Merasa Dirugikan oleh PT Malea, Masyarakat Datangi Kantor Bupati dan DPRD Tator

Merasa Dirugikan oleh PT Malea, Masyarakat Datangi Kantor Bupati dan DPRD Tator
Ratusan masyarakat Lembang Buakayu kecamatan Bongga Karadeng kabupaten Tana Toraja melakukan aksi damai di kantor DPRD dan kantor Bupati Tana Toraja, Kamis (8/5). (Foto : Andarias Padaunan)

KabarMakassar com -- Ratusan masyarakat Lembang Buakayu kecamatan Bongga Karadeng kabupaten Tana Toraja melakukan aksi damai di kantor DPRD dan kantor Bupati Tana Toraja, Kamis (8/5). 

Dari pantauan KabarMakassar.com, aksi tersebut di cuekin oleh pemerintah dalam hal ini Bupati dan DPRD. Sementara itu kepala Lembang Buakayu, Jholie Sandakila kecamatan Bongga Karadeng kabupaten Tana Toraja menyatakan PT Malea itu sangat merugikan masyarakat di Lembang Buakayu . 

"PT Malea menimbun bantaran sungai sehingga  jika air meluap maka air tersebut akan masuk di perkebunan dan persawahan warga. Sehingga lokasi kami terkikis dan terkena erosi. Kerugian kami itu di taksir sampai miliaran rupiah" ucap Jhonie. 

Menurut Jholie, PT Malea itu tidak menggunakan Analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) sehingga jembatan juga ikut dirusak oleh air sungai.

Jhonlie juga menyatakan bahwa akibat dari pt Malea tidak menggunakan Amdal jembatan kami juga ikut di rusak air sungai . 

"Kami meminta PT Malea segera mengganti jembatan kami yang dibantu oleh pihak dunia dengan anggaran 3,5 Miliar dan jembatan ini hampir terbawa arus karena terkikis oleh air. Jika ini tidak di benahi maka jalan poros menuju Rano Bangga Karadeng akan terputus" tambahnya.

Hari ini pihaknya telah memberikan surat tuntutan kepada PT Malea, DPRD, Bupati, dan Lingkungan Hidup Tana Toraja.

Berikut tuntutannya :

1. Atas pemakaian kata "Malea" yang dipakai perusahaan selama ini, kami menuntun perusahaan sebanyak Satu Miliar Rupiah untuk dibayarkan  kepada kami, dan kalau perusahaan sudah beroperasi, maka kami akan menerima royalti (potongan persen) setiap bulannya dari perusahaan.
2. Supaya PT Malea Energy Hydropower membangun jembatan baja di Balulang untuk di lalui kendaraan (mobil) menggantikan jembatan gantung yang hampir tumbang. Jembatan ini akan menghubungkan Lembang Buakayu, kecamatan Bonggakaradeng dengan Lembang Rano Utara, kecamatan Rano. 

3. Sepanjang sungai Sa'dan dalam wilayah Lembang Buakayu (perbatasan dengan kelurahan Ratte Buttu kecamatan Bonggakaradeng dan perbatasan dengan Lembang Palesan kecamatan Rembon) supaya di talud, dan atau di bronjong khususnya yang kena langsung dampak negatif dari perusahaan tersebut. 

4. Akses jalan di sekitar perusahaan khususnya yang ada dalam wilayah Lembang Buakayu supaya diperbaiki /dicor.

5 . Tenaga kerja (pelamar) dari masyarakat Lembang Buakayu adalah kategori tenaga lokal yang harus di prioritaskan (sesuai rekomendasi dari Lembang Buakayu).

6 . Supaya ada anggota masyarakat dari Lembang Buakayu, satu atau dua orang yang oleh prusahaan sebagai tenaga Humas.

7 . Supaya ada jaminan bagi masyarakat yang kena dampak negatif dari perusahaan PT Malea. 

8. Kalau PT Malea Energy Hydropower sudah berproduksi supaya ada aliran listrik gratis kepada masyarakat di Lembang Buakayu. 

9. supaya ada insentif bagi aparat pemerintah Lembang Buakayu, seperti kepada aparat Lembang (Desa) yang lainnya di sekitaran perusahaan.

10. Kami memberikan waktu 1 atau 2 minggu kepada perusahaan untuk memberikan pernyataan secara tertulis sebagai jawaban atas tuntutan kami (kami tunggu paling lambat 24 mei 2019). 

11. Kalau permintaan ini tidak dipenuhi oleh PT Malea  Energy Hydropower maka dalam waktu dekat kami akan menurunkan massa yang lebih besar lagi.

Penulis : Andarias Padaunan

Editor : Nor Syakila