PSBB di Makassar Terancam Sia-sia

Tim gabungan membubarkan warga di Jalan Tinumbu yang masih berkerumun di pinggir jalan saat PSBB diberlakukan dengan semprotan air dari mobil Damkar, Jumat (24/4) malam. (IST)

KabarMakassar.com — Hari ini, Kamis (7/4) merupakan hari terakhir pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Makassar yang dimulai sejak 24 April lalu.

Namun, Rabu (6/5) kemarin, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah telah meneruskan surat usulan perpanjangan PSBB yang diajukan Pemerintah Kota Makassar ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Meski mengakui bahwa tingkat kepatuhan masyarakat masih rendah, Namun Nurdin Abdullah memastikan jika nantinya, PSBB tahap kedua di Makassar akan lebih longgar atau tidak seketat tahap pertama. Semua toko, terutama yang punya tenaga kerja banyak akan diperbolehkan untuk tetap buka atau beroperasi, dengan catatan protokol kesehatan harus tetap dijaga.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Jenderal Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS), Prof. Aminuddin Ilmar mengatakan, yang harus dipahami, tujuan utama PSBB adalah untuk menghentikan terjadinya penyebaran atau penularan virus Corona (Covid-19) secara efektif, dengan melarang atau membatasi interaksi orang, guna mencegah terjadinya transmisi lokal.

“PSBB itu kan ada beberapa pengecualian bahwa hanya untuk hal tertentu saja. Tapi kalau kita lihat, tampaknya pelaksanaan PSBB dengan pengecualian itu tidak efektif. Nyatanya untuk di Makassar, kemarin gubernur juga bilang bahwa tingkat kepatuhan masih rendah sehingga masih harus dilakukan PSBB lanjutan,” kata Prof. Aminuddin, Kamis (7/5).

Menurut Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin itu, problem yang dihadapi saat ini adalah akan diberikannya relaksasi atau kelonggaran pada penerapan PSBB, dengan alasan bahwa ternyata pelaksanaannya mengakibatkan roda perekonomian terganggu.

“Tapi kalau saya, PSBB itu sebenarnya sudah longgar. Kalau kemudian itu dilonggarkan lagi, ya sama saja tidak ada PSBB. Ini yang harus diperhatikan, seharusnya relaksasi itu baru bisa dilakukan kalau kasusnya sudah mulai menurun. Sementara sekarang ini kasusnya kan masih tinggi,” ujarnya.

“Kalau dengan kondisi tingkat kepatuhan dan kedisiplinan masyarakat kita yang masih rendah seperti sekarang ini, kemudian itu (kelonggaran) mau berikan, saya yakin penerapan PSBB itu akan menjadi masalah dan akan sia-sia,” ucapnya.

Lebih jauh Prof. Aminuddin mengatakan, yang saat ini dubutuhkan adalah ketegasan. Sehingga kalau pun dilanjutkan PSBB ke tahap kedua, harus dilakukan evaluasi dan ada ketegasan yang lebih baik dari sebelumnya.

“Bukan justru dengan relaksasi mengajak orang pergi belanja karena menghadapi idulfitri. Apa yang mau dicapai dengan PSBB seperti itu?,” imbuhnya.

Sebelumnya, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengatakan, salah satu alasan pengusulan perpanjangan masa PSBB di Kota Makasar ini adalah tingkat kepatuhan masyarakat yang masih sangat rendah.

“Setelah kita rapat, kita evaluasi selama 14 hari, PSBB Makassar ini boleh dikata tingkat kepatuhan kita masih sangat rendah. Sehingga, perpanjangan ini kita lakukan,” kata Nurdin, Rabu (6/5).

Meski begitu, Nurdin menekankan beberapa catatan untuk perpanjangan pelaksanaan PSBB di Kota Makassar.

“Pertama semua petugas yang ada di lapangan itu harus lebih santun, termasuk Satpol PP. Turun bukan untuk marah-marah, tetapi turun untuk melayani. Kalau ada yang keliru, ada yang tidak patuh, hukuman boleh, tetapi tidak dengan kata-kata yang menyakitkan. Orang yang dihukum itu butuh sentuhan,” ucapnya.

“Saya berharap, PSBB diberlakukan tapi ekonomi masyarakat tetap bisa bergerak,” sambungnya.

Untuk menjaga ekonomi agar bisa terus bergerak, Nurdin mengaku sudah meminta kepada Pj Walikota Makassar mengundang semua pemilik toko di Makassar, terutama yang memiliki karyawan dalam jumlah besar.

“Karena mau lebaran, kalau toko ditutup semua, orang mau belanja dimana? Makanya semua toko, terutama yang punya tenaga kerja banyak ini harus kita tetap buka. Tapi dengan catatan protokol kesehatan harus tetap dijaga. Pakai masker, jaga jarak, di depan ada wastafel, ada hand sanitizer, ada scanner, itu saja. Kita pastikan orang yang masuk di toko tidak ada yang positif, tidak ada yang bermasalah,” ujarnya.

Nurdin menegaskan bahwa persoalan tutup jalan bukan lagi fokus utama dalam PSBB. Yang lebih penting adalah lebih masif mencari carrier Covid-19 untuk memotong mata rantai penyebaran Covid-19, khususnya dengan menemukan kasus-kasus transmisi lokal.

“Local transmission ini harus betul-betul ditemukan orangnya,” tegasnya.

Nurdin juga meminta agar seluruh warga Kota Makassar tidak perlu panik dengan perpanjangan PSBB ini. Ia memastikan PSBB akan berjalan lebih baik dari sebelumnya.

“Tidak usah kita panik atau resah, kita sudah melakukan evaluasi 14 hari ini. Iya tentu masih ada oknum-oknum aparat kita, terutama Satpol-PP yang berlaku tidak sepantasnya di tengah-tengah masyarakat, itu kita minta maaf. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang siram-siram barangnya orang, karena itu sudah dilarang. Langkah yang cocok, kalau ada yang salah kita bicarakan secara persuasif,” tuturnya.

Nurdin menambahkan, tugas pemerintah saat ini adalah menyelamatkan usaha-usaha yang sudah hampir bangkrut atau colaps.

“Ini harus kita selamatkan. Cara kita selamatkan, kita support, jangan justru tambah dipojokkan,” pungkasnya.

Reporter :

Editor :

Firdaus

Redaksi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI