Jejak Perjuangan Perempuan Sulawesi Selatan

Jejak Perjuangan Perempuan Sulawesi Selatan
Foro: R.A kartini dikenal sebagai kebangkitan perempuan Indonesia yang berjuang melalui tulisan surat-suratnya beliau tuangkan dalam sebuah tulisan.

KabarMakassar.com -- Perempuan adalah tiang Negara. Ketika perempuannya baik maka baiklah suatu negara. 

Sejarah telah mencatat perjuangan perempuan Indonesia. Kendati demikian masih banyak yang harus diperjuangankan oleh perempuan zaman sekarang ini. Kita banyak mengetahui Perjuangan R.A kartini dikenal sebagai kebangkitan perempuan Indonesia yang berjuang melalui tulisan surat-suratnya beliau tuangkan dalam sebuah tulisan,

Beliau telah banyak memberikan sumbangsi pemikiran bagi perempuan-perempuan Indonesia yang telah mendirikan sekolah perempuan. Namun yang patut kita ketahui pula dalam sejarah juga mencatat di tanah Bugis Makassar pun pernah melahirkan beberapa tokoh intlektual perempuan.

Lain halnya dengan Emmy Saelan beliau dikenal seorang pejuang perempuan yang gugur dimedan perjuangan tahun 1947, beliau memimpin pertempuran melawan belanda dan beliau juga pimpinan palang merah untuk menyertai gerakan operasi, sehingga perjuangan Emmy Saelan pun dikenang sebagai pahlawan nasional.

Emmy Saelan dilahirkan di Makassar pada 15 oktober 1924, sebagai putri sulung dari tujuh bersaudara. Salah seorang adiknya, Maulwi Saelan, adalah tokoh pejuang dan pernah menjadi pengawal setia Bung Karno. Emmy Saelan adalah salah satu perempuan hebat Bugis – Makassar dan pejuang wanita Indonesia. Meskipun ia anggota palang merah, tetapi ia selalu berpakaian ala laki-laki dan memilih bertempur di garis depan.

Pada tanggal 5 April 1946, Gubernur Sam Ratulangi, bersama dengan pembantu-pembantunya ditangkap oleh Belanda. Dr. Sam Ratulangi adalah pejabat Gubernur yang ditunjuk Bung Karno untuk provinsi Sulawesi. Berita penangkapan Ratulangi mendapat protes. Salah satunya adalah perawat-perawat putri di Rumah Sakit Katolik ‘Stella Maris’. Mereka melakukan pemogokan umum untuk memprotes penangkapan tersebut.

Salah satu tokoh penggerak aksi pemogokan ini adalah Emmy Saelan. Emmy Saelan gugur pada sebuah tanggal 23 Januari 1947, saat memimpin sekitar 40 orang pasukan bertempur dengan Belanda. Pertempuran terjadi dalam jarak yang sangat dekat.

Seluruh anak buah Emmy gugur dalam pertempuran itu. Tinggal Emmy sendirian. Pasukan Belanda mendekat dan memerintahkan Emmy menyerah tetapi ia menolak dan terus melawan. Senjata yang dia miliki tinggal granat, maka dilemparkanlah granat itu ke pasukan Belanda. Pasukan Belanda pun bergelimpangan, tetapi Emmy turut gugur dalam pertempuran jarak dekat itu.

Emansipasi  menjadi wacana yang menarik untuk diperbincangkan dikalangan perempuan hari ini. Perjuangan hak-hak perempuan menjadi hal yang begitu perlu perhatian ektra terdapat pemerhati dan aktivis perempuan saat ini.

Ternyata Kesetaraan gender telah dikenal sejak lama dizaman kerajaan Bugis. Kita dapat melihat literatur sejarah beberapa perempuan yang pemimpin di Sulawesi Selatan. 

Dalam buku History Of Java(1871)Thomas Standford Raffles mencatat kesan kagum terhadap perempuan Bugis dalam masyarakatnya (perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan kekerasan, pelanggaran privasi atau pekerjaan paksa sehingga membatasi aktifitas /kesuburan mereka, dibanding yang dialami kaumnya dibelahan dunia lain) "Rafles history of jaya, Appendix F, Celebes” halaman 1xxxxvi)".

Tidak hanya itu kesetaraan politik pun dirasakan. Banyak perempuan zaman dulu menjadi raja (bina Negara) sekaligus memiliki basis pengetahuan mendidik anaknya dan masyarakat yang dipimpinnya.

Sejarah mencatat perempuan Bugis yang menjadi pemimpin kerajaan diantaranya: We Tenri Rawe (Raja ri luwu, abad 14), Datu Pattiro We Tenri Soloreng (1640-Bone), Andi Pancatena (1915 Enrekang)

Figure Perempuan yang hadir ditanah Bugis Makassar dahulu tidak hanya menampilkan  kecantikan fisik saja adalah namun perempuan Bugis Makassar sangat mengedepankan intlektual.

Dan masyarakat menempatkan perempuan mempunyai tempat yang terhormat yang menghargai kebijaksanaan dan sebagai penyeimbang dalam segala aktivitasnya.

Pada zaman sekarang ini memang sudah sewajarnya kita mengetahui sejarah perjuangan para pahlawan kita. Kearifan perempuan ternyata memberikan warna tersendiri dalam mengarungi jejak sejarah perjuangan perempuan disulawesi selatan.

Dalam era 4.0 generasi hari ini khususnya perempuan diharapkan dapat melakukan banyak perubahan dari berbagai sektor kehidupan, sebagai rahim peradapan bangsa patutlah perempuan mengambil peran baik itu sebagai anak, istri dan ibu.

Untuk itu dengan hadirnya figur pemimpin pemimpin yang humanis dengan sisi kelembutan dibalik integritasnya kepemimpinannya, demi melahirkan tunas peradapan baru.

Melihat rentetan sejarah yang hadir maka bagi kaum muda perempuan saat ini baik harus lebih banyak memahami tantangan yang yang harus dihadapi dengan bangunan karakter yang kuat sebagai perempuan Bugis Makassar.

Penulis: HAJRIANA ASHADI

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi