PLTB Sindrap, Siapa Buntung,Siapa Untung - II

Oleh Canny Watae

PLTB Sindrap, Siapa Buntung,Siapa Untung - II

Kabarmakassar.com, Edisi lanjutan kemarin...  soal PLTB.

happy reading!
-----
Siapa sangka tiupan angin bisa menjadi UANG? Ya saya, lah. Wong karena itulah saya nulis. Tentu saja para pembuat kincir angin pembangkit listrik jauh lebih menyadarinya. Nelayan berperahu layar juga tahu. Tetapi yang bisa mereka dapatkan dari tiupan angin bukanlah UANG dalam bentuk FISIK. Melainkan "SETARA UANG". Apa itu SETARA UANG di sini? Maknanya adalah: bisa mendapatkan suatu hal senilai jumlah uang tertentu, tetapi tidak mendapat UANG-nya secara FISIK. Jadi, untuk melaut sejarak (contoh kasar saja) 10 KM sang Nelayan semestinya butuh 1 liter BBM, dengan memanfaatkan tiupan angin ia menjadi tidak memerlukan BBM tersebut. Jika BBM-solar yang digunakannya melaut seharga Rp. 5000,- per liter, berarti si Nelayan memiliki "SETARA UANG" sebesar 5 ribu rupiah dari ANGIN. FISIK UANG-nya sendiri TIDAK ADA. Satu-satunya harapan ia bisa mendapat UANG dalam bentuk FISIK adalah kalau ia berhasil menangkap ikan dan ikannya laku. 

Sama kalau kita kepanasan dalam ruangan. Lalu jendela kita buka lebar-lebar dan hembusan angin menerpa. Kalau kita menggunakan kipas angin (apalagi AC), akan ada kompensasi biaya listrik yang ditimbul yang harus dibayar. Dengan hanya memanfaatkan hembusan angin dari jendela, tidak ada kompensasi biaya yang timbul. Tetapi, tidak pula karenanya ketiadaan kompensasi biaya itu membuat kita bisa memperoleh FISIK UANG. 

Nah, PLTB adalah alat yang memungkinkan hembusan angin berubah menjadi UANG secara FISIK. Nelayan dan kita hanya bisa mendapat SETARA UANG dari hembusan angin. Sedangkan PLTB: mendapat UANG dalam arti sesungguh-sungguhnya UANG. 

UANG-nya didapat dari mana? Dari pelanggan listrik, tentunya. Dari mana para pelanggan listrik mendapat UANG mereka? Dari BEKERJA, BERDAGANG, BERUSAHA, dan lain sebagainya. Kalau UANG pembayar rekening listrik itu tetap merupakan milik "internal" dan berputar kembali dalam sistem keuangan Negara kita, maka akan ada HAL lain yang bisa "bergerak" karenanya. Entah apa, yang pasti berkontribusi memperkuat roda ekonomi Nasional. Ekonomi yang KUAT dari suatu Negara akan menjadi ALAS yang kuat pula bagi mata uang Negara tersebut. Tidak mudah terombang-ambing. Kalau MATA UANG jangkar dunia (DOLLAR Amerika) bergejolak, niscaya mata uang Negara yang ALAS-nya kuat tetap stabil. Bisa jadi, malah MENGUAT. 
PLTB (yang akan segera beroperasi di Sulawesi Selatan, di Kabupaten Sidenreng Rappang) "punya" siapa? Punya "LUAR". Otomatis, UANG FISIK yang nantinya TERWUJUD dari hembusan angin di sana akan "kembali berhembus ke LUAR". Dalam arti kata: kembali berubah menjadi "ANGIN" dirasa dari perspektif internal kita. Tentu, tetap ada "tiupan-tiupan" kecil yang "jatuh" ke kita, dalam bentuk gaji orang-orang yang bekerja pada pemanen energi angin di sana, dan pajak atas bumi dan bangunannya. 

PLTB Sidrap diinvestasi oleh OPIC (Overseas Private Investment Corporation), sebuah lembaga pemberi "utang" milik Pemerintah Amerika Serikat. Lembaga ini bertugas memobilisasi modal-modal swasta Amerika untuk ditanamkan di luar negeri-nya Amerika. Untuk mewujudkan PLTB Sidrap OPIC memberi "utang" sebesar 120 juta dollar. Dalam Rupiah kira-kira 1,6 Trilyun Rupiah. Belakangan "bengkak" menjadi 150 juta Dollar, kira-kira 2 Trilyun Rupiah. Kalau MATA UANG Rupiah makin lemah, maka jumlahnya makin besar lagi karena statement pinjaman dalam bentuk DOLLAR Amerika. Makin belakangan lagi, PLTB (walau belum diresmikan) sudah akan ditambah lagi (pembangunan fase kedua) dengan tambahan"utang" 90 juta Dollar. Tambahkan lagi 1,2 Trilyun dari jumlah 2 Trilyun Rupiah sebelumnya.

