Presiden Singapura Dan Isu Politik Tanah Air

Maaf, saya harus sampaikan ini.

Kisah Halimah Yacob, perempuan muslim yang naik menjadi Presiden Republik Singapura telah terlalu “digoreng” untuk dipersinggungkan ke ranah “minoritas vs mayoritas”, yang mana Indonesia sebenarnya sedang dalam proses “mendingin” pasca kekalahan Ahok, seorang double-minority yang dari mulutnya sendiri telah keluar pernyataan yang sensitif.

Penggorengan ke arah itu selain sangat tidak baik, juga cacat perimbangan informasi. Berikut hal hal yang penting yang perlu diketahui publik tanah air:

Presiden pertama Singapura adalah Tun Haji Yusof bin Ishak.

Baca juga :   Catatan Canny Watae: Menakar keabsahan Screenshot

Naiknya Halimah Yacob ke jabatan Kepresidenan membangkitkan emosi kemarahan sebagian warga negara Singapura, karena tidak ada pemilihan sama sekali. Yang terjadi adalah calon lain kena diskualifikasi dari otoritas penentu jabatan kepresidenan tersebut. Maaf, nama-nama warga Singapura yang emosi yang mencuat ke muka umum adalah nama-nama yang secara umum dipahami bersama sebagai bukan seetnik dengan Halimah.

Jabatan Kepresidenan di Singapura bukanlah jabatan eksekutif terkuat. Seorang Presiden di sana kebanyakan hanya menjalankan fungsi seremonial. Ia memang Kepala Negara, tetapi jabatan tersebut dipisahkan dari fungsi sebagai Kepala Pemerintahan. Kepala Pemerintahan adalah Perdana Menteri. Jabatan Perdana Menteri inilah jabatan yang paling berpengaruh di Singapura.

Baca juga :   Opini: KPK Tak Libur Lebaran

Meskipun berjenis-negara Republik, secara de-facto kekuasaan di negara pulau itu tidak re-publik (tidak sepenuhnya berkedaulatan-rakyat). Rakyat Singapura sangat dikontrol ketat oleh keluarga yang mendapatkan “amanah” dari Kerajaan Inggris untuk mendirikan negara itu, yaitu klan Lee Kuan Yew.

Perdana Menteri Singapura saat ini adalah anak dari Lee Kuan Yew.

Sejak dimerdekakan sampai sekarang Singapura dikuasai oleh satu kekuatan partai yang sama.

Baca juga :   Perubahan Kerajaan Arab Saudi Dan Meikarta

Jauh hari sebelum ini, Indonesia sudah pernah memiliki Presiden berjenis kelamin perempuan.

Demikian. Semoga para penggoreng berhenti memasarkan isu Halimah Yacob di sini.

Penulis : Canny Watae
Foto : Facebook Canny Watae