Mengenal Stunting, jadi Perdebatan Cawapres Maruf Amin dan Sandiaga Uno

Mengenal Stunting, jadi Perdebatan Cawapres Maruf Amin dan Sandiaga Uno
Stunting (ilustrasi).

KabarMakassar.com -- Dalam debat Calon Wakil Presiden (Cawapres) 2019 memanas di segmen ke-5 debat kandidat. Dimana istilah Stunting muncul pada saat cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin menanyakan program 'Sedekah Putih' yang digadang-gadang oleh pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sandi menjelaskan sedekah putih adalah program pembagian susu bagi anak-anak yang mengalami kekurangan asupan gizi. Namun Ma'ruf Amin beranggapan bahwa program 'Sedekah Putih' tidak tepat untuk anak yang mengalami Stunting. 

Keduanya sempat berdebat terkait definisi stunting atau kondisi kekerdilan pada bayi di bawah lima tahun tersebut. Muncul istilah Stunting dan peredebatan pun meluas hingga akhir debat kedua Cawapres tersebut.

KabarMakassar.com mencoba untuk mengulas apa itu Stunting berikut penjelasannya,

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Banyak yang tak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah pertumbuhan si kecil. Apalagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat. Pasalnya stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.

Kebanyakan orangtua hanya melihat perkembangan dan pertumbuhan anaknya dari berat badan saja. Jika berat badan cukup atau melihat pipi anaknya sudah sedikit tembam, maka dianggap anak tersebut sudah sehat. Padahal, tinggi badan tak kalah penting untuk dipantau. Banyak yang tidak menyadari bahwa stunting adalah permasalahan gizi buruk yang banyak dialami oleh anak-anak Indonesia. 

Selain itu, stunting juga bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi. Entah itu tidak diberikan ASI eksklusif ataupun MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas.

Banyak teori yang menyatakan bahwa kurangnya asupan makanan yang mengandung zink, zat besi, serta protein ketika anak masih berusia balita adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan kejadian ini.

Bagaimana cara agar kita mengetahui bahwa anak tersebut menderita stunting ?

Tanda utama stunting adalah tubuh pendek di bawah rata-rata. Tinggi-pendeknya anak sebenarnya bisa Anda ketahui jika Anda memantau tumbuh kembang si kecil sejak ia lahir. Beberapa gejala dan tanda lain yang terjadi kalau anak mengalami gangguan pertumbuhan:

1. badan tidak naik, bahkan cenderung menurun
2. Perkembangan tubuh terhambat, seperti telat menarche (menstruasi pertama anak perempuan)
3. Anak mudah terkena penyakit infeksi
4. Sementara, untuk tahu apakah tinggi anak normal atau tidak, Anda harus secara rutin memeriksakannya ke pelayanan kesehatan terdekat. Misalnya saja, membawa si kecil    ke Posyandu atau Puskesmas terdekat setiap bulan.

Dampak Stunting Pada Anak

Seorang anak dinyatakan stunting ketika tinggi badannya lima persen di bawah acuan normal. Namun, bahaya stunting bukan hanya soal fisik tapi juga perkembangan otak jadi tidak maksimal.

"Stunting menyebabkan otak anak tidak berkembang dengan baik sehingga menurunkan kemampuan kognitifnya," kata Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia, Fasli Jalal di Jakarta beberapa saat lalu.

Ketika kecerdasan menurun, ini akan membuat anak sulit berprestasi di sekolah. Tak berhenti di situ, efek jangka panjang juga bakal terjadi ketika usia produktif. Ketika seseorang memiliki kecerdasan kognitif rendah akan membuat tingkat produktivitas juga rendah saat bekerja.

Fakta ini selaras dengan hasil riset yang dipublikasikan Lancet di 2007. Disebutkan penghasilan anak stunting ketika usia produktif 20 persen lebih rendah dari yang tumbuh optimal.

Di kutip dari Liputan 6.com, dampak buruk stunting tidak cuma pada tubuh yang pendek dan kemampuan kognitif rendah. Dampak jangka panjang stunting juga meningkatnya risiko obesitas saat dewasa dan risiko penyakit degeneratif kronis seperti disampaikan dokter spesialis anak RS Soetomo, Meta Hanindita.

