Ini Isi Pernyataan Sikap AGRA Sulsel Dilayangkan ke PT Lonsum

Ini Isi Pernyataan Sikap AGRA Sulsel Dilayangkan ke PT Lonsum
Demo Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Sulawesi Selatan (Int).

KabarMakassar.com -- Pimpinan Wilayah Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Sulawesi Selatan menyatakan sikap atas Surat yang di keluarkan oleh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT. Lonsum agar mereka melakukan penanaman karet di lokasi yang diduduki Masyarakat Adat Kajang di Desa Tamatto. 

Perintah tersebut disertai ancaman PHK kepada para buruh tidak menjalankannya. Selain itu, jika surat perintah tersebut tidak diindahkan, maka akan berpotensi terjadi benturan dengan masyarakat Adat Ammatoa Kajang yang sementara melakukan penanaman jagung.

“Batalkan Surat Perintah PT.LONSUM kepada buruh dengan ancaman kehilangan pekerjaan jika tidak melakukan penanam karet di lokasi Tamatto yang sementara di tanami jagung oleh masyarakat adat Ammatoa Kajang" 

PT. LONSUM sendiri terlibat kasus perampasan tanah ulayat masyarakat Adat Ammatoa Kajang seluas 2.853 Ha yang tersebar di 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Kajang, Herlang, Ujungloe, dan Bulukumpa.

Berdasarkan Perda No. 9 Tahun 2015 dengan jelas dan terang membuktikan bahwa sebagian HGU milik PT. LONSUM berada dalam wilayah Adat Ammatoa Kajang. Wilayah adat tersebut merupakan tanah milik masyarakat adat Kajang yang dirampas oleh PT. LONSUM. 

Sampai saat ini, masyarakat adat Ammatoa Kajang masih terus berjuang mengeluarkan tanah mereka dari belenggu HGU PT. LONSUM.

Selain itu, SK No.111/1997 yang digunakan PT. Lonsum, sampai hari ini sama sekali tidak mimiliki izin pemanfaatan ruang, izin usaha perkebunan, izin lingkungan,
dan beberapa izin. Sementara izin tersebut merupakan prinsip yang harus dimiliki oleh perusahaan perkebunan.

Atas dasar itu, perjuangan atas tanah ulayat yang dilakukan oleh masyarakat Adat Ammatoa Kajang terus mengalami peningkatan.

Pada tanggal 24 September 2018, masyarakat Adat Ammatoa Kajang menggarap sebagian lahan di
lokasi Bontoa, Bonto Mangiring, dan Tamatto. pada perkembangannya, lokasi Bontoa yang digarap dan ditanami jagung oleh masyarakat kembali dirampas.

Perampasan itu terjadi pada hari Kamis, 17/01/2019. Lahan mereka kembali ditanami karet oleh PT.Lonsum. Selain merusak,  PT. LONSUM juga merusak 12 rumah kebun milik masyakat Adat Ammatoa Kajang. Hal serupa juga terjadi di lokasi Bonto Mangiring. Lahan yang telah ditanami jagung oleh masyarakat, belakangan ini kembali ditanami karet oleh PT.LONSUM. 

Selanjutnya PT. LONSUM kembali berencana memaksakan penanaman karet berdasarkan Surat yang dikeluarkan oleh SPSI PT.LONSUM pada tanggal 08 Februari 2019 No.026/PIE/INT/II/2019. 

Surat tersebut memerintahkan secara paksa kepada seluruh pekerja agar
melakukan penanaman di lokasi Tamatto pada senin, 11/02/2019 yang saat ini sedang digarap oleh masyarakat Adat Kajang, dengan ancaman kehilangan pekerjaan (PHK) jika tidak melakukan
penanaman. 

Hal tersebut dinilai bahwa PT.Lonsum sengaja mengeluarkan surat perintah untuk membenturkan masyakat adat dengan pekerja. 

Padahal titik dan lokasi yang telah di-Land Clearing (LC), di luar dari lokasi yang sedang digarap, ditanami jagung, dan mendirikan rumah-rumah kebun oleh masyakat Adat Ammatoa Kajang masih sangat luas.

Atas dasar tersebut, kami dari Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Sul-Sel menyatakan sikap:

1. Batalkan Upaya Mobilasi Buruh ke lokasi Tamatto yang sementara ditanamami jagung oleh masyarakat Adat Ammatoa Kajang oleh PT.LONSUM.

2. Mengecam tindakan ancaman PHK oleh manajemen PT.LONSUM terhadap buruh jika tidak melakukan penanam di lokasi Tamatto.

Demikian peryataan sikap ini kami buat dan sebarluaskan.

Makassar, 10 Februari 2019 

Ketua, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Sulsel, Faisal.
 

Penulis : Redaksi

Editor : Fritz Wongkar