Memimpikan Selayar, Pesona Kekayaan Tepermanai

Memimpikan Selayar, Pesona Kekayaan Tepermanai
Kamaruddin Azis

OPINI -- Kedatangan pertama kali ke Taka Bonerate tahun 1995 bukan serba kebetulan. Di kampung halaman di Galesong, Takalar, adalah cerita pelayar dan pedagang hasil laut setempat yang acap ke Pulau Latondu, Rajuni hingga Pasitallu dan saya dengar. Nun lampau, ketika saya masih kanak-kanak.

Mereka, para pelaut pengguna balolang layar hingga belakangan jolor itu adalah pencari teripang, pemancing ikan merah (juku eja) dan pemindang ikan (palluce’la). Keberadaan mereka masih saya lihat di ujung selatan Pulau Rajuni Kecil di tahun 90-an. Selayar, Laut Flores, Taka Bonerate ada pemikat ikhtiar banyak orang. 

Tapi Taka Bonerate hanyalah salah satu khazanah Selayar. Kabupaten di ujung selatan Sulawesi itu memboyong 120-an pulau, besar dan kecil. Sebutlah Kayuadi, Jampea, Bonerate hingga Kakabia di timur. 

Ada banyak pulau yang eksotik, rahasia dan menggiurkan jika menggunakan kacamata ekonomi kemaritiman.  

Taka Bonerate adalah pengecualian, setidaknya untuk saya yang sejak tahun 1995 itu masih tetap ke sana. Terakhir kali ke sana di musim timur yang hebat di bulan Mei 2018 bersama tim Yayasan Biorock Pemuteran Bali.  

Taka Bonerate pengecualian karena punya tidak kurang 21 pulau, jalinan atol pulau karang. Memanjang ke atas, berundak dan mengerucut sebagai anak-anak pulau pasir yang menawarkan aneka ragam terumbu karang dan ekosistem lamun hingga laut dalam.

Ada tidak kurang 220 ribu hektar luasnya dan merupakan atol ketiga terbesar dunia setelah Kwajifein dan Suvadiva, wahana yang bagus untuk menggenapkan kehidupan, pada bentang pantai dan lautan yang menawarkan beragam hasilnya, juga menawarkan mimpi perubahan atas nama pembangunan.

Saat saya ke sana pertama kali, penduduknya tak lebih 5 ribu orang tersebar dari Latondu di utara hingga Pasitallu di selatan. Saya dengar sekarang sudah mencapai 7 ribuan. 

Jika dulu warga harus ke Jampea atau ke Bonerate mengurus administrasi kecamatan, sekarang sudah ada Kecamatan Tak Bonerate dengan pusatnya di Kayuadi. Akses sudah semakin terbuka. 

Jika dulu, kita harus menunggu sore berkirim kabar ke Kota Benteng, menggunakan Single Side Band, sekarang jaringan komunikasi telepon kian lancar saja.  

Kapal tumpangan pun semakin banyak, tak lagi harus menghabiskan 3-4 hari di Rajuni menunggu kapal barang berangkat ke Makassar atau Benteng.

Terkait pengembangan potensi kelautan dan perikanan itu, saya ingat persis di tahun 2003, saat pamit ke Bupati H. Akib Patta, pada suatu sore di halaman belakang rumah jabatan seusai main tenis. 

Waktu itu dia rekomendasi untuk saya ikut Integrated Coastal Resources Management Course di Bremen, Jerman - meski urung karena alasan kesehatan. 

“Kalau pulang nanti mau bantu apa Selayar?”

Bupati yang dicintai warga Tana Doang karena kesederhanaan dan kecerdasannya itu, saya jawab dengan cepat. 

“Berharap menjadi bagian dalam pengembangan pariwisata Selayar. Yang kedua, berharap dapat mendorong beridirnya Pusat Studi Kelautan megah di Taka Bonerate.” 

Saya juga ingat persis saat beliau menggoda dengan pertanyaan di luar dugaan. “Kau tidak mau jadi PNS di Selayar?” katanya saat itu.

Merawat mimpi

Sebagai lulusan Ilmu dan Teknologi Kelautan, dan meriset kima (giant clam) di antara April-Juni 1995, saya lumayan paham bahwa potensi kelautan dan perikanan Selayar terutama dari Laut Flores, lautan dimana ada Taka Bonerate, Jampea, Kayu, Bonerate hingga Pulau Madu, sungguh sangatlah besar.

Tahun itu, nelayan – saya ingat pemuda Asafe dan Kades Haji Syahring – bisa  dapat ikan tuna hingga ukuran sekitar 60 kilogram di sisi barat Pulau Jinato, saat kami pasang rumpon. Lola, teripang, kima, kerapu, Napoleon, hingga gurita merupakan kekayaan tepermanai, tak terbilang, tak hingga.

Sungguh, sangat kaya. Tahun-tahun dimana saya tinggal di Taka Bonerate, saya merekam betapa banyaknya pendatang ke sana demi penyu meski illegal, demi gurita, demi cakalang hingga tuna. Ada yang dari Bali, Sinjai, Takalar hingga Madura bahkan dari Palue’ di selatan.

Akib Patta selalu bilang dan saya selalu ingat itu, karena saya intens bertemu dengannya saat saya jadi Capacity Building Mediator Deputy for Community Liaison COREMAP fase I di Selayar. 

Kala itu saya satu tim dengan senior Mappinawang di level Sulsel. Mappi di Makassar, saya di Selayar, bagi tugas. 