"Kekurangan nutrisi saat anak-anak akan berefek pada keseimbangan energi, pengaturan asupan makanan, kerentanan terhadap efek makanan yang tinggi lemak serta dapat mengubah sensitivitas insulin," kata Meta saat dihubungi.

"Hal itu yang menyebabkan risiko anak stunting terkena penyakit degeneratif," katanya.

Apakah Stunting bisa diobati dan diatasi?

Sayangnya, stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan yang tidak bisa dikembalikan seperti semula. Maksudnya, ketika seorang anak sudah stunting atau pendek sejak ia masih balita, maka pertumbuhannya akan terus lambat hingga ia dewasa.

Saat puber, ia tidak dapat mencapai pertumbuhan maksimal akibat sudah terkena stunting di waktu kecil. Meskipun, Anda telah memberikannya makanan yang kaya akan gizi, namun tetap saja pertumbuhannya tidak dapat maksimal.

Namun kita bisa mencegah hal itu dari terjadi dengan cara mengetahui tanda awal stunting serta mengambil tindakan lebih dini, saat ini pemerintah telah banyak melakukan upaya pencegahan stunting.

Dikutip dari Liputan6.com jaringan KabarMakassar.com berikut beberapa usaha dan inovasi dari pemerintah

Kampanye 'Isi Piringku'

Salah satu cara pencegahan stunting yang digalakkan pemerintah, yaitu Kampanye 'Isi Piringku'. Langkah ini juga mengatasi kekurangan gizi kronis. 'Isi Piringku' merupakan pedoman porsi makan sehari-hari dalam satu piring yang memenuhi gizi seimbang.

Dalam 'Isi Piringku', sajian satu piring terdiri dari 50 persen buah dan sayur, sedangkan 50 persen sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein. Agar Kampanye 'Isi Piringku' berjalan efektif harus disesuaikan dengan daerah masing-masing.

"Kampanye 'Isi Piringku' bisa jadi upaya mencegah stunting. Tapi kampanye itu beda-beda tiap daerah. Disesuaikan sama makanan lokal," tegas Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menegaskan dalam sambutan acara "Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI."

Ia mencontohkan, jangan sampai kampanye 'Isi Piringku' dari Padang, Sumatera Barat yang berisi rendang malah dikampanyekan di Bugis, Sulawesi Selatan. Rendang bukan makanan lokal orang Bugis.

Yang benar, Kampanye 'Isi Piringku' untuk mencegah stunting harus sesuai dengan kearifan lokal. Sumber pangan juga sebaiknya berasal dari daerah setempat.

Upaya mencegah stunting juga perlu dilakukan jauh sebelum kehamilan. Ini sebagai upaya dini agar calon ibu mengonsumsi makanan bergizi dan menjaga kesehatan sebelum juga selama hamil.

"Sebelum hamil, ibu-ibu harus memahami soal gizi dan risiko stunting pada anak. Stunting menyebabkan kekerdilan," tutup Jusuf Kalla.

Pos Gizi dan pemberdayaan pangan lokal

Upaya penanganan stunting salah satunya diterapkan oleh masyarakat Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Ada Pos Gizi di Desa Haya-haya, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Pos Gizi itu berfungsi menurunkan stunting (kekurangan gizi kronis) dengan berbagai kegiatan, misal pendataan dengan pengukuran di posyandu.

Ketika Health Liputan6.com berkunjung ke sana pada 17 Juli 2018, Kepala Desa Haya-haya, Yasin Ingo menyampaikan, pendataan dilakukan oleh kader dan divalidasi oleh petugas kesehatan, terutama data status gizi.

"Calon peserta Pos Gizi diperiksa untuk mengetahui ada atau tidaknya penyakit penyerta. Jika ditemukan penyakit, maka terlebih dahulu dilakukan perawatan sampai pulih. Baru diikutsertakan dalam Pos Gizi," jelas Yasin.

