Transportasi Online Mewabah, Pete-pete Ditinggal

Transportasi Online Mewabah, Pete-pete Ditinggal
Foto: Transportasi lokal kota Makassar, (Pete - Pete )

KabarMakassar.com -- Pete-pete adalah salah satu mode Transportasi lokal kota Makassar. Menurut sejarah asal mula sebutan pete-pete berasal dari uang receh yang pada masa itu pecahan Rb 5 dan Rb 10 di tahun 1980an.

Seiring perkembangan zaman dimana di era yang sekarang ini mode transportasi berbasis online semakin marak sehingga muncul ketimpangan harga yang begitu besar di antara angkutan umum konvensional (Pete-pete) dan transportasi yang berbasis online. 

Hal ini diungkapkan oleh Ardi (28) yang mengeluhkan pendapatan yang sudah berkurang dari tahun sebelumnya.

"Kalau banyak lagi penumpang yah dapat Rp 50 , kalau ada yang carter yah biasa dapat Rp100, bedami sekarang tidak kaya dulumi yang biasa dapat Rp 150 sampai Rp 200 per hari." kata Ardi sopir pete-pete jurusan Perumnas Antang- Makassar Mall itu. Jumat kemarin (15/3).

Hal serupah diungkapkan Andri (48) jurusan Makassar Mall, Daya, Sudiang menurutnya jika dirinya sudah pasrah pasalnya dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan maraknya angkutan online ini.

"Pasrah mamiki karena mau apalagi. kalau ada penumpang yang berdiri-berdiri di pinggir jalan pake hp nda di ambilmi karena pasti tunggui taksi online. Semoga pemerintahan yang baru bisa lebih baik, " ucapnya sambil memperbaiki mobilnya (pete-pete) yang lagi mogok. 

Menurut Adi Sumandiyar, Ketua Prodi Sosiologi Universitas Sawerigading (UNSA) Makassar, jika ada perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat yang meliputi nilai-nilai sosial, lembaga-lembaga sosial, atau perilaku-perilaku sosial. "Menurunnya tingkat pendapatan sopir pete-pete atau angkutan umum itu karena dipengaruhi adanya perubahan-perubahan struktur dalam tata nilai sosial, dimana masyarakat sudah mengadopsi bahkan mencaplok budaya globalisasi di dalam kehidupan sehari-harinya. "Terangnya 

Lanjut dijelaskan jika perilaku masyarakat saat ini cenderung instan dan termodernisasi dengan sendirinya.

"Kita melihat bahwa pete-pete yang hanya mempunyai sarana-prasarana yang sangat terbatas utamanya dari segi fasilitas kendaraannya maka dari itu masyarakat cenderung lebih memilih kepada mode transportasi yang lebih dinamis misalnya transportasi online mobil atau motor yang didukung oleh fasilitas-fasilitas teknologi (smartphone). Mereka tinggal pesan dimana lokasi dia akan dijemput," jelasnya.

Penulis : Isak Pasa'buan

Editor : Prisatno