Nantinya, akan ada UANG sebanyak 150 juta + 90 juta Dollar plus bunga-nya yang akan TERCIPTA dari hembusan angin di negeri kita, dari salah satu titik kecil sahaja di negeri kita, yang sudah pasti akan TERBANG ke Amerika. Lho, bukannya MODAL 240 juta Dollar itu asalnya dari mereka juga?

Jawaban pertama: mengapa PLTB itu bukannya kita yang bikin sendiri saja? Kita tidak kuasai teknologinya, ya? Ya, BELAJAR sampai BISA. Kalau memang proses BELAJAR-nya belum kelar, ya, TUNDA pembangunannya. Ngomong-ngomong, Indonesia sebenarnya punya tenaga ahli pertenagabayuan. Selain itu, maaf, bukannya mau menyederhanakan persoalan, tapi untuk membangun PLTB sendiri KEMAMPUAN-KEMAMPUAN yang diperlukan untuk itu ADA dan TERSEDIA dalam tanah air kita sendiri. Umpan ke MASPION yang jago bikin kipas angin itu. Kalau cuma merancang dan membangun bilah-bilah (blade) raksasa penangkap energi angin itu saya yakin MASPION bisa. Tantang HARTONO ISTANA ELEKTRONIK yang puluhan tahun bikin produk-produk POLYTRON untuk membuat soft-system kendali elektronik untuk operasi pembangkitan listrik itu. KALLA ELEKTRIK SYSTEM, pabrik pembuat trafo di Makassar bisa di-challenge untuk bikin belitan rotor dan stator dari mesin pembangkitnya. Material baja untuk bangunan pembangkit, kita punya KRAKATAU STEEL. Maka, 240 juta DOLLAR itu terinvestasi di internal kita sendiri. Tidak ke mana-mana, berputar di tanah air kita. Memperkuat perekonomian kita. 

Jawaban kedua: 240 juta DOLLAR dari swasta-Amerika via OPIC itu BELUM TENTU dollar ber"tenaga-asli". Bisa jadi, dan sangat mungkin, itu adalah bagian dari dollar ber"tenaga-palsu". Maksudnya? Ingat bailout 700 Milyar Dollar karena GEC 2008? Duit itu duit "sim sala bim". Duit tanpa ALASAN. Duit itu, bisa jadi, kalau dibiarkan berada dalam sistem internal perekonomian Amerika Serikat, adalah duit "loyo". Duit itu malah akan memicu inflasi di sana. Amerika harus melempar seoptimal mungkin UANG DOLLAR ke luar dari negerinya, untuk menjadi "INVESTASI" di negeri orang, karena pemerintah-pemerintah di negeri lain itu "PERCAYA" dan "TAWAKAL"  the Federal Reserved. Ibarat orang lapar di"lempar" dulu ke negeri lain, makan -menyerap energi- di negeri orang, setelah itu pulang ke Amerika. Cara "pulang"nya, salah satu contohnya: melalui "mekanisme" pembayaran impor. UANG DOLLAR itu keluar dari negeri tempat ia di"lempar"kan dalam bentuk "pembayaran". Di fase inilah UANG DOLLAR itu ter-charge, terisi penuh menjadi DOLLAR ber-"tenaga-asli". Contoh lain:  melalui fluktuasi nilai tukar (kurs). Saat mata uang negeri yang didatangi (dibuat) MELEMAH jauh terhadap DOLLAR, di situlah DOLLAR yang sedang berada di negeri tersebut ter-charge. He he he... Untuk menebus 1 Dollar yang tadinya 12 ribu, kita harus lebih keras lagi berusaha untuk mendapatkan duit 13.500 Rupiah. Orang yang menyekolahkan anaknya di Amerika, tadinya hanya perlu mengeluarkan 12 ribu Rupiah, berikutnya harus berusaha lebih keras lagi untuk menebus DOLLAR pada harga 13.500. MATA UANG DOLLAR itu "dapat energi" sebesar 1.500 Rupiah tiap 1 DOLLAR-nya saat ia dikirim ke Amerika.

Dalam konteks PLTB Sidrap, pelanggan-pelanggan PLN di Sulawesi Selatan pada khususnya dan di wilayah layanan yang terinterkoneksi di dalamnya secara umum akan BEKERJA KERJA KERJA untuk Asing setidaknya senilai 240 juta Dollar plus bunga. Sebagai informasi, PLTA Bakarru yang pernah menjadi pembangkit utama sistem kelistrikan Sulawesi Selatan dibangun dengan utang Asing, mulai beroperasi tahun 80-an dan sampai sekarang perawatannya masih mendapat "utang" Asing. Dalam perspektif Nasional, "utang" yang diambil untuk membangun PLTB tersebut masuk ke dalam Neraca PLN secara Nasional, dan sudah pasti akan menjadi faktor yang mempengaruhi pengambilan kebijakan penentuan Tarif Dasar Listrik. 