Peserta pos gizi menyasar bayi (6-11 bulan) dan balita (12-59 bulan) beserta ibunya. Seluruh bayi dan balita dipantau penambahan berat badannya untuk mencegah stunting. Yang paling rutin dipantau adalah berat badan. Kenaikan atau penurunan berat badan paling cepat dan mudah terlihat dibandingkan tinggi badan, sedangkan tinggi badan baru dapat diketahui hasilnya dalam beberapa bulan sulit terlihat kemajuannya.

Untuk berat badan, kenaikan atau penurunan bisa terlihat. Setiap dua minggu sekali, kemajuan berat badan dicatat. Pada dinding ruangan Pos Gizi terlihat karton yang berisi catatan kemajuan berat dan tinggi badan bayi dan balita.

Tak hanya memantau soal berat dan tinggi badan, Pos Gizi juga berupaya memberdayakan makanan lokal. Para kader mengajarkan orangtua memasak makanan bergizi dengan bahan pangan lokal. Yang lebih menarik, susunan kalori juga diajarkan dan disusun petugas gizi. Adapun jumlah kalori harian baiknya terkandung antara 300-500 kkal dengan protein 5-12 gram.

"Adanya pos gizi dibangun berkat partisipasi masyarakat. Kami mengajarkan memasak makanan lokal. Ya, makanan lokal diberdayakan," Yasin menambahkan.

Makanan lokal yang diberdayakan membuktikan, kandungan zat gizi dan vitamin tidak harus berasal dari makanan mahal.

"Kami ingin mengubah mindset (pandangan) masyarakat terkait makanan. Bahwa makanan berbahan lokal kaya zat gizi," ujar Yasin.

Prevalensi stunting (kekurangan gizi kronis) di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, telah berhasil turun. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, prevalensi stunting pada balita atau anak usia 0-59 bulan, turun dari 40,7 persen (2015) menjadi 32,3 (2017).

Begitu pula prevalensi stunting pada baduta, anak usia 0 hingga 24 bulan. Pada 2015, prevalensi mencapai 32,3 persen, tahun 2016 menurun jadi 28,4 persen, dan pada 2017 menjadi 24,8 persen.

Kegiatan pos Gizi Desa Haya-Haya dibentuk sejak 2013 dengan memanfaatkan dana dari partisipasi masyarakat, yang dibantu tim penggerak gizi dan bidan desa. Pembinaan dilakukan oleh puskesmas kecamatan setempat. Pada tahun 2017, kegiatan pos gizi desa telah diintegrasikan dengan dana desa.

Kembangkan RSUD Hasri Ainun Habibie

Pemerintah Provinsi Gorontalo bahkan melakukan pengembangan RSUD Hasri Ainun Habibie menjadi RSUD Tipe B. Pengembangan tersebut dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama menurunkan stunting.

Dalam peninjauan ke RSUD Hasri Ainun Habibie pada 16 Juli 2018, Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mendukung pengembangan RSUD tersebut. Pengembangan dilaatarbelakangi kurangnya akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan terlebih belum ada rumah sakit pusat rujukan provinsi.

RSUD Hasri Ainun Habibie akan berkembang menjadi rumah sakit tipe B, yang sebelumnya rumah sakit tersebut adalah tipe D. Rencana pengembangan menjadi RSUD tipe D akan dilengkapi dengan dokter, perawat dan bidan, kefarmasian, tenaga kesehatan lainnya, dan tenaga non kesehatan.

Dokter yang dibutuhkan sebanyak 75 orang untuk pelayanan medik, pelayanan medik spesialis dasar, pelayanan spesialis penunjang medik, pelayanan medik spesialis lain, pelayanan medik spesialis Gigi dan Mulut, dan pelayanan medik subspesialis.

Untuk bidan dan perawat dibutuhkan 509 orang, kefarmasian 20 orang, tenaga kesehatan lainnya 60 orang, dan tenaga non kesehatan 159 orang. Selain pengembangan menjadi RSUD tipe B, RSUD Ainun juga akan dikembangkan sebagai rumah sakit pendidikan. (Sumber Liputan6.com jaringan KabarMakassar.com)

Penulis : Nor Syakila

Editor : Fritz Wongkar