Begini Nasib Mantan Presiden Sudan Setelah di Kudeta

Begini Nasib Mantan Presiden Sudan Setelah di Kudeta
Presiden Sudan Omar al-Bashir. (AFP)

KabarMakassar.com -- Mantan Presiden Sudan, Omar al-Bashir alkhirnya tampil didepan publik setelah di kudeta pada April 2019 lalu.  Omar al-Bashir tampil saat menghadap jaksa saat membacakan dakwaan terkait kasus korupsi pada Minggu (16/6).

Omar al-Bashir tampil mengenakan jubah dan turban tradisional, Bashir menempuh perjalanan dari penjara Kober menuju kantor jaksa penuntut di Khartoum diiringi konvoi bersenjata lengkap.

Dikutip dari media CNN Indonesia, mantan presiden Sudan tersebut diduga memiliki mata uang asing, korupsi, dan menerima hadiah secara ilegal. Hal tersebut pun dibenarkan oleh Jaksa Alaeddin Dafallah.

Dikabarkan sebelumnya jika di Sudan pada April 2019, Omar al-Bashir mendapatkan demo atau aksi besar-besaran, dalam aksi demo tersebut kericuhan terjadi dan memakan puluhan korban jiwa.

Militer Sudan pun membentuk dewan militer sebagai pemerintah sementara sebelum pemilu. Wakil dewan militer Sudan, Mohamed Hamdan Dafalo, sebelumnya bersumpah akan menghukum mati pihak yang bertanggung jawab atas kematian demonstran, dengan nada menyindir Bashir.

"Kami berupaya keras untuk membawa orang yang melakukan itu ke tiang gantungan. Siapapun yang bertanggung jawab," katanya seperti dilansir AFP.

Bahkan di kabarkan pula jika dewan militer sendiri diduga melakukan pembunuhan dan pemerkosaan massal terhadap ratusan demonstran.

Perselisihan antara demonstran dan dewan militer ini bermula ketika kubu pengunjuk rasa menuntut agar transisi menuju pemerintahan sipil segera diwujudkan. Namun, perundingan antara dewan militer dan demonstran kerap menemui jalan buntu, membuat para demonstran terus menggelar aksi di Khartoum yang ditanggapi keras oleh aparat keamanan.

Informasi yang diterima dari pihak kedokteran di Sudan jika 128 orang tewas akibat demonstrasi ini. Namun, Kementerian Kesehatan Sudan menyatakan total korban tewas dalam demonstrasi ini 61 orang. (Sumber: CNN Indonesia/AFP).

Penulis : A. Ikal Pradipta

Editor : Fritz Wongkar