Sosok Perempuan asal Sulawesi Dijalur Advokat

Sosok Perempuan asal Sulawesi Dijalur Advokat
Advokat (int)

KabarMakassar.com -- “Karena passion saya memang di situ,” itulah kalimat yang terlontar dari Dina Ledyana ketika ditanya alasan menjadi seorang advokat. Perempuan yang kini aktif sebagai advokat di Jakarta tersebut mengaku tantangan terberat untuk menjadi seorang advokat adalah diri sendiri. “Dunia lawyering keras, jadi tidak boleh manja,” akunya. Meski pernah mengalami pengancaman, ia tetap bertahan. 

"Saya tidak mungkin berhenti karena saya sudah ada di titik ini, dan itu tidak mudah untuk sampai ke sini,” ujar perempuan asal Sulawesi Barat tersebut.

Dina yang merupakan Alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin tersebut menempuh proses sekitar dua  tahun hingga akhirnya menjadi seorang advokat. Ia merasa bahwa dunia advokasi tidaklah menakutkan, tetapi penuh tantangan dan perjuangan. Menurutnya, untuk menjadi advokat yang matang secara pengalaman dan ilmu haruslah disiplin dan siap bekerja sosial. 

“Cari ilmunya dulu, jika sudah profesional maka materi akan mengikuti,” pesannya.

Ia berharap akan semakin banyak perempuan yang menjadi advokat. Ia melihat rasio advokat masih didomiasi kaum adam.  

Selain Dina Ledyana, ada juga Rezky Pratiwi yang juga aktif dalam dunia advokasi. Perempuan yang kini aktif di Lembaga Bantuan Hukum Makassar (LBH Makassar) tersebut mengaku aktivitasnya di lembaga pers kampus membawanya pada pilihan karir saat ini. 

Baginya, ilmu dan idealisme yang didapatnya semasa duduk di bangku kuliah dapat terpakai ketika bergabung dengan LBH. 

“Sewaktu masih kuliah, saya aktif di lembaga pers mahasiswa dan mulai interaksi dengan masalah sosial dan ketidakadilan. Cara pandang kritis jurnalis saya bawa saat memilih karir,” ungkapnya.

Ia mengaku pernah mendapat pengalaman buruk ketika menangani kasus. “Pernah dapat catcalling dari APH (Aparat Penegak Hukum), padahal waktu itu saya sedang mendampingi korban. Mungkin dianggapnya supaya akrab, padahal salah, perspektif yang begini masih banyak di lingkup APH.”

Di antara berbagai kasus yang ia tangani, kasus kekerasan terhadap perempuanlah yang membuatnya sedih dan geram. Bukan hanya persoalan bagaimana kekerasan tersebut dilakukan pelaku terhadap korban, tetapi juga beban berkepanjangan pada korban yang timbul pasca kejadian itu. 

“Di kasus kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan seksual, hampir semuanya memilukan. Menjalani proses hukum yang blm responsif dan layak untuk korban mengakses keadilan, juga jadi beban tersendiri. Apalagi, kalau korbannya anak,” ujar gadis berkacamata tersebut.

Menurutnya, saat ini jenis kekerasan seksual beragam dan tidak semua diatur dalam undang-undang, untuk itu sangat penting mendorong akses keadilan korban kekerasan seksual melalui pengesahan RUU PKS (Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual), edukasi APH dan masyarakat, di samping pendampingan menyeluruh kepada korban. Ia berharap ke depannya Indonesia akan memiliki lebih banyak perwakilan sekaligus perspektif perempuan di bidang hukum.

“Proses itu butuh keterlibatan banyak pihak, utamanya perempuan. Selain perspektif sebagai perempuan yang memang dibutuhkan dalam advokasi ini, yang didorong juga pemberdayaan perempuan dan keterwakilan dalam bidang hukum,” tutupnya.
 

Penulis : Indah Sari

Editor : Fritz Wongkar