Harga Tiket Melambung, Pengelola MICE Meradang

OPINI

Harga Tiket Melambung, Pengelola MICE Meradang
Foto: Kamaruddin Azis

KabarMakassar.com -- Di Jakarta, ekonom INDEF Faisal Basri meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk memeriksa praktik bisnis penerbangan komersial. Itu didasarkan pada indikasi model ‘kartel terbatas’ setelah maskapai penerbangan tertentu menaikkan harga tiket pesawat.  

Dugaan itu menguat manakala maskapai penerbangan terjadwal semakin berkurang. Hal yang disebut oleh Faisal berpotensi penyatuan harga karena ada beberapa yang setali tiga uang.

Di Sulawesi Selatan, melambungnya harga tiket membuat operator beragam fungsi ‘Meeting, Incentive, Convention and Exhibition’ MICE meradang. 

Beberapa operator termasuk pengelola destinasi wista potensial seperti Selayar, Wakatobi, Pangkep, yang selama ini berbenah untuk dikunjungi seperti tertimpa tangga. 

“Bukan lagi tangga tapi tertimpa mobil truk,” seru Anggiat Sinaga, Ketua Dewan Pengurus Perhimpunn Hotel dan Restorn Indonesia (PHRI).

Anggiat mengungkapkan situasi dilematis itu di tengah konferensi pers empat asosiasi kepariwisataan Sulsel yang merasakan konsekuensi pahit setelah kebijakan maskapai di Indonesia yang menaikkan tarif angkutan udara di awal tahun ini secara sepihak.

Selain keduanya, hadir pula Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Sulsel, Suhardi, Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Sulsel Junaidi Salam serta perwakilan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sulsel Edy.

"Harga tiket domestik lebih mahal dari luar negeri seperti Kuala Lumpur dan Singapura," sebut Anggiat.  Hal yang menurutnya membuat ceruk wisatawan domestik berlabuh ke luar negeri, devisa negara pun merosot.

“Bayangkan, hotel di Sulsel fokus MICE, 90 persen pelanggan dari luar Sulsel. 60 persen di antaranya dari Jakarta, lalu Surabaya," ungkapnya.

Konsekuensinya, kata Anggiat adalah ceruk pasar opertor akan berpikir dua kali karena pengeluaran mereka bertambah. Ini diperkuat oleh pihk ASITA yang menyatakan bahwa sekitar 40 persen ceruk pasar awal tahun ini anjlok.

"Kami bahkan tidak menjual paket domestik, kami merencanakan paket ke luar negeri. Bayangkan paket tur Bali yang tadinya 2,2 juta kini naik 3,3 juta,” kata Edy dari ASITA Sulsel.

Edy juga menilai adanya upaya merger yang berpotensi menjadi kartel sebagaimana disangkakan Faisal Basri di atas.

Konferensi ini digelar sebagai wujud kegelisahan mereka sebagai pelaku usaha. Sekaligus sebagai bagian dari upaya mendorong pelibatan lima pilar Pentahelix Sulawesi Selatan. 

Sekretaris unit pelaksana BPPD Sulsel yang juga blogger Kelautan, Kamaruddin Azis yang didaulat Anggiat untuk memberikan pandangan, menyebut ada kesan sepihak dan terburu-buru.

“Ada kesan sepihak, padahal ada banyak pihak yang seharusnya dimintai pendapat seperti Pemerintah Daerah, unsur media, perguruan tinggi dan masyarakat luas,” katanya.

Dia juga mempertanyakan dasar keputusan ini, hal yang kontradiktif dengan inisiatif yang telah ditempuh oleh Pemerintah Daerah dalam mengembangkan daerah seperti destinasi wisata. 

“Naiknya harga tiket ini pasti akan berdampak pada seat penerbangan dan kunjungan wisata ke Selayar, Luwu, Pangkep, bahkan seperti Wakatobi,” katanya.

“Karena ini berkaitan kebijakan, operator, Pemerintah Pusat seharusnya melibatkan unsur-unsur yang selama ini menjadi bagian dari industri kepariwisataan seperti Pentahelix, ada swasta, perguruan tinggi, media dan masyarakat,” tambahnya. 

Di ujung acara, Anggiat Sinaga menyebut bahwa karena mahalnya tiket pesawat itu, sudah banyak Sales Manager di Jawa yang  merekalkulasi untuk membuat event di Makassar. 

Di tempat terpisah, pengelola wisata Sunari Beach Resort di Selayar, Gede Eka Putra menyebut tidak setuju dengan adanya kenaikan harga tiket pesawat tersebut.

“Dampaknya akan ada. Saat ini, kita ada tamu arrival 5 orang, terpaksa naik fery, meski demikian secara umum belum menyebut secara gamblang karena memang lagi low season, pengaruh ombak dan musim,” katanya.

“Kenaikan harga tiket yang tinggi pasti akan berdampak.” katanya.

Sementara itu, anggota DPRD Sulawesi Selatan yang selama ini intens mempromosikan keunggulan pariwisata Sulawesi Selatan, Andi Januar Jaury Dharwis tidak mau berspekulasi lebih jauh terkait melambungnya harga tiket itu. 

“Alasannya bisa banyak hal, bisa saja berkaitan pengurangan beban maskapai, tetapi poin kita adalah bagaimana meminta Pemerintah lebih peduli, lalu operator mengutamakan standar pelayanan dan keselamatan penumpang,” tutupnya.

Penulis :

Editor : Redaksi