Menuju Kota Dunia, Makassar Harusnya Terapkan Society 5.0. Bukan Society 4.0

Menelaah Rencana Pemkot Makassar Menerapkan Industry 4.0

Menuju Kota Dunia, Makassar Harusnya Terapkan Society 5.0. Bukan Society 4.0
Transformasi Masyarakat Modern dari Society 4.0 menuju Society 5.0

KabarMakassar.com -- Maret 2017 Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengumumkan akan segera menerapkan "Society 5.0" untuk membantu mendorong masyarakat menggunakan teknologi untuk membantu kebutuhan sehari hari. Pengumuman itu di sampaikan pada CeBIT expo in Hannover, Germany. Menurut Shinzo Abe "Society 5.0" adalah proyek nasional untuk merealisasikan masa depan dimana manusia hidup dengan mengoptimalkan inovasi teknologi seperti IoT, AI, robots, dan Big Data.

Jepang memang masih baru di Industry 4.0 dimana kegiatan industri didigitalisasi mulai tahun 2015. Tapi belum tuntas dengan hal itu, Pemerintahnya mendorong penerapan Society 5.0. 

Mengapa Makassar harus merujuk pada Negara Maju seperti Jepang. Sebelum itu, mari kita bahas Fundamental Society 5.0. 

Society 5.0 Satu definisi: "Masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial dengan sistem terintegrasi dengan ruang internet dan ruang fisik. 

Society 5.0 diusulkan dan digalakkan di Jepang sebagai Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5 sebagai masyarakat masa depan. Masyarakat yang lebih maju dibanding fase peradaban sebelumnya,  mengikuti masyarakat berburu (Society 1.0), masyarakat pertanian (Society  2.0), masyarakat industri (Society  3.0), dan masyarakat informasi (Society  4.0).

Mengapa Society  5.0
Dalam masyarakat informasi (Society  4.0), berbagi pengetahuan dan informasi lintas bagian tidak cukup. Karena hanya menjadi sumber informasi dan belum diwujudkan dalam bentuk tindakan yang solutif. Bahkan Society 4.0 dimanfaatkan sebagai ruang yang buruk untuk menyampaikan informasi tidak bermutu seperti HOAX atau missinformasi. 

Reformasi sosial dalam Society  5.0 adalah loncatan yang lebih besar dibanding Society  4.0. Karena masyarakat memanfaatkan teknologi informasi sebagai aalat memecahkan masalah seperti masalah kesehatan, transportasi, keamanan, pertanian dan lain sebagainya. 

Apa Keunggulan Society  5.0
Society  5.0 mencapai tingkat konvergensi lebih tinggi dengan memanfaatkan ruang internet dan kolaborasi dunia nyata. Dalam Society  4.0 orang hanya akan mengakses layanan cloud (basis data) di internet dengan cara mencari, mengambil, dan menganalisis informasi atau data. Dari referensi yang tersaji, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan memutuskan tindakan. 

Sementara di Society  5.0 sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik direkam untuk disimpan kedalam sistem data berkapasitas besar melalui maringan internet. Data seluruh data tersebut,  dianalisis dengan kecerdasan buatan (AI), dan hasil analisis diberikan kepada manusia dalam ruang fisik. 

Singkatnya, Society  4.0 data di dunia internet di analisa oleh manusia untuk manusia. Sementara Society  5.0 bekerja dengan kecerdasarn buatan, dimana Data dikumpulkan dari manusia dan digunakan untuk kepentingan menyelesaikan masalah manusia. 

Di Jepang, penerapan Society  5.0 dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah : 

  1. Transportasi dan distribusi
  2. Kesehatan
  3. Manufaktur
  4. Pengolahan Pertanian
  5. Stock Makanan
  6. Pencegahan Bencana, dan
  7. Ketersediaan Energi 

Sejalan dengan kondisi tersebut, idealnya Makassar juga menerapkan Society  5.0 seperti yang terjadi di Jepang. Agar pemanfaatan teknologi di Makassar menggunakan internet, tidak sebatas pada pengumpulan informasi. 

Apalagi Pemerintah Kota Makassar mengaku telah memiliki teknologi Cloud Computing, yang telah diluncurkan sejalan dengan peluncuran program Makassar Sombere Smart City.

