Pasien HNP Bersyukur Dijamin BPJS Kesehatan

Pasien HNP Bersyukur Dijamin BPJS Kesehatan
Jannati (69), warga Bua Tallulolo, Kabupaten Toraja Utara.

KabarMakassar.com -- Jannati (69), warga Bua Tallulolo, Kabupaten Toraja Utara ini awalnya merasakan keluhan nyeri disertai kesemutan rasa kebas yang juga tidak menghilang pada bagian kakinya. Ia telah merasakan hal tersebut selama kurang lebih tujuh bulan yang lalu. Setelah melakukan kontrol pertamanya diperoleh hasil bahwa ia mengalami Herniasi Nucleus Pulposus (HNP) atau yang sering disebut dengan istilah saraf terjepit pada tungkai kakinya.

Herniasi Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf terjepit adalah adalah suatu kondisi dimana saraf tertekan oleh bagian sekitarnya. Pada kondisi saraf terjepit, tubuh akan mengirimkan sinyal berupa rasa nyeri. Nyeri biasanya sering terjadi hanya pada satu sisi tubuh dan terjadi perlahan-lahan, hilang timbul atau bahkan bisa semakin parah jika tidak segera mendapatkan penanganan.

"Pertama kaki saya terasa seperti kesemutan, setelah kontrol dinyatakan dokter bahwa saya sakit saraf terjepit," ungkap Jannati.

Ada beberapa dampak yang dapat terjadi ketika saraf terjepit dibiarkan, seperti jaringan lunak atau pelindung di sekitar saraf dapat pecah. Hal tersebut dapat dapat menyebabkan pembengkakan, tekanan ekstra, dan jaringan parut. Jika saraf kejepit terjadi pada waktu yang singkat, tentu tidak ada kerusakan permanen pada saraf. Namun, jika tekanan terjadi terus menerus tentu saja saraf bisa rusak secara permanen. Solusi terbaiknya adalah segera melakukan pemeriksaan ke dokter untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Setelah diperiksa oleh dokter spesialis saraf, Jannati dianjurkan untuk melakukan pengobatan rutin tiap minggu.

"Saya selalu melakukan kontrol dan terapi pada hari jumat setiap minggunya di Rumah Sakit Elim, Rantepao," katanya.

Dikarenakan nyeri yang kadang menghampiri dan terkadang pula mengganggu aktivitasnya ketika berjalan, maka Jannati sehari-harinya menggunakan tongkat sebagai penopang tubuhnya. Ia juga disarankan untuk mulai mengurangi aktivitas berat untuk menjaga kondisi fisiknya.

Selama menjalani pengobatan, Jannati tidak pernah khawatir mengenai masalah biaya karena semuanya telah dijamin oleh BPJS Kesehatan. 

“Selama ini saya berobat menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Saya merasa sangat terbantu sekali. Apalagi saya hanya seorang ibu rumah tangga,” tuturnya sambil menunjukkan kartu JKN-KIS-nya.

Jannati telah menjalani pengobatan yang cukup lama namun ia tidak pernah terkendala baik pada pelayanan kesehatan maupun pembayaran.

"Terima kasih sekali kepada pemerintah yang selama ini telah menjamin kepesertaan saya di BPJS Kesehatan," tuupnya.

Jannati adalah peserta JKN-KIS segmen PBI APBD. Di usianya yang tak muda lagi terlebih sering mengeluhkan sakit, Jannati sungguh berharap bahwa Program JKN-KIS dapat terus hadir dan tetap setia membantu masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan, karena ia telah merasakan sendiri manfaatnya.

Penulis : Redaksi

Editor : Prisatno