Perusda
Bank SUlsel Bar

TAJUK: MULO Sebagai Simbol Kebangkitan PentaHelix Sulsel

1 week, 2 days ago Oleh Hendra N. Arthur
TAJUK: MULO Sebagai Simbol Kebangkitan PentaHelix Sulsel
Ilustrasi by Yusrifar Tula

KabarMakassar.com -- Tak banyak yang tahu sejak kapan gedung ini dibangun. Fakta peninggalan kolonial belanda ini justru selesai dibangun pada 1927 silam.

Bangunan yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 23 Makassar ini. Dulu, dikenal dengan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs yang kini populer dengan istilah Gedung Mulo.

Warisan kolonial ini, konon menjadi sekolah khusus bagi anak pribumi yang orang tuanya mengabdi pada Pemerintahan Belanda. Lulusan sekolah ini telah dipersiapkan memenuhi kebutuhan pegawai Pangreh Praja di masa itu.

Ditengah bangunan moderen di kota Makassar. Gedung tua ini masih berdiri kokoh. Bahkan masih berfungsi menjadi Kantor Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan.

Terlepas fungsinya sebagai kantor pelayanan publik pemerintah daerah. Para tokoh bersama penggiat kepariwisataan Sulsel menangkap makna yang tersembunyi di balik dinding bangunan bergaya arsitektur klasik Eropa itu

Melalui koordinasi Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulawesi Selatan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama stakeholders sepakat menjadikan gedung ini sebagai rumah bersama bagi para pemangku kebijakan di sektor kepariwisataan Sulsel.

Simak Pelaku Kepariwisataan Gagas Rumah Pentahelix Sulsel

Elemen yang dikenal dengan unsur Penta Helix Kepariwisataan Sulsel ini siap berikrar. Menjadikan Mulo sebagai simbol era keemasan kebangkitan kepariwisataan Sulawesi Selatan.

Unsur Penta Helix yang berasal dari kalangan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah hingga penggiat media. Bersepakat menggusung kembali filosofi kebersamaan melalui semangat gotong royong.

Sebagai bentuk kecintaan mereka atas tetesan darah penghabisan para pejuang di  masa lampau. Semangat para pahlawan itu akan terus dijaga melalui pemanfaatan gedung purbakala itu.

Bangunan tempo dulu ini akan menjadi pusat peradaban memasuki era revolusi industri 4.0 ini. Tak ada lagi pandangan sosiolog Karl Mannhein. Karyanya yang terkenal dengan esai berjudul "The Problem of Generation" tak akan terjadi di tanah Sulawesi ini.

Generasi Baby Boomer hingga generasi X dan Y telah menyadari ancaman perubahan zaman. Perlahan-lahan mereka membuka ruang kebebasan berekspresi bagi generasi Z (milenial) dan Alpha.

Lintas generasi ini sepakat akan membangun peradaban baru. Bangunan peninggalan Belanda ini akan menjadi tonggak sejarah kebangkitan era keemasan kepariwisataan Sulsel di masa mendatang.

Generasi yang lahir pada medio 1980 -1999 ini harus bersiap dengan tantangan revolusi industri 4.0. Masa depan industri kepariwisataan Indonesia jelas berada di tangan mereka.

Kesempatan bagi generasi yang terlahir mandiri ini siap menorehkan karya terbaik di tanah kelahiran leluhurnya. (*)