PLTB Sidrap, Siapa Buntung, Siapa Untung

Oleh Canny Watae

PLTB Sidrap, Siapa Buntung, Siapa Untung

Kabarmakassar.com-- Dalam waktu yang tidak lama lagi, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Sulawesi Selatan akan diresmikan. 

Bahwa PLTB itu "indah", menghasilkan listrik dari "hanya" dari angin sahaja, itu benar. Benar sekali. PLTB itu mengurangi emisi karbon, itu benar, walau tidak sepenuhnya benar. Persoalannya adalah: uang yang timbul dari ditangkapnya angin menjadi energi itu terbang ke mana? Persoalan berikutnya bersifat teknikal. Membutuhkan pemahaman mendasar seputar kelistrikan.

Tulisan ini tidak saya tujukan pada orang-orang berpikiran pendek, tertutup, dan sedikit-sedikit melempar tuduhan nyinyir. Ada beberapa hal yang wajib dipahami dengan baik terlebih dahulu, hal mana, bukan tanggung jawab saya untuk mengajari, sehingga, jangan kalau gagal memahami hal tersebut, ujungnya di sini hanya bisa menuduh saya "nyinyir".
Apa itu energi, apa itu uang? Itu yang harus kita pahami secara mendasar terlebih dahulu. Lalu, di mana keterhubungan keduanya? 

Jika selama ini anda menggunakan energi listrik dan paham bahwa anda harus membayar tagihan tiap bulan dengan sejumlah uang, itu baru pemahaman pada tingkat "primitif". Anda tidak memikirkan dari mana energi listrik itu ada dan ke mana uang pembayaran anda itu pergi. Anda juga tidak memikirkan apa yang membuat uang itu ada. Kalau anda (sekedar) memahami bahwa anda punya uang karena anda bekerja (menerima gaji) atau berdagang (mendapat untung), maka pemahaman tersebut masih dalam kategori "primitif".
Jikalah memang anda merasa yang penting listriknya ada, dan anda bisa bayar, maka sudahlah mempermasalahkannya, ya sudah. Anda tidak perlu buang-buang energi membaca tulisan ini dan, apalagi, berdiskusi tentangnya. Bagi saya, anda cukup menikmati kehidupan pribadi saja. Tunggu "jadwal" mendapat panggilan dariNYA, lalu beristirahatlah dalam damai. Anak-cucu Anda yang akan terus bekerja untuk bangsa lain. Disadari atau tidak. Kemungkinan besarnya malah: tidak. 

Anda punya uang? Coba ambil selembar dari dompet. Lihat. Dari manakah uang itu? Di dalam uang itu terkandung NILAI. Katakanlah uang anda 10.000 Rupiah. NILAI-nya 10 ribu. Dari mana NILAI 10 ribu itu datang? Dari Bank Sentral yang menerbitkan mata uang tersebut. Dalam hal ini: Bank Indonesia. Dari mana halnya BI bisa memberi NILAI 10 ribu itu? Sekedar memiliki kewenangan mencetak lembar uang saja tidaklah cukup bagi BI untuk mencetak uang. Atau mengeluarkan perintah untuk mencetak (duit Rupiah itu ada juga yang dicetak di luar negeri, kan?). 
Agar sebuah kertas polos ukuran -katakanlah- 5 kali 12 senti (yang nilainya mungkin hanya 100 rupiah) bisa dicetak menjadi lembaran uang berNILAI 100.000 Rupiah, harus ada ALASAN-nya. Jaman dahulu (bahkan sampai sekarang, dan di banyak Negara, kecuali pada satu atau beberapa Negara) ALASAN-nya adalah emas. 

Emas bersifat: tidak teroksidasi oksigen (hingga sifatnya tahan karat, awet), jumlah yang dapat ditambang sangat terbatas, konduktor listrik yang sangat baik sehingga sangat pas untuk digunakan pada perangkat-perangkat genggam (hampir semua handphone ada emasnya), mudah memantulkan cahaya (berkilau, indah sebagai perhiasan). Sifat-sifat inilah yang membuat emas disebut "mulia". Logam Mulia. Dengan sifat kemuliaan itulah pada jaman dahulu kala emas diperlakukan sebagai alat (device, devisa) bayar.