“Kita ini punya keunggulan kompetitif. Ini yang harusnya jadi penggerak (prime mover) inisiatif pembangunan Selayar,” kurang lebih begitu penegasan Akib. 

Saya beberapa kali ikut dengannya, di atas mobil Pajeronya, semisal ke Buki, ke Parak, saat acara Maulid atau keagamaan. Seperti om Akib, saya juga optimis membaca Selayar.  Pada ruang dan waktu, saya masih yakin bahwa sumberdaya alam, hutan, tanah, pesisir dan laut adalah kekayaan yang luar biasa dahsyat. Di sana, fondasinya pun sudah ada. 

Apa itu? Nilai kegotongroyongan, norma adat istiadat hingga kelembagaan yang terus menerus berbenah. 

Pengalaman menjajal dan tinggal di Pulau Jinato (1995), lalu Rajuni Kecil dan Besar,Tarupa, (1997-1999) dan beberapa kali ikut Taka Bonerate Islands Expedition masih membekas, bahwa kekuatan dan peluang itu ada. Pengetahuan, keterampailan para ASN, organisasi wisata atau pemanfaat perikanan juga semakin kuat apalagi Selayar adalah daerah terbuka. 

Yang masih perlu didorong adalah berbagi peran, tugas dan bahu membahu menciptakan peluang. Ini yang saya sebut ‘to create opportunity’. 

Suatu keadaan yang terus menerus menjadi mimpi diri, melihat ke dalam, ‘siapa saya dan apa yang saya bisa kontribusikan untuk Seayar’. Bertanya, bisakah saya jalan bersama dengan kongsi, mampukah toleran.

Apakah kita bisa tetap optimis, menghasilkan kreasi ketimbang reaktif pada gagasan perubahan mungkin saja sedang beranak pinak dari Pemerintah dari proyek, dari program dari KEK. Atau bisakah kita membaur dengan organisasi masyarakat sipil, operator wisata, penangkap ikan, pedagang ikan hingga investor. 

Lalu bagaimana konkretnya?  

Sederhananya, pengambil kebijakan memberi arahan, prinsip dan pemihakan lalu memayungi melalui regulasi dan kebijakan berbasis UU atau hukum. Lalu perencana OPD, fasilitator pembangunan masyarakat menyiapkan rencana aksi bersama pihak swasta atau perguruan tinggi dengan melibatkan organisasi masyarakat sipil, komunitas, warga. 

Nah kalau mau fokus ke isu kelautan dan perikanan, atau pariwisata, bisa bergerak simultan, Pemerintah segera fokus pada program unggulan, tidak perlu besar tapi fokus, tidak perlu berbiaya tinggi tapi mengedukasi semua untuk bertanggungjawab, efiisien dan transparan. 

Di sisi grass root, ajak komunitas, warga, atau yang non-Pemerintah untuk melaju dengan program mereka, Pemerintah hanya memantau dan ikut turun tangan ketika ada isyarat mereka megap-megap.

Nah terkait program unggulan itu, pertanyaan saya, apa sesungguhnya yang sedang disiapkan selama 3 tahun terakhir di Selayar dan itu mewakili harapan ideal di atas. Kalau ada, yang mana? 

Adakah yang seperti Risma di Surabaya yang secara perlahan dan tegas menunjukkan outcomes saban tahun? Atau seperti Nurdin Abdullah di Bantaeng yang memoles Pantai Marina atau Seruni yang luar biasa cetar itu. 

Saya yakin ini akan dapat dijawab oleh simpatisan atau tim Pak Bupati H. Basli Ali sahabat kita itu, tetapi sebelum dijawab, saya ingin meneruskan pertanyaan kedua, sudah berapa wisatawan mancanegara dan domestik tercatat di tiga tahun terakhir. 

Di mana dicatat dan apakah grafiknya menanjak setelah investasi yang luar biasa besar sejak tahun 2000-an awal terkait misalnya Taka Bonerate Islands Expedition. 

Apakah sepadan dengan investasi APBD atau APBN yang sudah digelontorkan sejak lama?

Itu di pariwisata, kalau perihal perikanan, sudah berapa PAD dari sektor perikanan, di mana dicatat ikan masuk,ikan keluar? 

Sugguhkah ada data berapa ikan-ikan kerapu yang telah disetor dan dikuras dai Laut Selayar dan dipasarkan ke Bali, atau Surabaya dari kapal pengirim yang berbasis di Kota Benteng? 

Siapa yang catat dan sudah berapa yang masuk sebagai PAD?.

Jumlahnya pasti luar biasa sebab yang saya ingat dari pengalaman tinggal di Pulau Rajuni Kecil di tahun 90-an adalah, jika ada sekurangnya 5 keramba ikan hidup di pulau itu dan mengirim ikan dua kali sebulan ke luar Taka Bonerate dan harga ikan hidup perkilo 150 ribu, maka nilainya adalah; 5 x 500 kilogram/keramba x Rp 150 ribu x 2 kali pengiriman setiap bulan, jumlahnya 7,5 miliar untuk satu pulau. 

Jadi kalau ada 7 pulau dengan pola yang sama maka ada nlai ekonomi perbulan mencapai 52,5 miliar/bulan! Inilah yang buat saya dan mungkin Akib Patta selalu optimis melihat Selayar.  Itu belum menghitung valuasi pariwisatanya, sebab saya belum punya data kecuali dari Rajuni, itu pun nun lampau. 


OPINI oleh: Kamaruddin Azis

Tamarunang-Gowa, 08/01.

Penulis :

Editor : Fritz Wongkar