OPINI: Rasisme Papua, Rangkul Di Dunia Nyata Bukan Opini dan Narasi

Oleh: Pasa Maraya

OPINI: Rasisme Papua, Rangkul Di Dunia Nyata Bukan  Opini dan Narasi
Korwil Sulsebara GMKI, Pasa Maraya. (Dok Pribadi)

Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia kordinator wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara (GMKI Korwil Sulselbara), Pasa Maraya menghimbau agar tindakan Rasisme dan Persekusi yang terjadi terhadap saudara(i) kita Mahasiswa Papua di berberapa tempat agar merangkul mereka dalam tatanan kehidulan sosial secara nyata bukan hanya dalam opini dan narasi-narasi yang dibangun di media-media massa dan media sosial.

Tindakan represif terhadap mahasiswa Papua pada tanggal 16 Agustus 2019 sekitar pukul 15.20 WIB di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya, Jl. Kalasan No. 10 dengan didatangi anggota TNI, Satpol PP, Polisi dan sejumlah Ormas berkaitan dengan dugaan adanya pengrusakan tiang bendera dan pembuangan bendera merah putih ke selokan menjadi issue nasional untuk segera dihentikan agar tidak berembes ke daerah-daerah lain seperti yang juga terjadi di Asrama Mahasiswa Papua di Makassar jl. Lanto Daeng Pasewang pada Minggu malam sekitar pukul 18.30 Wita.

Sangat disayangkan, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan adalah kota yang dikenal sebagai propinsi toleran yang telah melahirkan tokoh-tokoh nasional besar namun dapat terjadi tindakan rasisme terhadap saudara/i kami mahasiswa Papua yang juga adalah anak kandung Bangsa ini.

Untuk kejadian yang ada di Makassar, mengapresiasi langkah cepat yang diambil oleh Gubernur Sulawesi Selatan, dan Pj Walikota Makassar serta pihak keamanan langsung mengambil langkah dialog dan komunikasi secara cepat dalam melakukan upaya penyelesaian permasalahan yang dialami mahasiswa Papua, sehingga persoalan ini tidak berlangsung lama akibat provokasi kelompok tertentu yang tidak menginginkan anak bangsa bersatu menuju Indonesia maju dan menjadikan makassar sebagai kota yang plural kota yang nyaman untuk semua.

Makassar dengan budaya leluhurnya senantiasa mengedepankan sikap 
"Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge untuk tetap bersatu, menjaga Makassar dan Sulawesi Selatan agar tetap damai, kondusif dan saling mengingatkan satu sama lain bahwa ketika konflik terjadi, yang rugi adalah kita semua anak bangsa, jangan mau di adu domba atas nama ras, suku, agama atau apapun namanya,”
Siri'na Pacce diilhami sebagai falsafa tatanan kehidupan sosial untuk senantiasa malu berbuat jahat dan lebih malu untuk tidak berbuat baik atau dalam falsafah bugis makassar.

Semua pihak agar tetap menahan diri, tidak mudah terprovokasi dengan apa yang beredar di media-media khususnya di medsos.” Pepatah Bugis Makassar mengatakan "Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja" artinya "Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir".

Identitas kita inilah sebagai Bangsa yang memiliki keberagaman dan harga diri kebangsaan sebagai sebua kesadaran hakiki yang harus senantiasa dipelihara oleh semua anak bangsa.

Sebagai sebuah Negara hukum dan demokratis, harus menjunjung tinggi Hak Asasi manunia. 

Bangsa Indonesia adalah rumah bersama bagi seluruh anak bangsa, oleh karena itu Negara melalui seluruh infrastruktur dan suprastrukturnya  berkewajiban untuk menjamin keamanan dan kenyamanan serta kebebasan warga negaranya dimanapun ia berada sehingga bentuk alasan apapun tidak diperkenankan terjadinya tindakan represif bagi setiap warga negara dari kalangan apapun untuk melakukan persekusi terhadap siapapun di Negeri yang plural ini.

Indonesia yang besar ini membutuhkan semangat kebersamaan. Kitong samua basodara, kitong samua baku sayang, satu di dalam rumah besar Indonesia.

[Pasa Maraya, Korwil Sulselbara GMKI].

Penulis : Redaksi

Editor : Fritz Wongkar