Prihatin Generasi Milenial, Maman Suherman Curhat di Makassar

Maman Suherman (kanan) saat menjadi pembicara dalam Diskusi Literasi Sastra di Era Milenial di gedung Menara Phinisi UNM Jl A.P. Pettarani Makassar Sabtu, 23/12/2017. [Foto: Tiwa]

KabarMakassar.com — Penulis Senior Maman Suherman mengaku prihatin dengan kebiasaan generasi milenial yang sering terjebak dengan informasi Hoax akibat rendahnya minat generasi ini membaca buku.

Hal ini disampaikan Maman Suherman saat menjadi pembicara dalam diskusi budaya Literasi Sastra di Era Milenial yang merupakan rangkaian kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun ke-20 Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris (Prasasti) Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) di Menara Phinisi UNM Jl A.P. Pettarani Makassar Sabtu 23 Desember 2017.

Kang Maman sapaan akrab pria plontos ini ada tiga potensi yang harus dimiliki oleh kaum milenial yaitu communication, collaboration, dan creative “Kalau kita kreatif orang akan bayar. Apabila mereka menggabungkan ketiga hal itu maka generasi milenial bisa mendapatkan tempat di jaman yang serba digital ini,” ujarnya.

Baca juga :   UIN Harus Hadirkan Alumni yang Kompetitif

Paparan pria kelahiran Makassar, 10 November 1965 ini membahas persoalan yang dihadapi kaum milenial yang dinilai ironi dengan budaya malas membaca.

NoTulen ILK atau Program TV Indonesian Lawak Club ini mengutip data yang dirilis UNESCO tentang minat baca penduduk Indonesia hanya 0,001% atau hanya satu dari seribu orang yang menyelesaikan satu buku dalam setahun.

“Yang bahaya dari generasi milenial adalah tidak suka baca tapi indonesia negara nomor lima paling cerewet di dunia. Jakarta adalah kota paling cerewet ciutannya dalam Twitter mencapai 15 twit perdetik dimana twitnya penuh hoax dan kebencian, dan plagiasi,” ungkapnya

Baca juga :   Benarkan RI adalah Republik Kedua di Indonesia

Dia menjelaskan akan menjadi berbeda ketika berhadapan dengan generasi pembaca “Kalau kalian generasi buku. Buku itu baru kita simpulkan setelah kita baca dari awal hingga akhir. Dibutuhkan kedalaman, kesabaran sebelum menyimpulkan” lanjutnya

Mantan Pemimpin Redaksi di Kelompok Kompas Gramedia ini menyebutkan Indonesia merupakan negara mayoritas muslim namun tidak mengamalkan apa yang telah diamanahkan oleh agama untuk terus membaca

“Yang menyedihkan adalah Indonesia negara yang mayoritas muslim 90 persen beragama muslim. Perintah pertama adalah ‘iqra’ tapi kok minat bacanya hanya 0,001 persen” ucap pria Lulusan Fisip Universitas Indonesia ini.

Baca juga :   Menristek RI Resmikan Pascasarjana Unifa Makassar

Penggagas Panasonic Gobel Awards ini berharap agar penanganan budaya Literasi di era milenial saat ini bisa lebih mengenal buku dan sastra. “Di era sekarang penanganannya cuma satu jangan pernah tinggalkan buku dan jangan pernah tinggalkan sastra,” tutupnya. (*)

Penulis Sriwaty Ilyas