Perusda
Bank SUlsel Bar

Format: Ada Kejanggalan Dalam Penyelidikan Korupsi Toraja

1 bulan lalu Oleh Redaksi
Format: Ada Kejanggalan Dalam Penyelidikan Korupsi Toraja
Format saat melakukan aksi demonstrasi menuntut penyelesaian dugaan kasus-kasus korupsi yang ada di wilayah Toraja di depan Mapolda Sulawesi Selatan pada Rabu, 18 Juli 2018.(Foto: Format)

KabarMakassar.com -- Forum Mahasiswa Toraja (Format) menggelar aksi demonstrasi menuntut penyelesaian dugaan kasus-kasus korupsi yang ada di wilayah Toraja di depan Mapolda Jalan Perintis Kemerdekaan KM.16, Pai, Biring Kanaya, Kota Makassar Sulawesi Selatan pada Rabu, 18 Juli 2018.

Kasus-kasus dugaan korupsi yang disuarakan antara lain Pembebasan Lahan Bandara Buntu Kuni di Kabupaten Tana Toraja yang belum menemui titik terang, dugaan korupsi penataan pembangunan Kawasan Wisata Religi Patung Buntu Burake dan dugaan korupsi TPA Nanggala serta kasus pengadaan baju olahraga di SKPD Tana Toraja yang hingga saat ini belum mendapatkan kejelasan. 

Koordinator Lapangan aksi Faisal menjelaskan penyelesaian kasus yang terkesan lambat hingga tidak ada pergerakan menuai banyak pertanyaan. Pasalnya penyelesaian kasus-kasus dugaan korupsi tersebut bahkan telah mencapai lima tahun dengan investigasi bolak-balik dari polisi ke jaksa.

"Ini tentunya menjadi pertanyaan besar ketika penjelasan penyidik Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) berbeda dengan pernyataan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Ada apa dibalik kasus ini. Jangan sampai kasus ini sengaja dikandangkan oleh Polda dan berdampak kepada ketidakpastian hukum di Bumi Lakipadada," ungkap Faisal.

Faisal bahkan mengatakan pihak BPKP disebut sudah menyerahkan hasil laporan audit Bandara Buntu Kuni’ kepada penyidik.

Faisal juga menyesalkan transparansi penyidikan Polda Sulsel terkait dugaan kasus korupsi Pembebasan Lahan Bandara Buntu Kuni` di kabupaten Tana Toraja yang diduga merugikann keuangan negara hingga puluhan milliar.

Format kemudian menyampaikan hasil temuan mereka yang mengatakan tim 9 pembebasan lahan yang sudah ditersangkakan dan ditahan, kembali dibebaskan/ditangguhkan dengan alasan masa penahanannya habis dan dinilai kooperatif.

"Penyidik Polda juga tidak mampu melengkapi alat bukti hingga kasus yang mulai disidik sejak 2013 ini dikembalikan ke kejaksaan," jelasnya.

Massa Format juga turut mendesak pengusutan kasus dugaan korupsi penataan pembangunan Kawasan Wisata Religi Patung Buntu Burake. Kawasan Wisaya yang terkenal dengan Patung Yesus Memberkati ini kembali menjadi sorotan setelah jembatan kaca yang menghabiskan Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 3.9 M ini retak walau belum dioperasikan untuk publik.

"Mewakili masyarakat Toraja, keadilan dan penegakan supremasi hukum harus ditegakkan di Bumi Lakipadada. Polda sebagai aparat penegak hukum dalam perang melawan koruptor benar-benar konsisten dan serius dan tidak tebang pilih dalam penuntasan kasus-kasus korupsi di Sulsel," pungkasnya.

Jembatan sepanjang 90 meter tersebut kemudian mendapat penjagaan ketat oleh aparat Kepolisian, Tentara, dan Satpol PP guna mengamankan masyarakat serta menunggu proses perbaikan. Namun terlihat belum ada proses perbaikan jembatan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Pamara mengkonfirmasi adanya keretakan yang terjadi di Jembatan kaca yang berada 1.700 meter di atas tanah.

"Ia benar disana ada kaca yang retak satu dan saya sudah perintahkan kontraktornya untuk segera menggantinya dalam waktu dekat," tutur Pamara saat diwawancarai Redaksi KabarMakassar.com pada 9 Juli lalu.