Selebihnya, sebagaimana di awal tulisan pada bagian pertama, tentang persoalan teknikal.
PLTB di Sulawesi Selatan (setelah Sidrap ada lagi yang sedang dalam tahap konstruksi, yaitu PLTB Jeneponto) masuk pada saat yang ketepatannya menimbulkan pertanyaan besar: benar-benar TEPAT atau benar-benar SALAH (?).

Per akhir 2017 lalu sistem kelistrikan Sulawesi Selatan dan Barat sedang surplus sebesar 200 MW. Dalam arti, semaksimal-maksimalnya serapan pelanggan atas tenaga listrik yang dibangkitkan, kemampuan PLN terhitung masih sangat berlebihan. Masuknya pasokan listrik dari PLTB nanti akan membuat PLN sampai pada pilihan pahit: meminta operator pembangkit eksisting untuk mengurangi pasokan daya. Kasusnya mungkin akan sama dengan Bekasi Power, yang punya perjanjian pembangkitan energi listrik selama 20 tahun sejak 2013, memenuhi kewajiban nyaris tanpa cacat, tetapi baru-baru ini mendapat surat "cinta" dari PLN agar mengirim "zero KWH" saja. Maksudnya: BERHENTI produksi dan diam dalam status CADANGAN. Mengapa? PLN di sana kelebihan pasokan daya. Investor Bekasi Power mungkin sedang memandang jari mereka saat ini.......untuk digigit.

Selanjutnya, karakteristik pembangkitan PLTB itu 50% mengandalkan faktor "luck". Mengandalkan tiupan angin. Sangat rentan saat ia beroperasi dalam sebuah sistem interkoneksi. Pembangkit-pembangkit jenis lain bersifat "dalam jangkauan pengaturan manusia". Contoh: PLTA. Aliran air yang menggerakkan turbin sangat bisa "diatur". Pasokan air ke dam penampung sangat bisa diprediksi dengan toleransi hingga hitungan bulan. Kalau sungai sumber airnya mulai masuk fase mengering sekali pun, ada rentang waktu yang relatif panjang untuk mengetahui dan mengambil tindakan kompensasi atas berkurangnya pasokan air. Berikutnya: PLTU. Ini lebih bisa lagi "diatur". Pasokan batubara sepenuhnya ada dalam kendali manusia. Mau dibakarnya 1 ton jam 7 pagi lalu 2 ton pada jam 7 malamnya, itu sangat bisa "diatur". PLTG juga begitu. Pasokan gas mudah "diatur". Tetapi tidak untuk PLTB. Manusia belum bisa "mengatur" pasokan angin. Dia bisa datang dalam bentuk sangat sepoi (yang tak cukup kuat untuk menggerakkan bilah pemutar turbin), lain waktu dia bisa hadir dalam bentuk badai (yang membuat terlalu berbahaya untuk dioperasikannya pembangkit). 

Saya membayangkan, fluktuasi pasokan energi listrik dari PLTB Sidrap yang berada pada skala cukup besar (75 MW untuk fase pertamanya saja) akan merepotkan sistem pengatur beban PLN Sulawesi Selatan. Syukur-syukur kalau tidak byar-pet. 

Jadi, cerita "positif" tentang PLTB ini terlalu "indah" di atas kertas. Kemampuannya menerangi hingga ratusan ribu rumah tak lebih sebagai bahasa "PR" belaka. Lha, wong ratusan ribu rumah mana lagi di Sulawesi Selatan yang berada dalam jangkauan jaringan PLN yang BELUM tersambung listrik? Kecuali yang memang belum terjangkau jaringan, ya semua yang ada sudah tersambung. Kalau ada yang masih belum tersambung, itu bukan karena PLN kekurangan daya, itu kembali kepada yang punya rumah. 

Cerita PLTB berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca, itu juga "indah" dan "benar". PLTB nyaris zero emission. Tidak mengeluarkan gas rumah kaca yang adalah tersangka utama gejala pemanasan global saat ini. Namun, menjadi aneh dan lucu ketika anda mengetahui Amerika sebagai pemberi utang untuk PLTB Sidrap yang zero emission itu adalah Negara Industri Maju yang tidak mau mengikuti Protokol Kyoto. Protokol Kyoto diratifikasi oleh 191 Negara di dunia pada tahun 1997 lalu, di mana Amerika tidak mau ikut serta. Protokol itu mewajibkan semua Negara mengurangi emisi gas rumah kaca hingga level yang disepakati bersama. Saat ini, Amerika adalah peringkat kedua Negara pengemisi gas rumah kaca di dunia, satu tingkat di bawah China. Di Indonesia (Sidrap), Amerika bercerita bahwa mereka berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca (super secuil emisi), sementara di tanah airnya sana, Amerika tancap gas memancarkan gas itu ke angkasa, untuk menopang produksi industri dan untuk kemakmuran rakyatnya. Kita? Nyicil utang ke sana. He he he...

Penulis :

Editor :