Longgar atau Rapat, Aturan penggunaan Sajadah dan Merapatkan Shaf

Longgar atau Rapat,  Aturan penggunaan Sajadah dan Merapatkan Shaf
Aturan penggunaan sajadah dan meluruskan shaf dalam shalat (Int)

KabarMakassar.com -- Sajadah merupakan perlengkapan yang biasa dipakai ketika seorang muslim melaksanakan ibadah shalat. Biasanya sajadah berupa sehelai kain (tebal) yang dipakai sebagai alas untuk bersujud.

Namun, tak semua orang yang shalat menggunakan sajadah, ada pula yang melakukan shalat tanpa alas sehelai kain pun. Bagaiamana ketentuan sebenarnya tentang alas untuk shalat ini? Lalu apakah aturan sebenarnya dalam merapatkan saf? 

Dari Abu Sa’id, ia berkata bahwa beliau pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau katakan, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas tikar, beliau sujud di atasnya.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadis di atas dapat diketahui bahwa sajadah atau semacamnya sudah dikenal di masa Rasulullah SAW. Berdasarkan hadits di atas juga dapat disimpulkan bahwa penggunaan sajadah itu diperbolehkan, sebab Nabi sendiri pernah menggunakananya.

Namun, penggunaan sajadah ketika shalat itu sama sekali tidak menjadikan penggunaannya wajib. Jika, ada anggapan shalat harus menggunakan sajadah, ini dikhawatirkan dapat menjadi suatu bid’ah.

Syaikh ‘Utsman Al Khomis menerangkan, “Yang dimaksud bid’ah adalah jika berkeyakinan bahwa shalat mesti di sajadah dan ia mengharuskan seperti itu. Namun yang tepat, sujud di atas sajadah bukanlah bid’ah. 

Dalam kitab syafinatun naja dijelaskan bahwa syarat sholat ada 8, yaitu:

1.Suci dari dua hadats (hadats kecil dan hadats besar).
2.Suci dari najis pada pakaian, badan dan tempat (shalat)
3.Menutup aurat
4.Menghadap kiblat
5.Masuk waktu shalat
6.Mengetahui fardhu-fardhunya shalat
7.Tidak boleh menyakini satu fardhu dari fardhu-fardhunya shalat sebagai sunnat
8.Menjauhi batalnya (yang membatalkan)shalat.

Jadi, intinya penggunaan sajadah sebagai alas dalam shalat itu bergantung pada kondisi tempat. Jika tempat yang digunakan suntuk shalat itu bersih dan layak, maka boleh saja shalat tanpa sajadah.

Lalu bagaimana dengan jarak saat salat, haruskah satu orang tetap di satu sajadah atau merapatkan jaraknya meskipun menggunakan 1 sajadah dengan 2 orang? 

Imam al-Syaukani dalam karyanya Nail al-Authar menjelaskan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menghukumi rapatnya saf dalam salat jama’ah. Sebagian para ulama berpendapat wajib dan ada juga yang mengatakan sunnah.

Namun pertanyaannya sekarang adalah apakah standar lurus dan rapatnya sebuah shaf itu? Namun pertanyaannya sekarang adalah apakah standar lurus dan rapatnya sebuah saf itu? 

Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’-nya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan lurusnya shaf pada hadis di atas adalah memenuhi shaf yang pertama terlebih dahulu, kemudian baru menyambungnya dengan shaf yang selanjutnya serta menutup ruang/celah kosong yang terdapat di dalam shaf.

Sementara itu, Syekh Zainuddin al-Malibari dalam karyanya Fath al-Mu’in menegaskan bahwa yang menjadi standar lurusnya shaf adalah kesejajaran bahu dan tumit antar makmum, bukan jari-jari kaki mereka, karena jari-jari kaki seseorang bisa saja berbeda-beda dalam hal panjang dan lebarnya, sehingga tidak bisa dijadikan patokan. Sedangkan standar rapatnya shaf adalah tidak adanya ruang atau celah yang kosong antar makmum yang ada. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh para ulama dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah.

Hal senada juga dijelaskan oleh Abu al-Naja Musa ibn Ahmad ibn Musa al-Hijawi, seorang ulama bermazhab Hambali, dalam karyanya yang berjudul Zad al-Mustaqni’ fi Ikhtishar al-Muqni’. Kitab ini juga dikomentari langsung oleh Syekh Muhammad ibn Shaleh al-‘Utsaimin, mantan mufti Kerajaan Saudi Arabia, sebagai kitab kecil yang mempunyai kandungan yang padat dan lengkap. Abu Naja menggaris bawahi bahwa yang dimaksud rapat di sini bukan berdesak-desakan dalam artian menempel secara ketat antar satu sama lain.

Sehingga dengan demikian, dapat dipahami bahwa tidak seorangpun dari ulama yang sudah penulis sebutkan di atas yang mengharuskan kaki seorang makmum harus menempel dengan kaki makmum yang disebelahnya, karena hal itu dapat menyakiti serta menyusahkan makmum yang di sampingnya. Hanya saja yang dianjurkan adalah tidak menyisakan ruang kosong di tengah saf yang berpotensi memutuskan shaf. Bagi makmum yang mendapati kondisi seperti ini hendaknya segera menutupinya dengan masuk ke shaf yang bolong tersebut.

Jadi dalam hal penggunaan 1 sajadah 2 orang, bisa saja selagi hal itu tidak menganggu ibadah dan ketenangan orang yang berdiri di samping kita. 


 

Penulis : Redaksi

Editor : Nor Syakila