Menurut Mahasiswa Kiki Katily Fakultas Perencanaan Tata Ruang dan Wilayah UIN Makassar dalam tulisannya berjudul 10 Problem on Makassar City yang dikutip dari Academia Edu, mengidentifikasi ada sekitar 10 masalah yang terjadi di Kota Makassar dan belum bisa diselesaikan sampai saat ini. Diantaranya : 

  1. Parkir Liar.
  2. Jalan Rusak.
  3. Sanitasi Perumahan.
  4. Vandalisme.
  5. Tuna Wisma dan Anak Jalaan.
  6. Penattaan ruang Ruko dan Pedagang Kaki Lima.
  7. Air Bersih.
  8. Kebersihan Pasar.

Belum lagi masalah angka Harapan hidup kota Makassar yang menurut data ipm.bps.go.id mencatat diangka 71 tahun. Masalah Ini hampir sejalan dengan yang terjadi di Jepang, apalagi luas wilayah jepang dengan tingkat pupulasi tinggi hampir mirip dengan kota Makassar.  

Dikutip dari laman https://www.japan.go.jp. Dalam publikasi strategi mewujudkan Society  5.0, Jepang mencatat ada 5 isu utama yang akan dilakukan, dan hampir mirip dengan situasi kota Makassar. 

Isu pertama yakni menyelesaikan masalah menurutnya Jumlah Harapan Hidup Masyarakat. Solusi yang ditempuh dengan Society  5.0 adalah seluruh data kesehatan masyarakat di simpan dalam satu pusat data besar untuk dianlisis oleh kecerdasan buatan, kemudian ditindak lanjuti melalui program preventif kesehatan. 

Isu kedua yakni, Distribusi barang yang lambat akibat sistem transportasi yang padat dan tidak disertai dengan infrastuktur jalan yang ideal. Solusi yang ditempuh dengan Society  5.0 adalah dengan menerapkan sistem transportasi barang secara kolektif dan memanfaatkan teknologi Quad Copter/Drone sebagai alterntif sarana distribusi barang.

Isu Ketiga yakni, Tingginya dan cepatnya kerusakan infrastuktur publik yang dapat berpotensi memperlambat kegiatan ekonomi masyarakat.  Solusi yang ditempuh dengan Society  5.0 adalah memanfaatkan Sensor dan robots untuk menginesepksi sarana infrastkutur dan sanitasi yang rusak. Dan menggunakan Artifical Intellegence untuk mengidentifikasi, mana infrastuktur dasar yang prioritas diperbaiki dengan merujuk pada aktivitas ekonomi masyarakat pengguna sarana prasarana.

Isu Keempat adalah Penggunaan uang Cash memperlambat perputaran ekonomi karena proses transaksi harus melalui bank dan segala prosedur ketatanya. Solusi yang ditempuh dengan Society  5.0 adalah menerapkan teknologi Fintech di tingkat ritel, memanfaatkan blockchain technology seperti Bitcoin dan mengkampanyekan penggunaan uang cash.

Itulah mengapa sangat disayangkan jika Makassar tidak menerapkan dan mengimplementasikan Society  5.0 seperti di Jepang. Karena masalah yang dihadapi kedua belah pihak hampir sama.  

Selasa, 29 Januari 2019 Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto mengklaim pihaknya mampu menerapkan revolusi industri 4.0 (four point zero) di Kota Daeng.  Menurut Danny, Kota Makassar sangat siap untuk menerapkan industri generasi keempat ini. Pasalnya saat ini kota yang pimpinnya itu telah memiliki dasar big data.

Kota Makassar juga sudah memiliki konsep yang dibutuhkan untuk menerapkan revolusi industri 4.0, mulai dari open data hingga sistem dan teknologi kesehatan yang telah diakui di mancanegara.

Benarkah ? Apa sebenarnya substansi dan Fundamental  Industry 4.0 seperti yang direncanakan Pemerintah Kota Makassar. 

Industri 4.0 adalah automasi teknologi di mana mesin  dapat mengatur diri mereka sendiri dalam banyak hal dengan menggunakan teknologi internet atau “Internet of Thing”. 

