Perusda
Bank SUlsel Bar

Kenali Lebih Dekat Pejuang Gerakan Perempuan di Makassar 

Terbit 10/2/18 Oleh Muhammad Fajar Nur
Kenali Lebih Dekat Pejuang Gerakan Perempuan di Makassar 
Musdalifah Jamal selaku ketua baru Solidaritas Perempuan Anging Mammiri saat ditemui di sekretariat SP AM Jalan Jati No.29, Paropo, Panakkukang, Kota Makassar pada Senin 05/02. [Foto: KabarMakassar.com)

KabarMakassar.com --- Penghujung tahun 1990 terjadi banyak penggusuran dan perampasan di banyak tempat di Indonesia, disusul dengan tindakan kekerasan pada Hak Asasi Manusia (HAM) hingga memunculkan kesadaran di masyarakat akan pentingnya gerakan sosial dalam mencapai keadilan. Diantaranya banyaknya gerakan sosial melawan kasus pelanggaran HAM yang terjadi saat itu, terdapat salah satu gerakan sosial yang muncul dan berfokus pada kasus kekerasan pada perempuan. 

Kelompok Kerja Solidaritas Perempuan (KSP) merupakan salah satu kelompok yang lahir untuk menginvestigasi dan membela kekerasan gender terutama kasus-kasus Pulau Panggung dan Sugapa tahun 1989.

Ditemui langsung di sekretariat Solidaritas Perempuan Anging Mammiri (SP AM) pada Senin, 5 Februari 2018, Musdalifah Jamal selaku ketua baru SP AM yang merupakan Solidaritas Perempuan cabang Kota Makassar mengatakan sejarah Solidaritas Perempuan yang panjang membantu perkembangan organisasi ini semakin membaik dari waktu ke waktu, terkhusus dalam berjuang melawan kekerasan pada perempuan.

Walau awalnya berbentuk yayasan, KSP kemudian berubah menjadi perserikatan sebagai upaya demokrasi dalam tubuh organisasi dengan pemikiran bentuk perserikatan membuka peluang kepada publik untuk ikut memiliki dan mengontrol organisasi.

"Kenapa dulu bentuknya yayasan, karena mereka sangat berhati-hati dalam membela masyarakat pada orde baru," ungkap wanita yang kerap disapa Ifha.

Ifha merupakan Ketua Badan Eksekutif Solidaritas Perempuan Anging Mammiri (SP AM), salah satu cabang Solidaritas Perempuan yang bergerak untuk Sulawesi Selatan dan bersekretariat di Jalan Jati No.29, Paropo, Panakkukang, Kota Makassar.

"Untuk SP AM, Sejarah SP AM sendiri terbentuk pada tahun 2000 di bulan November, yang prakarsai itu almarhuma Zohra Andi Baso, beliau adalah salah satu aktivis perempuan yang telah banyak membantu pergerakan perempuan di Indonesia," jelas Ifha yang baru menjabat sebagai ketua kurang lebih selama dua bulan.

SP AM merupakan organisasi feminis lokal Kota Makassar yang bergerak dan berangkat dari pengalaman dan situasi penindasan/ketidakadilan yang dialami perempuan.

SP AM lebih banyak bergerak di situasi perempuan-perempuan termarjinalkan atau yang termiskinkan oleh sistem yang dilakukan oleh negara maupun para pihak penguasa kapitalisme.

"Kalau namanya kenapa menggunakan Anging mammiri sendiri kan karena itu identitas kota makassar, yah walau anginnya tidak sepoi-sepoi lagi karena ada reklamasi pantai," candanya yang sekaligus juga mengkritik pemerintah yang melakukan Reklamasi pantai yang berakhir mendiskriminasi masyarakat terkhusus perempuan nelayan.

Selayaknya Komunitas Solidaritas Perempuan di Kota lain yang memiliki keunikkan isunya masing-masing, SP AM mengambil empat fokus isu yaitu kedaulatan perempuan melawan perdagangan bebas dan investasi, kedaulatan perempuan atas tanah, perlindungan perempuan buruh migran dan keluarganya, dan kedaultan perempuan atas seksualitas dan penguatan organisasi.

"Kenapa empat isu ini? karena isu ini merupakan isu yang saling beririsan, ketika teman-teman melihat contohnya reklamasi pantai, disana terjadi investasi besar-besaran yang merampas sumber pangan perempuan nelayan akibat pembangunan reklamasi dan saat ini perempuan nelayan tidak bisa mengakses lautnya, yang tadinya aktifitas seharian mereka mencari kerang, sekarang beralih menjadi buruh industri," ungkap Ifha.

Ifha menambahkan Ketika pembangunan terjadi, pembangunan tersebut akan sangat rentan terjadi bersama dengan perampasan tanah.

"Nah ketika itu terjadi, mau tidak mau, siap tidak siap, teman-teman perempuan tani dan nelayan terpaksa menjadi buruh migran karena pengambilan wilayah kerja yang sudah dirampas," tuturnya.

Saat ini perempuan nelayan yang berada di beberapa wilayah Sulawesi Selatan tidak bisa mengakses laut untuk bekerja akibat adanya pergambilan lahan seperti reklamasi pantai dan kerusakan alam akibat pembangungan. Selain berfokus pada dampak investasi dan perdagangan bebas yang menyebabkan diskriminasi terhadap perempuan, SP AM juga berfokus pada kajian dan advokasi isu kedaulatan seksual.

"Kita baru-baru mengadakan penelitian tentang budaya yang mendiskriminasi tubuh perempuan, untuk Sulsel itu kita fokus di sunat perempuan. Dari hasil investigasi kita, sampai saat ini sunat perempuan masih dilakukan dan masih menjadi salah satu budaya orang makassar dan bugis," jelas Ifha.

Pada 2013, Wakil Menteri Kesehatan Ali Qufron Mukti menyatakan bahwa Kementerian Kesehatan telah mencabut Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2010 yang mengatur tentang praktik sunat perempuan yang tidak mempunyai manfaat medis.

"Walau sebenarnya sudah dihapuskan, masyarakat masih kurang memahami bahaya sunat perempuan," tambah Ifha saat menjelaskan adanya bahaya dari budaya Patriarki yang masih kurang disadari oleh masyarakat.

Tujuan dari pergerakan SP AM selain berjuang demi perempuan, SP AM juga memiliki tujuan untuk menghapuskan tindakan diskriminasi berbasis gender yang membatasi kedaulatan manusia.

SP AM sekarang beranggotakan 72 Orang yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras hingga jenis kelamin.

"Laki-laki juga bisa bergabung di Solidaritas Perempuan," tambahnya.

Kehadiran budaya patriarki yang menganggungkan posisi Laki-laki dan mendiskriminasi Perempuan dalam tatanan sosial merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang diperjuangkan oleh SP AM.

Namun, SP AM tidak memberikan standar akan bagaimana perempuan seharusnya berperilaku, SP AM bergerak dalam memperjuangkan kedaulatan manusia dimana definisi daulat yang dimaksudkan adalah jika manusia tersebur dapat berpikir, bergerak dan bisa menghasilkan kebaikan buat diri sendiri dan orang lain serta tidak mengganggu kedaulatan orang lain.