Lama-kelamaan, sistemnya berubah sesuai kemampuan berpikir manusia. Dari pada koin-koin emas itu susut (akibat gesekan, tertumbuk, tergores, dan lain sebagainya) dan membuatnya "berkurang" daya belinya, maka lebih baik emas itu disimpan. Sebagai gantinya, untuk tiap satuan emas yang disimpan, otoritas penyimpan menerbitkan nota tanda adanya emas yang disimpan. Nota-nota itulah yang diperlakukan sebagai alat bayar yang berputar-putar di masyarakat. Notanya ada yang berbentuk koin. Ya, awalnya koin juga, tetapi dibuat dari logam yang bukan emas. Bukan logam mulia. Sehingga itu logam susut secara fisik bukanlah persoalan besar. Kalau ia remuk, tinggal ditarik dari peredaran, dan diganti dengan koin baru. Seiring berubahnya kemampuan berpikir manusia, dibuatlah notal dalam bentuk kertas. Lebih mudah dari pada membat uang koin, dan lebih leluasa membuat berbagai motif yang dirasa sulit untuk ditiru (mencegah dibuatnya nota palsu oleh yang bukan otoritas). Nota-nota itulah yang kita kenal jaman now sebagai UANG. Otoritasnya kita kenal sebagai Bank Sentral. Devisanya kita kenal sebagai emas.

Jadi, untuk tiap nilai Uang yang dicetak oleh sebuah Negara, ada devisa Emas yang disimpan (dicadangkan, reserved). Mata Uang yang dicetak melebihi jumlah emas yang dicadangkan, kalau KETAHUAN melebihi-nya tersebut, NILAI-nya akan TURUN. Kalau tadinya selembar uang bertulis "1" bisa untuk membeli -sebagai contoh- 1 kilogram beras, saat KETAHUAN (baca: disadari oleh masyarakat) emas yang dicadangkan kurang, maka dengan selembar uang berNILAI "1" itu kita hanya bisa membeli 0,5 Kg beras. Daya beli TURUN.

Seiring berubahnya lagi kemampuan berpikir manusia (dan "kelihaian", termasuk "kelicikan"), ada BENDA selain Emas yang menjadi bisa atau dibisakan sebagai DEVISA. BENDA tersebut adalah UANG DOLLAR Amerika. 

Bola bumi pasca-perang dunia berada dalam kontrol Negara-negara pemenang perang (Sekutu) yang dipimpin Amerika Serikat. Benefit sebagai "pemimpin" membuat mata uang Amerika "laku" di mana-mana. Puncak-puncaknya ketika Amerika berhasil menanamkan pengaruh transaksi jual-beli MINYAK (petroleum) antar-negara di dunia menggunakan DOLLAR pada dekade 70-an lalu. Muncullah istilah baru: PETRODOLLAR. Kondisi ini memungkinkan kuatnya kepercayaan terhadap mata uang dollar tanpa mengaitkannya dengan jumlah emas yang dicadangkan di gudang-gudang penyimpanan milik Bank Sentral Amerika (Federal Reserved, "the Fed"). 

Untuk lebih "hancurnya" lagi, pada awal dekade 70-an itu, pada era kepresidenan Richard Nixon, Amerika Serikat menyatakan tidak terikat pada sistem pencadangan emas (Sistem Bretton Woods. Bretton Woods adalah nama sebuah kampung di Amerika tempat Amerika menyelenggarakan sebuah konferensi tahun 1944 untuk membuat para pesertanya menyepakati sistem moneter dunia, yang di dalamnya meneguhkan sistem pencadangan emas, beberapa bulan sebelum Perang Dunia berakhir). Itu berarti, walau tanpa pencadangan emas sekalipun, Amerika bisa sesuka hati mencetak UANG (Dollar). "Gilanya" di sini adalah: keseluruhan bola bumi mau tidak mau hanya bisa menurut, karena sistem perdagangan dunia kepalang mengikatkan diri pada mata uang Dollar. Pula, banyak Negara di dunia menjangkarkan mata uangnya pada mata uang dollar. Kalau jangkar-nya terseret arus di bawah permukaan laut sana, segala yang terikat pada jangkar itu ikut "bergerak". Sering, kan, anda mendengar ungkapan "Cadangan devisa Indonesia saat ini berjumlah (sekian) Milyar Dollar?" Ya, itu berarti UANG RUPIAH yang anda pegang saat ini nilainya dijangkarkan ke UANG DOLLAR. Dalam hal ini, DOLLAR telah sama dengan EMAS, sama-sama diperlakukan sebagai DEVISA.

Sampai di sini jelas: Emas memiliki NILAI karena dia EMAS, logam mulia dengan berbagai kegunaan dan manfaat secara LANGSUNG. Sedangkan UANG memiliki NILAI karena dia "dijamin" dengan emas yang dicadangkan di Bank Sentral penerbit uang tersebut. Ada sebuah MATA UANG di dunia yang keberadaannya saat ini dinyatakan TIDAK ada kaitannya dengan pencadangan emas oleh Bank Sentral penerbitnya, tetapi MATA UANG tersebut mengandalkan KEPERCAYAAN belaka yang dibentuk dan dipertahankan karena Negara tempat Bank Sentral itu berada/berlindung. MATA UANG itu adalah DOLLAR AMERIKA. Ada pun DOLLAR AMERIKA itu oleh berbagai negara di dunia sudah kadung diperlakukan sebagai SETARA EMAS dengan menjadikannya sebagai DEVISA (alat) untuk menjamin NILAI mata uang masing-masing.

