Kisah Ibu Hadoriah Penjahit Sendal Hias Asal Pangkep

Kisah Ibu Hadoriah Penjahit Sendal Hias Asal Pangkep
Hadoriah (40 Tahun) warga asal pangkep berjuang untuk 8 anaknya menjahit sendal hias, Senin (28/1).

KabarMakassar.com -- Hidup di bawah garis kemiskinan tak membuat semangat seorang ibu dan ayah di Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan surut dalam menghidupi dan membesarkan delapan orang anaknya. Ibu itu bernama Hadoria (40). Ibu Hadoria tinggal bersama suami M.Agus dan kedelapan anak-anaknya. Sehari-hari ia harus banting tulang membuat jahitan kain, dan kerap kali membuat kerajinan sendal hias sebagai produk kelompok KUBE PKH Dodoro di Kecamatan Minasetene.

Namun, pasangan Hadoria dan M.Agus memiliki tekad menyekolahkan hingga anaknya bekerja. Hadoria bukan seorang ibu rumah tangga biasa seperti ibu rumah tangga lainnya di kabupaten Pangkep. 

Anak pertama mereka bernama Ansar (24) ia telah menyelesaikan bangku sekolahnya, dan telah bekerja sebagai ojek online di kota Makassar dan adiknya bernama Tenriani (22) bekerja sebagai buruh di kawasan industri Makassar,  Agustina (20) masih duduk di bangku SMKN 3 Pangkep Kelas 3 dan adiknya Tiarawati (17 tuna rungu wicara) hanya membantu ibu nya menjahit sendal hias, sedangkan, Fitriani (16) SMPN 1 Minasatene, Farhan (10) SD 17 Langnga -langnga dan Ismail (6) masih di bangku PAUD, serta Magfira berusia dua tahun.

Hadoria hanyalah seorang ibu rumah tangga dan penjahit sendal hias. Sedangkan suaminya bernama M.Agus sebagai pedagang Es keliling pelosok Kampung di Pangkep. Di Langoting itu Hadoria tercatat sebagai warga meskin di Pangkep. Ia sebagai penerima bantuan sosial beras sejahtera (Rastra). 

Mereka tinggal di sebuah rumah berukuran 3x4 meter berdinding anyaman, Seng dan atap seng. Mereka tinggal di daerah Langoting, jalan Kelapa, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. 

Hadoria kerja sebagai buruh jahit, dan kerap kali membuat kerajinan sendal hias sebagai produk kelompok KUBE PKH Dodoro. Diantara ibu-ibu lainnya di Lantonging itu seorang penyabar, jarang terdengar berkeluh kesah seperti ibu rumah tangga lainnya di Pangkep. Meski ia hidup penuh keterbatasan. 

Ia juga seorang ibu yang aktif dan menjadi anggota Kelompok KUBE PKH Dodoro. Hadoria mengungkapkan bahwa dirinya berjuang penuh membiayai anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikannya meski ia kebutuhan hidupnya jauh dari cukup. 

"Cukuplah kami berdua sebagai orang tua, hidup kami seperti ini (penuh keterbatasan). Anak-anak kami harus bersekolah tinggi-tinggi karena pendidikan investasi yang tidak ternilai harganya," kata Hadoria, Senin (28/1).

Hadoria mengungkap bahwa jika sabar dan berdoa dan berusaha pasti ada jalannya yang diberikan oleh-Nya. Itulah yang membuat hati Hadoria tegar menghadapi tantangan hidup yang ia alami.
 

Penulis : Saharuddin

Editor : Fritz Wongkar