Perusda
Bank SUlsel Bar

5 Manfaat Dibalik Hari Raya Nyepi

Kolaborasi Liputan6.com

on 17/3/18 Oleh Muhammad Fajar Nur
5 Manfaat Dibalik Hari Raya Nyepi
Ilustrasi.(Ist)

KabarMakassar.com -- Dirayakan setiap Tahun Baru Saka, Nyepi yang berasal dari kata sepi yang berarti sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. Hari ini masyarakat Bali dan umat Hindu diberbagai daerah merayakan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi yang dimulai dengan menyepi dan melaksanakan catur brata penyepian.

Masyarakat yang merayakan Nyepi biasanya tidak melakukan aktivitas seperti biasa dan lebih mengutamakan untuk melakukan refleksi diri. Semua kegiatan yang menggambarkan urusan duniawi pun ditiadakan, termasuk pelayanan umum, bahkan Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Terdapat empat aturan yang harus dipatuhi oleh semua umat Hindu yang merayakan yakni empat brata penyepian yaitu amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Selain memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Hari Raya Nyepi yang dilakukan di Bali juga memberikan efek positif terhadap dunia secara umum dan Provinsi Bali secara Khususnya.

Dilansir dari Liputan6.com, terdapat 5 fakta unik sekaligus keuntungan yang terdapat dibalik hari raya yang identik dengan ketenangan ini, berikut 5 fakta unik tersebut:

1. Mengurangi Gas Karbon Dioksida

Tidak adanya aktifitas seharian yang terjadi pada saat Hari Raya Nyepi di Bali turut membantu mengurangi kadar karbon dioksida (H2O). Tidak tanggung-tanggung, gas karbon dioksida yang berkurang sebanyak 20 ribu ton pada Hari Raya Nyepi dilaksanakan.

2. Menghemat Listrik dalam Jumlah Besar

Karena Nyepi tidak boleh menggunakan listrik selama 24 jam penuh, maka pada selama itu provinsi Bali akan menghemat listrik sebanyak 60%. Jika dirupiahkan, persenan tersebut akan menyentuh angka 4 miliar rupiah atau sekitar 290 megawatt (MW).

3. Menghemat Bahan Bakar Solar 

Listrik yang biasa digunakan warga Bali tidak nyala karena pembangkit listrik di sana ikut diberhentikan. Pemberhentian pembangkit listrik tersebut akan menghemat penggunaan bahan bakar solar sebanyak 500.000 liter atau sebesar tiga miliar rupiah.

Hal ini dikarenakan pengistirahatan dua pembangkit listrik di Bali. Kedua pembangkit yang di stop operasinya tersebut yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Pemaron yang biasa menghasilkan listrik sebesar 80 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gilimanuk, yang biasa menghasilkan listrik sebesar 130 MW.

4. Memberikan Ketenangan
Pada Hari Raya Nyepi, warga Hindu diharuskan untuk berdiam diri di rumah tanpa cahaya dan suara sehingga menimbulkan ketenangan yang luar biasa. Hal ini sangat baik bagi orang yang sudah penat akan bekerja atau aktivitas berat lainnyna.

Selain itu, Hari Raya Nyepi bisa menjadi momen berkumpul bersama anggota keluarga yang setiap harinya sibuk beraktivitas maupun bekerja.

5. World Silent Day Terinspirasi Dari Hari Raya Nyepi

World Silent Day atau Hari Hening Sedunia merupakan sebuah gerakan untuk mengurangi aktifitas yang mengeluarkan sumber daya seperti menyalakan listrik dan mengendarai kendaraan bermotor selama empat jam yang dimulai pada pukul 10.00 hingga 14.00. World Silent Day dilaksanakan setiap tanggal 21 Maret. World Silent Day diharapkan memberikan kontribusi pada pengurangan ancaman pemanasan global.

Hari Hening Sedunia ini digagas oleh Triple-C (colaboration for climate change), yakni gabungan LSM Bali saat konferensi global warming (UNFCCC), di Bali tahun 2007. World Silent Day ini terinspirasi dari kearifan budaya lokal, hari raya Nyepi. Selama Hari Raya Nyepi diperkirakan mampu mengurangi emisi sebanyak 20.000 ton di Bali.

