Perusda
Bank SUlsel Bar

Logislah Berkampanye !!!

Terbit 13/3/18 Oleh A. Nur Ahmad
Logislah Berkampanye !!!
Uslimin

Kabarmakassar.com, Tahapan pilkada sudah memasuki babakan krusial; kampanye. Momen umbar janji berbungkus visi misi. Ada banyak tawaran menarik dari pasangan calon dan atau tim sukses. Ada yang riil dan masuk akal. Tapi, juga tak sedikit yang boleh dibilang semu dan tak terukur. 

Jika mau sedikit lebih cermat, di babakan kampanye, muncul banyak perubahan sikap dan tabiat dari kontestan. Kalau tidak mau menyebutnya sebagai pertunjukan kemunafikan. 

Tengok saja fakta di berbagai waktu dan kesempatan. Ada yang mendadak jadi amat peduli pada kaum papah. Ada juga yang tiba-tiba alim dan akrab dengan rumah ibadah dan jemaah. Beragam simbol serba positif pun terumbar kemana-mana. Tanpa mengenal ruang dan kelas.

Ya, itulah fenomena lumrah setiap memasuki momentum suksesi. Setiap kontestan akan berusaha menampilkan sisi positif yang dipunyainya. Sebaliknya, sisi negatif dan kelam dari pesaingnya, sedapat mungkin dibeber sedetail mungkin. Kalau perlu memanfaatkan bantuan lembaga survei dan media massa. Media sosial apalagi.

Di tengah iklim persaingan yang tak kenal kompromi, para kontestan sejatinya tidak terlena dan sibuk jual kecap. Sebab, seiring perkembangan zaman, kualitas pemilih sudah semakin cerdas. Meski, jumlah pemilih oportunis juga tidak berkurang. 

Ya, pemilih zaman now, sudah tidak mudah dibuai janji surga. Pemilih dengan bantuan teknologi pelacak masa lalu, akan sangat gampang menemukan tabiat masa lalu dan jejak kepemimpinan setiap kontestan. Mereka tidak dapat lagi dibodohi dan ditipu retorika ala sinterklas di atas kertas dan di lantai panggung. 

Karena itu, setiap kontestan, mulai hari ini, hendaknya tidak lagi mengandalkan janji kosong dan melenakan. Saatnya menawarkan konsep yang riil dan terukur serta logis. Riil karena memang memungkinkan direalisasikan dalam kurun waktu lima tahun. Terukur dalam hal pencapaian, dan logis dalam tatanan keilmuan dan akal sehat.

Jadi, berhati-hatilah dalam bersandiwara. Karena, gestur dan tindak laku kalian akan dipelototi. Kalangan cerdik pandai akan dapat menilai betapa gestur kalian di depan publik adalah sebuah pertunjukan bodoh. Mempertontonkan lakon kemunafikan.  (*)