divider]

Baca juga :   Ribuan Siswa di Makassar, Perebutkan Piala Wagub

[team layout=”4″ staff=”488″ sc_id=”sc733337067190″]