KabarMakassar.com --- Dirayakan setiap Tahun Baru Saka, Nyepi yang berasal dari kata sepi yang berarti sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. Hari ini masyarakat Bali dan umat Hindu diberbagai daerah merayakan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi yang dimulai dengan menyepi dan melaksanakan catur brata penyepian.

Masyarakat yang merayakan Nyepi biasanya tidak melakukan aktivitas seperti biasa dan lebih mengutamakan untuk melakukan refleksi diri. Semua kegiatan yang menggambarkan urusan duniawi pun ditiadakan, termasuk pelayanan umum, bahkan Bandara Internasional Ngurah Rai pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Terdapat empat aturan yang harus dipatuhi oleh semua umat Hindu yang merayakan yakni empat brata penyepian yaitu amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

Selain memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Hari Raya Nyepi yang dilakukan di Bali juga memberikan efek positif terhadap dunia secara umum dan Provinsi Bali secara Khususnya.

Dilansir dari Liputan6.com, terdapat 5 fakta unik sekaligus keuntungan yang terdapat dibalik hari raya yang identik dengan ketenangan ini, berikut 5 fakta unik tersebut:

1. Mengurangi Gas Karbon Dioksida

Tidak adanya aktifitas seharian yang terjadi pada saat Hari Raya Nyepi di Bali turut membantu mengurangi kadar karbon dioksida (H2O). Tidak tanggung-tanggung, gas karbon dioksida yang berkurang sebanyak 20 ribu ton pada Hari Raya Nyepi dilaksanakan.

2. Menghemat Listrik dalam Jumlah Besar

Karena Nyepi tidak boleh menggunakan listrik selama 24 jam penuh, maka pada selama itu provinsi Bali akan menghemat listrik sebanyak 60%. Jika dirupiahkan, persenan tersebut akan menyentuh angka 4 miliar rupiah atau sekitar 290 megawatt (MW).

3. Menghemat Bahan Bakar Solar 

Listrik yang biasa digunakan warga Bali tidak nyala karena pembangkit listrik di sana ikut diberhentikan. Pemberhentian pembangkit listrik tersebut akan menghemat penggunaan bahan bakar solar sebanyak 500.000 liter atau sebesar tiga miliar rupiah.

Hal ini dikarenakan pengistirahatan dua pembangkit listrik di Bali. Kedua pembangkit yang di stop operasinya tersebut yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Pemaron yang biasa menghasilkan listrik sebesar 80 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gilimanuk, yang biasa menghasilkan listrik sebesar 130 MW.

4. Memberikan Ketenangan
Pada Hari Raya Nyepi, warga Hindu diharuskan untuk berdiam diri di rumah tanpa cahaya dan suara sehingga menimbulkan ketenangan yang luar biasa. Hal ini sangat baik bagi orang yang sudah penat akan bekerja atau aktivitas berat lainnyna.

Selain itu, Hari Raya Nyepi bisa menjadi momen berkumpul bersama anggota keluarga yang setiap harinya sibuk beraktivitas maupun bekerja.

5. World Silent Day Terinspirasi Dari Hari Raya Nyepi

World Silent Day atau Hari Hening Sedunia merupakan sebuah gerakan untuk mengurangi aktifitas yang mengeluarkan sumber daya seperti menyalakan listrik dan mengendarai kendaraan bermotor selama empat jam yang dimulai pada pukul 10.00 hingga 14.00. World Silent Day dilaksanakan setiap tanggal 21 Maret. World Silent Day diharapkan memberikan kontribusi pada pengurangan ancaman pemanasan global.

Hari Hening Sedunia ini digagas oleh Triple-C (colaboration for climate change), yakni gabungan LSM Bali saat konferensi global warming (UNFCCC), di Bali tahun 2007. World Silent Day ini terinspirasi dari kearifan budaya lokal, hari raya Nyepi. Selama Hari Raya Nyepi diperkirakan mampu mengurangi emisi sebanyak 20.000 ton di Bali.