Kabar Makassar

Harga Beras Naik, Hati-hati Oknum Spekulan

Kenaikan Bahan Pokok

  • Rubrik : Wawancara Khusus
  • Penulis : Hendra N. Arthur
  • Terbit : Terbit 21/1/18
Harga Beras Naik, Hati-hati Oknum Spekulan
Pengamat Ekonomi Universitas Negeri Makassar (UNM), Muhammad Hasan

KabarMakassar.com --- Harga beras di beberapa daerah kembali mengalami kenaikan. Salah satu penyebabnya karena pemerintah melakukan impor beras. Pada tanggal 16 Januari 2018, Kementrian Perdagangan RI mengeluarkan data yang menunjukkan kenaikan harga beras di beberapa daerah di Indonesia.

Berdasarkan data, harga beras medium di Banda aceh Rp.9.300/ kg, Medan Rp.11.217/ kg, DKI Jakarta 11.425/kg, Bandung Rp. 12.400/kg, Semarang Rp. 11.780/kg, Surabaya Rp.10.400/kg, Banjarmasin, Rp. 9.583/kg, Makassar Rp.9.500/kg, dan Ambon Rp.10.000/kg.

Untuk mengetahui seberapa besar dampak kebijakan itu di Sulawesi Selatan. Berikut petikan Wawancara Khusus (Wansus) Reporter www.kabarmakassar.com Wawan Indrawan bersama Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar (FE-UNM), Muhammad Hasan. Berikut interview singkatnya :

  • Apa faktor yang mempengaruhi kenaikan harga komoditas pak, utamanya beras ?

Ketika pasokan berkurang, harga beras pasti akan naik, karena permintaan lebih besar dari penawaran. Agar harga tetap stabil, maka pasokannya harus ditambah.

Meski ada kenaikan beras di beberapa daerah termasuk Makassar yang berkisar Rp. 9.500/kilogram. Tentunya menguntungkan petani, apalagi di tengah masuknya beras impor. 

Tetapi kenaikan itu harus tetap terjaga jangan sampai daya beli masyarakat berpengaruh. Apalagi beras adalah komoditi yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Sejauh ini kenaikannya masih wajar. Saya masih yakin daya beli masyarakat tetap terjaga.

  • Bagaimana dengan impor beras. Apakah kita masih kekurangan stok beras ?

Meskipun pemerintah melakukan impor beras dan menetapkan harga beras medium di beberapa daerah. Pemerintah sebaiknya tetap melihat bahwa terdapat beberapa propinsi yang surplus produksi berasnya, termasuk Sulawesi Selatan. 

Jadi sebaiknya, untuk mengatasi defisit itu. Pemerintah bisa mengambil dari propinsi lainnya.

  • Bagaimana dengan adanya perbedaan harga di beberapa provinsi pak. Kenapa harga beras di Banda Aceh jauh lebih mahal dibanding beras di Sulsel ?

Meskipun posisi Sulsel sebagai daerah penghasil beras. Letak perbedaannya jelas ada pada biaya produksi dan tingkat konsumsi masyarakatnya. Biaya produksi beras di Aceh lebih murah di banding Sulsel. 

Kenapa demikian ? Disana dekat dengan pabrik pupuk. Tetapi untuk ukuran orang aceh, harga segitu juga sudah mahal. Masyarakat Aceh tidak terlalu tinggi konsumsi berasnya. Beda dengan kita di Sulsel. Meskipun penghasil beras, tingkat konsumsi beras kita juga tinggi.

  • Apakah perbedaan harga itu berpotensi akan dimanfaatkan oknum spekulan. Bagaimana menurut anda ?

Selain perbedaan harga yang menjadi ketakutan. Ada juga potensi oknum-oknum yang melakukan spekulan memanfaatkan disparitas harga ini di pasaran. Tetapi kita tidak perlu khawatir khususnya di wilayah Sulsel.

Potensi tetap ada. Tetapi sekarang tim pengendali inflasi di tiap daerah bekerja dengan baik. Sehingga para spekulan untuk saat ini masih bisa diatasi.

Bulog juga telah berupaya menjalankan fungsinya. Hanya saja yang diurus bulog ini adalah komoditi yang bukan hanya sering terkendala pada aspek teknis, tetapi faktor alam juga sangat mempengaruhi. Sejauh ini kinerja bulog sudah optimal. (*)


Pemprov