Apakah KEPERCAYAAN pada DOLLAR dapat selamanya terpelihara? Ternyata jawabannya adalah: TIDAK.

Pada tahun 2008 Amerika mengalami Krisis Ekonomi (lebih di atas lagi derajatnya dari Krisis Moneter). Krisis itu diawali dari macetnya kredit rumah kategori "subprime" (kategori "dhuafa" kalau menggunakan istilah kita di sini). Sederhananya begini. Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah rezim George Bush junior membuat kebijakan populis berupa kemudahan memperoleh kredit untuk pembelian rumah bagi warganya. Kemampuan mencicil-balik kredit tersebut dibijaki untuk tidak menjadi faktor signifikan layak-tidaknya seseorang memperoleh kredit. Sektor properti Amerika langsung "booming". Saham-saham perusahaan properti melonjak. Mengapa Pemerintah AS bisa percaya diri begitu? Karena MATA UANG-nya KUAT. Ibarat tidak melakukan "apa apa" sekali pun, perputaran UANG DOLLAR itu sendiri di luar negeri telah cukup membawa keuntungan bagi Amerika sebagai sang empunya MATA UANG.

Lalu datanglah masa di mana kredit-kredit macet melebihi tumpukan yang tak lagi dapat menopang operasi normal perbankan Amerika. Tak butuh berapa lama sahaja, problem kredit macet subprime itu mendapat "teman baru" berupa macetnya kredit barang-barang consumer pada perusahaan-perusahaan pembiayaan besar. "Adira"nya Amerika, yaitu "Freddie Mac" dan "Fanny Mae" kolaps. Seketika, kelemahan terbesar sistem perekonomian Amerika yang mengandalkan KEPERCAYAAN terhadap DOLLAR terbuka lebar. Bahkan perusahaan otomotif legendaris kelas General Motors ikut kolaps. Industri otomotif Detroit ambruk. Tak berapa lama, bank-bank besar juga ambruk. JP Morgan ambruk, Lehman Brothers ambruk. Akhirnya, Amerika Serikat yang selama ratusan tahun mengusung Kapitalisme dalam semalam berubah menjadi negara Sosialis (!). Mengapa? Pemerintah AS terpaksa harus menalangi (bailout) semua kerugian yang terjadi. Dalam arti kata, semua perusahaan swasta yang bangkrut (yang rata-rata adalah swasta kelas kakap) diambil-alih oleh Pemerintah. Pemerintah menguasai cabang-cabang usaha, persis sama dengan (almarhum) Uni Soviet dahulu menguasai semua cabang usaha. He he he. Amerika mengalami Krisis Ekonomi. Tetapi, karena perekonomian Amerika paling banyak kaitannya dengan perekonomian negara-negara lain di muka bumi ini, maka Krisis Ekonomi Amerika ini dengan segera menjelma menjadi Krisis Ekonomi Dunia. Global Economic Crisis, GEC 2008.

Pemerintah AS harus mengeluarkan dana 700 Milyar Dollar untuk aksi bailout itu. Dari mana uang segede itu? Dari "sim sala bim". Uang fisiknya sebenarnya TIDAK ADA. Tetapi, bersama parlemennya, Pemerintah AS saling menyepakati bahwa NILAI 700 Milyar Dollar itu ADA. Tanpa emas yang dicadangkan, tanpa apa pun yang bisa menjamin KEHADIRAN NILAI 700 Milyar Dollar itu, pokoknya NILAI tersebut ADA. Tetapi, bagaimana pun juga, harus ada ALASAN yang dihadirkan agar NILAI tersebut VALID dan dapat DIPERGUNAKAN. Caranya adalah: Amerika MENGAMBIL uang dari MASA DEPAN, alias: UTANG. Siapa yang akan membayar UTANG tersebut? Rakyat Amerika sendiri (sebagian, melalui skema PAJAK dan penghapusan berbagai mata anggaran dalam APBN Amerika -yang berarti pengurangan layanan publik-). Sebagiannya lagi? Ditanggung oleh Rakyat negara lain di seantero bola bumi. Termasuk, disadari atau tidak, Rakyat Indonesia.

Sampai di sini sudah ada yang bisa "meraba" keterhubungannya dengan Energi Listrik di Indonesia? Syukur kalau sudah ada. Karena, penjelasannya nanti, pada edisi berikutnya tulisan ini. He he he...
#Bersambung

Penulis :

Editor :