Istilah Industry 4.0 awalnya berasal dari German Industrie 4.0  yang diperkenalkan pada Hannover Fair 2011. Di 2012 istilah ini kemudian mulai menghipnotis banyak industri di dunia untuk ikut mengimplentasikan  istilah industri 4.0 dengan maksud mengoptimalkan kinerja bisnis dan mengifisensi biaya operasional pubrik. Menurut Perusahaan Konsultan Amerika Serikat, Global Electronic Services, Beberapa contoh implementasi Revolusi industri 4.0 adalah :

  • Cyber-Physical System ; mesin beroperasi berdasarkan alogoritma komputer. 
  • The Internet of Things ;  seluruh jaringan hasil produksi saling terkoneksi satu sama lain untuk mengidentifikasi kualitas hasil produksi.
  • Cloud Computing ;  Jaringan komputer dan data di simpan dalam satu pusat data terintegrasi. 
  • Cognitive Computing ; Platform teknologi yang merujuk pada kecerdasan buatan.   

Sejak saat itu  implementasi dari Industri 4.0 kemudian merambah seluruh sektor dengan istilahnya masing masing, seperti Smart Home, Smart Building, Smart School, Smart Campus dan implementasi terbesar adalah  Smart City. 

Meski kelihatan keren, tape sebenarnya Indonesia jauh tertinggal dari negara negara maju. Indonesia beru merencankaan implementasi revolusi industri 4.0 di 2017. Bersamaan degan negara  Asia  Tenggara lainnya superti Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Filiphina.  Menurut data A.T. Kearney  sebuah perusahan konsultan global yang bergerak dibidang management, mencatat bahwa negara negara di Asia Tenggara saat ini masih dalam tahapan perencanaan menuju Revolusi Industri 4.0. Namun mereka telah saling berkolaborasi pengan negara negara maju yang lebih dulu menerapkan revolusi industri 4.0 seperti german, turki dan jepang. 

Lantas apakah Makassar dapat lebih dulu menerapkan Revolusi Industri 4.0, jauh melampaui rencana pemerintah pusat ? 

Sejauh ini Kota Makassar masih berupaya keras mengimplementasikan Revolusi Industri 4.0 melalui program Smart City. Ini sejalan dengan pendapat Michal Lom peneliti Faculty of Transportation Sciences, CTU Prague, Czech Republic  dalam Jurnalnya Industry 4.0 as a Part of Smart Cities.

Dalam penelitiannya dituliskan bahwa Aspek penting dari Industri 4.0 adalah Internet of Services (IoS) digunakan untuk mendukung kegiatan transportasi, logistik, kebijakan ekonomi untuk mendukung dunia usaha, dunia kesehatan dan pendidikan. Serta implementasi Internet Energi (IoE) yang digunakan untuk mengontrol penggunaan sumber daya alam untuk kebutuhan masyarakat seperti listrik dan air. 

Di bawah Pemerintah Kota Makassar, proyek smart city di Makassar dimulai dengan istilah lokal, Sombere. Secara harfiah, kata itu berarti ‘baik hati dan terbuka’, tetapi itu juga merujuk pada “pelayanan yang baik, persaudaraan yang erat, dan semangat yang besar’.

Kata ini diletakkan sebelum kata ‘smart city’ untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lokal yang memainkan peran besar dalam konsep smart city. Sejumlah proyek yang sejalan dengan program smart city telah dibuat dan berjalan hingga kini. Semuanya dijalankan dengan semangat Sombere. Pemerintah percaya bahwa teknologi harus berjalan selaras dengan identitas warga lokal.

Pemerintah kota memulai dari masalah paling krusial di masyarakat: kesehatan publik dan pelayanannya. Mereka menyiapkan layanan kesehatan publik dengan sentuhan manusia. Pertama, pemerintah menyediakan Makassar Smart Card yang merupakan hasil kolaborasi dengan program CSR bank, dan diperuntukkan bagi masyarakat. Kartu debit itu juga merekam data warga, termasuk rekam medis mereka. Kartu tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan layanan kesehatan termasuk layanan kesehatan baru: Home Care.

