Perusda
Bank SUlsel Bar

8 Suku di Indonesia Yang Menolak Modernisasi

on 15/3/18 Oleh Andi Lasinrang Rusdin Tamma
8 Suku di Indonesia Yang Menolak Modernisasi
IST

KabarMakassar.com --- Ada banyak suku bangsa di dunia. Bahkan beberapa dianggap suku terasing karena tempat tinggal mereka yang terisolasi dari dunia luar.

Ada beberapa penyebabnya, selain karena memang pembangunan yang belum merata sampai ke pedalaman, ada juga suku-suku di dunia yang memang sengaja menolak peradaban modern.

Berikut 8 Suku di Indonesia yang menolak peradaban modern.

1.Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam hidup di hutan-hutan di Provinsi Jambi. Kehidupannya masih sangat tradisional dan jauh dari peradaban, apalagi teknologi. Sayangnya, suku ini terancam punah karena adanya pembangunan industri di hutan-hutan Sumatera.
Banyak dari anggota suku yang harus meninggalkan tempat tinggalnya karena digusur. Hal ini menyebabkan kebudayaan suku ini juga perlahan-lahan menghilang.

2. Suku Laut

Suku Laut merupakan suku yang tinggal secara nomaden atau berpindah-pindah di area Kepulauan Riau.Suku ini sudah ada sejak zaman dulu, bahkan berperan penting di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor.
Dulu, suku laut ini dikenal sebagai kelompok perompak yang menjaga keamanan kawasan dagang di Riau. Mereka juga mengusir para bajak laut dan membantu para pedagang.

3. Suku Polahi

Suku Polahi hidup di pedalaman hutan Baliyohuto di Gorontalo.Dulu, warga Gorontalo memilih untuk meninggalkan rumahnya dan masuk ke hutan untuk kabur dari penjajahan Belanda.
Mereka kemudian menetap di hutan bahkan sampai Indonesia sudah merdeka. Kata “polahi” sendiri memang berarti pelarian. Sampai sekarang, anggota suku ini menolak untuk berinteraksi dengan orang luar suku.
Mereka menganggap orang-orang luar adalah penjajah.

4. Suku Kajang

Suku Kajang hidup di pedalaman Bulukumba di Sulawesi Selatan. Mereka hidup dengan cara-cara dan kebiasaan yang masih tradisional dan menolak modernisasi.
Bahkan orang luar yang berkunjung ke tempat tinggal mereka juga harus mengikuti kebiasaannya. Orang-orang suku Kajang wajib menggunakan pakaian berwarna hitam.
Mereka percaya bahwa warna hitam melambangkan persamaan dan kesederhanaan.

5. Suku Kombai

Suku Kombai hidup di hutan-hutan di pedalaman Papua. Mereka punya keunikan sendiri nih, teman-teman, soal rumahnya. Rumah anggota suku Kombai dibangun di atas pohon dengan ketinggian mencapai lebih dari 50 meter.
Tujuannya adalah untuk menghindari ancaman alam, seperti banjir dan serangan hewan buas.

6. Suku Badui

Suku Badui atau suku Kanekes adalah masyarakat asli di daerah Banten. Meskipun tinggal di daerah yang cukup sentral di Indonesia, suku ini menjalani kehidupannya dengan mengasingkan diri dan tidak menerima modernisasi atau pembangunan yang berasal dari luar.

Masyarakat Badui lebih memilih hidup mandiri di sekitar pegunungan kendeng dengan bermata pencaharian yang bersumber dari alam.

Meski terisolir, masyarakat Badui hidup dengan penuh kerukunan dan tolong menolong.

7. Suku Samin

Suku Samin merupakan suku pedalaman di Indonesia yang terasing dan terancam kepunahannya. Suku Samin tersebar didaerah Blora, Pati dan sebagian wilayah Bojonegoro. Suku samin atau yang juga disebut wong rikep ini memilih tinggal di tengah hutan di kawasan pegunungan kendeng, dan menjauhkan diri dari keramaian masyarakat.

Mereka lebih memilih hidup mandiri bersahabat dengan alam tanpa mengeksploitasi secara berlebihan dan menolak penuh aturan pemerintah.

Penolakan terhadap pemerintah pada suku ini bermula dari sikap pendahulunya Samin Surosinteko yang menentang keras sikap kapitalisme dan materialisme pemerintah Belanda.

8. Suku Sakai Riau

Suku Sakai adalah suku yang hidup di pedalaman hutan Riau dan merupakan masyarakat keturunan minangkabau. Suku ini menjadi salah satu suku pedalaman yang terasing di Indonesia karena kebiasaan mereka yang hidup berpindah-pindah menyusuri hutan dan tidak ada yang tahu berapa jumlah pasti dari masyarakat suku Sakai ini.

Suku Sakai memilih hutan yang asri sebagai tempat tinggal mereka dan bertahan hidup dengan bertani dan berladang. Namun dengan kebiasaan masyarakat yang hidup berpindah-pindah di hutan, dan seiring semakin berkurangnya kawasan hutan akibat alih fungsi lahan hutan membuat masyarakat suku sakai kesulitan mencari tempat tinggal dan kehilangan mata pencahariannya, membuat ruang gerak suku sakai di Indonesia ini semakin terbatas.