Tiga Bocah di Makassar Diduga Menjadi Korban Penyekapan

Tiga Bocah di Makassar Diduga Menjadi Korban Penyekapan

KabarMakassar.com -- Tiga anak yang diduga menjadi korban penyekapan dan penganiayaan akhirnya berhasil melarikan diri setelah kerap dipukul dan tidak diberi makan oleh orang tua angkatnya sendiri.

AW alias OW (10), FN alias US (5), dan DV (2) berhasil kabur setelah selama ini dalam penguasaan Gensel alias Meymey alias Acci yang menyekap mereka di sebuah rumah toko atau ruko bersama hewan-hewan peliharaan selama berhari-hari di Mirah Seruni, Blok FF, Kelurahan Pandang.

Diketahui, AW sebagai saudara tertua berhasil kabur setelah mencungkil gembok pintu ruko dan kemudian dikejar oleh adiknya FN mengejar yang akhirnya kehilangan jejak setelah terpisah tiga ruko.

Setelah AW dan FN keluar, DV kemudian mengikuti kakaknya hingga pihak kemanan dan masyarakat melihat dan menolong bocah berusia dua tahun itu.

FN yang sempat kembali masuk mengambil tabungan AW yang dikemas dalam tas berwarna pink kemudian diperiksa oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang kemudian diketahui berisi satu pakaian masing-masing saudaranya bersama uang Rp 5.000, tiga lembar uang Rp 2.000, selembar uang Rp 1.000, dan selebihnya uang receh hingga berjumlah Rp 22.000. 

"Uang itu nanti saya akan berikan kepada kakakku setelah ketemu," kata FN berbisik kepada salah seorang petugas P2TP2A.

Dari informasi yang diterima P2TP2A, sebelum berhasil kabur, AW berpesan kepada FN untuk lari kearah yang berbeda agar saat ditangkap salah satu dari mereka dapat tetap kabur.

P2TP2A telah sudah melaporkan kejadian kaburnya tiga anak yang diduga korban penyekapan ke Polsek Panakukang dan berencana akan melapor lebih lanjut ke Polrestabes Makassar hari ini, 17 September 2018.

"Kita dapat informasi dari anak-anak. P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) bukan kewenangan kami (untuk menindak pelaku). Besok (17 September 2018) polisi akan olah TKP, Hasil investigasi kami, ya banyak sekali luka, sekali lagi kami tidak bisa melampaui kerja polisi, iya (luka) sangat keras," kata Ketua P2TP2A Makassar, Tenri A Palallo, di Jalan Angrek, Makassar, Minggu kemarin, 16 September 2018.

Hingga malam tadi, keberadaan Perempuan yang selama ini menguasai ketiga bocah itu masih belum diketahui.

Dari informasi yang dihimpun dari warga sekitar ruko, ketiga anak itu dipenjarakan sebagai pembantu dengan tugas membersihkan kotoran dan memberi makan hewan peliharaan yakni Anjing, Kucing, dan Ular serta pekerjaan rumah lainnya seperti mengepel lantai.

Diketahui Gensel kerap keluar pada pagi hari dan kembali pada malam hari tanpa menegur tetangga setempat.

Pattahari (41) salah satu warga sekitar mengaku melihat ketiga anak itu keluar dari ruko. Namun, adiknya menarik-narik hingga akhirnya AW berhasil melepaskan tarikan.

"Saya berteriak sama sekuriti, tolong ambil itu anak nanti ditabrak. Saya lari dan menggendong anak yang perempuan dan sekuriti menolong anak yang paling kecil," ungkapnya.

Pattahari pun menanyakan alasan kedua anak itu berusaha melarikan diri dan mendapati jawaban keinginan kedua anak tersebut yang sudah tidak tahan berada di ruko milil orang tua angkatnya, Gensel.

Pattahari juga mengaku sebelumnya pernah melihat anak tersebut berteriak di lantai tiga.

"Pernah berteriak melambaikan tangan dan pegang perut. Tapi kami takut, karena banyak barang berharga di dalam. Nanti disangka kita mau mencuri," akunya.

Respons PPPA  Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Pemberlindungan Anak (PPPA) Kota Makassar, Tenri Palallo mengungkapkan kejadian ini merupakan kejadian yang berulang, hanya saat itu DV belum ada. Masih AW dan FN.

Kasus pertama terjadi pada April 2017 lalu. Saat itu di Jalan Veteran. AW dan FN di kurung di salah satu indekos. Anak itu senantiasa menangis.

Saat itu, Gensel juga meninggalkan anak-anak angkatnya di ruko dan dianggap sebagai penyekapan. Setelah Gensel datang, dia mengaku meninggalkan anaknya untuk bekerja sebagai driver online.

Ketika itu, Gensel atau Meymey beralasan mendapat perlakuan kekerasan dari suami. Makanya, PPPA Makassar ikut membelanya. Dia lalu didamaikan dengan suaminya dengan alasan dahulu, jika Meymey mendapat perlakuan kasar dari suaminya, anak angkatnya yang mejadi sasaran.

"Seluruh tubuh anak ini bengkak bekas rokok, pukulan besi. Di kepala juga ada bekas pukulan. Punggung menjadi sasaran. Tangannya sering disudut puntung rokok," papar Tenri.

Kata Tenri, kejadian tahun lalu dan saat ini hampir mirip. Pengakuan FN, DV merupakan anak pembantu.

"DV anaknya mama Sinta yang diadopsi lagi sama Meymey. FN dan DV hingga sekarang belum diketahui siapa orang tuanya," ungkapnya.

Tenri mengatakan, kasus ini bukanlah kejadian biasa-biasa. Ini sudah kejadian berulang dan luar biasa. Kedua anak itu pun akan dilindungi, karena pasti Meymey akan mencari kedua anak tersebut. Satgas PPPA, Ardian Arnold yang menangani kasus Gensel tahun lalu kemudian menjelaskan PPPA meminta untuk menangani AW dan FN. Namun, Gensel menolak. "Saya masih bisa hidupi," kata Ardian menirukan kata-kata Gensel.

Hingga saat ini, dua bocah berada dalam perlindungan P2TP2A Makassar dan sementara kakak pertamanya AW masih dalam proses pencarian.

Penulis :

Editor :