Home Care merupakan fasilitas kesehatan dalam mobil yang beroperasi selama 24 jam dan berpindah-pindah. Seperti halnya ambulans, Home Care dengan dokter akan datang ke rumah warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan lanjutan seperti USG dan EKG dapat dilakukan di Home Care, kemudian datanya akan dikirim secara daring ke dokter spesialis dan hasilnya akan dikirim secara daring juga.

Hal itu terdengar meyakinkan, tetapi masyarakat lokal bisa saja tidak sadar terhadap keberadaan 48 mobil Home Care yang disediakan untuk mereka dan bagaimana cara kerjanya. Mobil itu kemudian diberi nama Dottoro’ta, yang dalam bahasa lokal berarti “Dokter Kita”. Bahasa lokal ini digunakan untuk membuat masyarakat familiar dan menciptakan lebih banyak sentuhan manusia pada fasilitas tersebut.

Secara garis besar, proyek Sombere & Smart City Makassar terdiri dari enam modul, yaitu: Smart governance, untuk mengoptimalkan pelayanan publik dari pemerintah kota; Smart branding, untuk meningkatkan kesadaran terhadap karakter kota, terutama untuk pariwisata; Smart economy, untuk membangun ekosistem yang baik dan mendorong less cash society; Smart living, untuk menciptakan kehidupan yang nyaman dan meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan; Smart society, untuk membangun masyarakat yang interaktif dan humanis; Smart environment, untuk mengurangi dan memanfaatkan sampah serta menciptakan sumber energi yang lebih baik.

Dalam tiga tahun terakhir, ada beberapa proyek yang telah selesai atau masih berjalan seiring komitmen pemerintah kota untuk membangun Sombere & Smart City Makassar. Semuanya dirancang untuk bisa sedekat mungkin dengan masyarakat. Untuk membuat orang-orang merasa dan menyadari bahwa smart city adalah bagian dari kehidupan mereka, sehingga menciptakan kehidupan berkelanjutan bagi para warga.

Sebut saja Dongkel (Dongeng Keliling), menghadirkan pendongeng dan perpustakaan bergerak di sekolah atau komunitas, untuk meningkatkan minat baca. Selain itu ada pula Jagai Anakta, yang dalam bahasa lokal berarti ‘Lindungi anak kita’, sebuah program yang memberikan kondisi dan fasilitas terbaik bagi anak-anak.

Ada pula Aparong (Apartemen Lorong), bangunan dengan harga terjangkau dan apartemen minimalis bagi masyarakat dengan pendapatan rendah di area padat populasi; Sentra Kaki5ta, area-area khusus yang diatur dengan baik untuk pedagang kaki lima; dan Bank Sampah, sebagai bagian manajemen sampah di Kota Makassar.

Program Bank Sampah telah memberikan hasil signifikan dalam lingkungan berkelanjutan. Ada 1000 unit Bank Sampah dengan 50.000 penduduk yang berpartisipasi di sana. Kesadaran masyarakat terhadap daur ulang dan manajemen sampah juga meningkat dan mendukung Masyarakat untuk mendapatkan penghargaan di ASEAN Environment Day 2017, dalam Clean Land Category. Saat ini, Bank Sampah juga beroperasi untuk membuat biogas sebagai energy alternative dan membuat program barter, seperti menukar sampah dengan beras. Seperti yang kita tahu, beras merupakan makanan pokok di Indonesia dan program ini memicu masyarakat untuk lebih aktif dalam manajemen sampah.

Di Kota Makassar sendiri ada 10 program yang terkait dengan Smart City. Yakni :

  1. War Room ; 
  2. Studen Smart Card ; 
  3. Bank Sampah ; 
  4. Pantauan keamanan berbasis drone ; 
  5. Laporan Ketua Rt RW melalui aplikasi Whats App ;
  6. Makassar F8 ;
  7. Home Care Telemedicine ;
  8. TPA Bintang Lima ;
  9. Lorong Garden ;
  10. Pete-Pete Smart ;

Tapi apakah 10 program Smart City tersebut benar benar mampu memecahkan masalah pembangunan di Kota Makassar ?

Penulis : Slamet Wiryawan

Editor : Fritz Wongkar